Selasa, Juni 28, 2022
BerandaBerita BanjarKisah Pejuang Kemerdekaan Usir Belanda dari Kota Banjar

Kisah Pejuang Kemerdekaan Usir Belanda dari Kota Banjar

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Kemerdekaan Bangsa Indonesia tidak akan pernah tercapai tanpa adanya pengorbanan dan tekad yang besar. Tak terkecuali bagi para pejuang kemerdekaan di Kota Banjar.

Dulu, kegigihan mereka tak kenal lelah. Siang dan malam selalu waspada. Bahkan naik turun gunung mengamankan daerah ujung timur Jawa Barat ini dari serbuan serdadu Belanda.

“Kalau tidak semangat pantang menyerah, kita tidak akan pernah merdeka,” kata Pahrudin (90) saat membuka pembicaraan dengan HR Online, Senin (27/8/2019).

Meski tak muda lagi, namun pejuang kemerdekaan dari Dusun Cipantaran, Rt.18/4 Desa Cibeureum, Kecamatan Banjar, ini masih fasih saat menceritakan kisah perjuanganya bersama rekan-rekanya mengusir tentara Belanda.

Pahrudin mengisahkan perjuanganya di sekitar tahun 1940 mencegat konvoi pasukan tentara Belanda di kawasan Cimaragas, Kabupaten Ciamis.

Kawasan Cimaragas yang berbukit penuh pepohonan itu, jelas Pahrudin, menjadi saksi sejarah saat dirinya dan teman seperjuangan menebang pohon-pohon besar.

Pohon tersebut digunakan untuk membuat palang penutup jalan. Selain itu, pasukannya juga menggali tanah menghadang pasukan Belanda dari wilayah Bandung agar tak bisa menyerang masuk ke wilayah Kota Banjar.

“Waktu itu, ditumbangin itu pohon-pohon buat nutup jalan. Nggak tahunya Belanda juga bawa banyak alat, pasukan jadi riuh tuh nahan biar nggak masuk, terjadilah perang di sana sampai teman saya ada yang meninggal kena tembak Belanda,” kata Pahrudin mengenang kawannya.

Gencarnya serangan Belanda nampaknya tak membuat nyali Pahrudin dan teman seperjuanganya menciut. Tak hanya mengamankan Cimaragas, di tempat yang berbeda sekitar tahun 1949 Pahrudin pun harus kembali mengamankan daerah Cibeunteur dan Karangpucung mengawal pasukan tentara Siliwangi yang saat itu baru kembali dari Jogjakarta.

“Kalau di Banjar, kawasan Cibeunteur yang paling ramai, soalnya terjadi pertempuran juga di sana. Waktu itu saya sama teman-teman gabung bareng bersama pasukanya Pak Kapten Jamhur, dia yang paling tinggi pangkatnya saat itu,” kata Pahrudin.

Ia melanjutkan, pulangnya pasukan Siliwangi dari Jogjakarta pun bukan di masa aman. Banyaknya tentara Belanda yang bersebaran di kawasan Cibeunteur memaksa perang kembali bergolak.

Jumlah pasukan yang tak seimbang dan peralatan perang yang tak sebanding memaksa Ia dan pasukan lain harus menarik diri mencari tempat perlindungan.

Nahas, ditengah pertempuran yang hebat itu Pahrudin harus kembali menahan duka karena komandan Jamhur gugur ditembus peluru Belanda.

“Waktu itu sudah diperingatkan untuk mundur karena darurat, tapi Pak Jamhur nggak mau, malah menyerang terus. Nah, pas itu dia tertembak,” kata Pahrudin.

Perjuangan belum berakhir, setelah pertempuran tersebut sekitar tahun 1949 Ia pun berpindah tugas mengawal tentara Siliwangi menuju daerah Panjalu, Ciamis hingga Tasikmalaya.

“Namanya juga tugas ya pindah-pindah, di Ciamis tugas saya di perbukitan Gunung Syawal, makan juga seadanya ambil dari perkebunan,” katanya.

Kini, usia Pahrudin tak muda lagi, teman-teman seperjuanganya pun tak banyak yang tersisa hanya beberapa yang masih hidup.

“Di Banjar sini yang satu angkatan paling banyak dari Pasirnagara, ada Darian, Karja, Uned, Kardi. Itu temen berjuang satu angkatan tapi sudah pada meninggal. Sekarang yang masih ada nggak banyak, di Kantor LVRI saja tinggal 8 orang yang dari Banjar,” kata Pahrudin.

Di usianya yang sudah mulai udzur, Ia hanya berharap agar para pemuda saat ini pandai-pandai mengisi kemerdekaan dengan sesuatu yang bermanfaat.

“Sebarapa pun pengorbanan mereka sudah berjuang, sekarang yang muda-muda harusnya lebih giat lagi, kalau yang sudah tua kaya saya mah sudah repot,” pungkasnya. (Muhlisin/R6/HR-Online)

- Advertisment -