Ini 3 Tradisi yang Hilang Akibat Proyek Bendungan Leuwi Keris Ciamis

Akibat Proyek Bendungan Leuwi Keris
Salah seorang warga menangkap ikan dengan cara ngabubu. Foto: Jujang/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),– Akibat proyek Bendungan Leuwi Keris banyak menggerus tradisi yang ada di Desa Handapherang dan Ciharalang.

Pembangunan mega proyek bendungan Leuwi Keris di Desa Handapherang dan Ciharalang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat sudah dilaksanakan sejak akhir 2016 lalu.

Saat ini, percepatan pembangunan sedang dilaksanakan untuk mencapai target proyek bendungan selesai tahun 2022.

Dibalik megahnya mega proyek tersebut, tersimpan banyak kenangan bagi masyarakat sekitar bendungan.

Kehadiran bendungan Leuwi Keris ini ternyata menggerus tradisi warga menangkap ikan di sungai Citanduy.

Sejak ratusan tahun lalu, warga sekitar sudah secara turun temurun melaksanakan tradisi menangkap ikan dengan cara ngabubu, marak dan ngobeng.

Teknik menangkap ikan tersebut sangat ramah lingkungan, karena tidak menggunakan bahan yang bisa merusak ekosistem di sungai Citanduy.

Ngabubu yaitu teknik menjaring ikan dengan alat yang terbuat dari bambu dengan bentuk bulat memanjang. Biasanya warga memasang bubu pada malam hari, kemudian diambil pagi harinya.

Sementara, tradisi marak (bahasa Sunda) adalah cara warga menangkap ikan dengan membendung sebagian aliran air sungai, biasanya di musim kemarau, ketika airnya mulai kering.

Ikan ditangkap dengan kedua tangan langsung atau istilah Sundanya ngobeng.

Pokoh pemuda Dusun Guha, Desa Handapherang, Dadan Herdiana, mengakui jika saat ini sebagian warga sudah jarang ke Citanduy untuk menangkap ikan.

Pasalnya, beberapa bagian sungai sudah mulai dibangun akses jalan dan alat berat keluar masuk sungai.

Apalagi nanti jika bendungan Leuwi Keris sudah selesai dibangun. Sudah tidak mungkin lagi warga menangkap ikan dengan cara tradisional (ngabubu, ngobeng dan marak).

“Kalau sekarang masih suka ada yang ngobeng, apalagi sekarang musim kemarau, tapi ke depan mungkin tak ada lagi tradisi ngobeng di sungai Citanduy jika bendungan selesai dibangun,” ujarnya kepada HR Online Jumat (16/8/2019).

Marak dan Ngabubu adalah Kearifan Lokal

Tokoh pemuda lainya Anas, mengakui jika tradisi marak dan ngabubu ikan di sungai Citanduy sudah turun temurun.

Marak dan ngabubu kata Anas, merupakan bentuk kearifan lokal warga Handapherang dalam menjaga ekosistem lingkungan Citanduy. 

“Sekarang banyak kan yang menangkap ikan dengan bahan portas dan merusak habitat ikan di sungai. Warga di sini tidak suka cara itu, lebih baik dengan cara yang alami agar tidak merusak lingkungan,” ucapnya.

Sementara itu, Iju (58) warga setempat mengakui sebelum dibangun proyek bendungan Leuwi Keris, dia kerap panen ikan lewat alat bubu yang dia pasang di aliran sungai Citanduy.

Apalagi jika memasuki musim penghujan, dia menyebut hujan membawa berkah bagi ‘tukang naheun bubu’ (tukang menangkap ikan dengan alat bernama bubu) khususnya warga Handapherang dan Ciharalang.

Dulu, kata Iju, dalam satu kali memasang bubu, dia bisa mendapatkan ikan Citanduy hingga 1 kwintal.

“Kalau lagi bagus, dari dua buah bubu yang dipasang bisa dapat ikan mencapai satu kwintal,” ucapnya.

Hasil ikan tangkapannya biasa dia jual eceran kepada tetangganya yang membutuhkan dengan harga Rp 20.000/kg. Kalau mendapat tangkapan yang banyak, ikan dijual juga ke pasar.

“Hasilnya mah lumayan untuk tambah-tambah keperluan dapur, intinya saya bukan hanya karena hobi tapi jadi mata pencaharian juga,” jelasnya.

Apa daya, sejak tiga tahunan lalu, Iju mengaku tak lagi turun ke Citanduy untuk memasang bubu. Alasannya, akibat proyek bendungan Leuwi Keris spot-spot yang biasa ia gunakan untuk memasang bubu, sudah tidak ada.

“Mudah-mudahan nanti kalau jadi bendungan, warga tetap bisa menikmati sungai Citanduy walaupun mendapatkanya tidak dengan cara tradisional seperti dulu,” tandasnya. (Jujang/R7/HR-Online)