Kerajinan Meubel Bambu Wulung Kota Banjar Makin Digemari Pencinta Furniture

Sebagian produk meubel bambu wulung yang dibuat oleh Husen, warga Sumanding Kulon, Kelurahan Mekarsari, Kec/Kota Banjar. Foto: Muhlisin/HR.

Berita Banjar (harapanrakyat.com),- Peluang usaha kreatif kerajinan meubel bambu di Kota Banjar, Jawa Barat, kian lama semakin menunjukan gaungnya. Maka tak salah, kota kecil yang berada di bagian Selatan perbatasan Jabar-Jateng ini menjadi salah satu daerah penghasil kerajinan bambu.

Seperti halnya Husen (68), salah seorang pengrajin meubel berbahan bambu di Lingkungan Sumanding Kulon, RT. 01/19, Kelurahan Mekarsari, Kec/Kota Banjar, hingga kini terus berkarya mempertahankan produk meubel bambu jenis wulung, meskipun dirinya harus berjuang keras bersaing dengan produk-produk furniture modern.

Lewat keuletan dan kecekatan tangannya, bambu-bambu yang terlihat tak bernilai jual pun ia bentuk sedemekian rupa hingga menjadi berbagai aneka furniture bernilai ekonomis, yang tentunya memiliki karya seni tinggi.

“Sudah 15 tahun tahun saya bikin kursi bambu kaya begini. Awalnya cuma ingin memanfaatkan bamboo, tapi nggak tahunya bisa menghasilkan uang,” tutur Husen, saat ditemui HR Online, Kamis (15/08/2019).

Selain berbagai macam kursi berbahan bambu, Husen juga membuat gantungan baju, lemari buah, dipan/amben, dan banyak lagi produk lainnya. Semua kerajinannya itu terbuat dari bambu.

“Semua saya yang bikin, baik model sama motifnya, tidak ada yang jiplak. Saya belajar kreasi sendiri, makanya buatnya pun jadi semangat,” ungkapnya.

Untuk menjaga kualitas produk meubelnya, Husen tak sembarangan memilih bambu yang ia gunakan sebagai bahan dasar pembuatanya. Karena, tidak semua bambu bisa digunakan untuk bahan baku kerajinan, tapi harus bambu jenis wulung.

“Memang di sini juga banyak bahannya, tapi yang paling baik itu bambu wulung dari Cikupa, Pamarican, warna hitamnya alami. Kalau yang di sini kan warna hitamnya rada kecoklatan. Meski begitu, tetap kadang dipakai juga,” jelasnya.

Menurut Husen, warna kecokelatan berpengaruh pada hasil pembuatan akhir, dan biasanya untuk menutupi agar terlihat lebih hitam harus disemprot/difinishing. Namun, karena bukan warna alami, sehingga dalam beberapa bulan saja warnanya akan memudar.

“Kebanyakan pemesan mintanya ya warna asli, tapi ada juga yang minta disemprot atau finishing. Kalau saya sendiri lebih cocok yang alami karena ada nilai seninya,” imbuh Husen.

Untuk menopang produksinya, bajan baku bamboo wulung ia datangkan dari wilayah Cikupa, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, dan sebagian menggunakan bambu dari Kota Banjar. Sedangkan, untuk tali rotannya dipesan langsung dari Cirebon.

Proses pembuata kursi dari bambu memakan waktu cukup lama, tergantung model dan jenis barangnya. Untuk membuat satu set jenis kursi sudut, Husen membutuhkan waktu sampai dua minggu, atau paling cepat 10 hari.

Sementara, untuk pembuatan gantungan baju dan lemari buah cukup hanya dalam waktu satu minggu. Saat ini kursi meubel bambu wulung buatan Husen sudah banyak digemari pencinta furniture di berbagai dearah, seperti Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, dan Pangandaran.

“Sekarang pesanan yang paling banyak dari daerah Banjarsari, Ciamis. Pernah juga saya dapat banyak pesanan dari Bali, tapi saya tidak nebyanggupi karena mintanya buru-buru,” kata Husen.

Harga yang ia tawarkan pun berbeda-beda. Untuk satu set kursi sudut dibandrol harga mulai Rp1,2 juta sampai Rp1,4 juta, tergantung model dan tingkat kesukaran dalam proses pembuatannya. Kalau untuk lemari buah dibandrol seharga Rp350 ribu.

Husen berharap, kerajinan bambu dari Kota Banjar ini semakin berkembang. Karena selain harganya yang tergolong murah dan ramah lingkungan, warna alami dari bambu juga memiliki nilai seni tersendiri.

“Dengan memakai produk furniture bambu buatan local, tak hanya mempertahankan nilai seni tapi juga turut mengembangkan potensi yang ada di daerah,” pungkasnya. (Muhlisin/R3/HR-Online)

Loading...