Selasa, Juli 5, 2022
BerandaBerita CiamisKekeringan di Ciamis: Warga Manfaatkan Sungai Cileeur untuk MCK

Kekeringan di Ciamis: Warga Manfaatkan Sungai Cileeur untuk MCK

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),– Sejumlah warga Dusun Majaprana, Desa Pamalayan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat memanfaatkan aliran sungai Cileueur untuk keperluan MCK. Hal ini dilakukan lantaran kekeringan di Ciamis membuat sumur di rumah warga mengering sejak kemarau melanda beberapa bulan ini.

“Hampir setiap hari sejak kemarau kan sumur kering, makanya setiap pagi dan sore sungai pasti ramai, ada yang mandi, ada juga yang nyuci,” ujar Omoh, salah satu warga yang ditemui HR Online di Sungai Cileueur, Selasa (27/8/2019) pagi.

Sementara untuk keperluan minum dan masak, Omoh mengaku memanfaatkan sumur yang masih ada airnya di dekat sungai.

“Kalau untuk minum dan masak mah ada sumur dekat sungai yang dipakai sama-sama oleh warga sini,” katanya.

Sementara itu, Ani Supiani, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Ciamis, mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan 6.000 KK (Kepala Keluarga) terdampak kekeringan di Ciamis. Sejumlah KK tersebut berasal dari 7 Kecamatan di Ciamis.

BPBD Ciamis pun sudah mengecek langsung ke beberapa lokasi di 7 kecamatan di Ciamis yang mengalami kekeringan. Ani mengaku, pihaknya pun sudah mendistribusikan air bersih ke Kecamatan Ciamis, Pamarican, Cijeungjing, Cikoneng, Banjarsari, Cimaragas dan juga Kecamatan Cidolog.

Hal itu, kemungkinan akan terus dilakukan secara rutin, mengingat musim kemarau di Kabupaten Ciamis sendiri diprediksi akan berlangsung sampai bulan Oktober mendatang.

“Musim kemarau ini sudah menimbulkan kekeringan di 7 Kecamatan. Sudah ada 6.000 Kepala Keluarga dengan jumlah 17 ribu jiwa di Ciamis yang kekurangan air bersih. Kami sudah mendistribusikan bantuan air bersih sekitar 250 ribu liter. Semuanya berasal dari bantuan pihak swasta dan TNI-Polri 70 ribu liter. Total sekitar 320 ribu liter yang sudah disalurkan,” ujar Ani Supiani, Selasa (27/08/2019).

Namun, pendistribusian air bersih tersebut bukannya tanpa kendala. Ani menyebut BPBD Ciamis masih kekurangan armada. Selain itu, akses jalan yang sulit dilalui mobil tangki yang akan menuju lokasi warga yang terdampak kekeringan di sejumlah pelosok membuat pihaknya mengalami kendala. Misalnya, kata Ani daerah Kecamatan Cidolog.

“Jadi memang lokasinya cukup jauh dan medannya juga sulit.Ditambah armadanya kurang. Jadi yang seharusnya bisa kami kirim 15 ribu liter atau sekitar tiga tangki dalam sehari, kami hanya bisa mengirim satu tangki atau 5.000 liter saja dalam sehari,” ungkap Ani.

Ani menambahkan, bulan Agustus ini diprediksi merupakan puncak musim kemarau di Ciamis. Karena itu, BPBD Ciamis mengantisipasinya dengan semaksimal mungkin melakukan penyaluran air bersih sebagai penanganan jangka pendek.

BPBD Ciamis juga telah melaksanakan rakor kekeringan sinergis yang melibatkan berbagai pihak terkait untuk bantuan air bersih. Sehingga, untuk penanganan jangka panjang, BPBD bekerjasama dengan dinas terkait melaksanakan penyebaran titik air atau pipanisasi. Selain itu, BPBD juga bekerjamsa dengan Dinas Kehutanan untuk melakukan penghijauan segera.

“Puncak musim kemarau di Ciamis menurut perkiraan BMKG itu pada bulan Agustus ini. Sementara awal musim hujan diperkirakan pada bulan November. Tapi mudah-mudahan saja, kita berdo’a, di bulan September atau Oktober semoga sudah turun hujan,” tegasnya. (Fahmi2/R2/HR-Online)