Rabu, Mei 18, 2022
BerandaBerita CiamisMasyarakat Ciamis Masih Kurang Sadar Bahaya Sampah Plastik

Masyarakat Ciamis Masih Kurang Sadar Bahaya Sampah Plastik

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya sampah plastik mengakibatkan munculnya masalah di sungai-sungai di wilayah Banjarsari. Komunitas Matahati Banjarsari pun menyayangkan akan hal tersebut.

Ketua Matahati Banjarsari, Mohamad Abd Buldani, Senin (05/08/2019), warga seharusnya bisa lebih memperhitungkan lagi dalam menggunakan plastik sebagai wadah yang simpel.

“Sebagai pecinta lingkungan, jelas kami merasa prihatin dengan perilaku masyarakat yang sepertinya sudah keenakan memakai dan membuang plastik sembarangan,” katanya.

Padahal, kata Abid, jelas sekali sampah plastik sangatlah berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia. Namun sepertinya warga sudah tidak lagi berfikir panjang akan dampak dari semua itu.

“Hal ini jelas butuh perhatian serius dari pemerintah, untuk mempersempit ruang pemakaian plastik,” tandasnya.

Abid pun mengajak masyarakat Banjarsari agar bisa mengurangi penggunaan plastik. Menurutnya, selama ini Matahati selalu mengkampanyekan soal sampah plastik. Bahkan selalu rutin setiap tahun terjun langsung untuk membersihkan sampah-sampah di selokan (sungai).

“Namun sayang, masyarakat sepertinya tidak begitu respon, apalagi meniru kegiatan kami. Kami saat ini hanya bisa mengajak masyarakat agar mereka bisa sedikit beralih menggunakan plastik. Baik itu plastik kresek maupun Styrofoam. Karena, bahayanya plastik ini, tidak bisa hancur oleh alam bahkan bisa menimbulkan bencana bagi manusia,” katanya.

Abid menjelaskan, pihaknya juga mengajak agar warga selalu memperhatikan lingkungan. Jangan lah selalu membuang sampah apapun ke wilayah selokan atau sungai. Karena akibatnya nanti bisa menimbulkan bencana bagi warga itu sendiri.

Senada dengan itu, Staff Advokasi dan Kampanye Bale Rahayat, Turehan, menjelaskan, bahaya sampah plastik kian terasa seiring dengan langkanya air di musim kemarau ini. Bukan hanya karena deforestasi yang terjadi di sisa hutan yang ada, namun juga karena resapan air yang terhalangi sampah plastik yang terpendam puluhan tahun lamanya.

Kebiasaan masyarakat desa masih membuang sampah di belakang rumah dengan menggali tanah. Masyarakat sama sekali tidak memilah sampah organik dan non organik seperti plastik dan sampah yang tidak mampu diolah oleh tanah.

“Kita bisa bayangkan bahwa plastik mampu terurai secara alami berproses 350 sampai 500 tahun,” katanya.

Menurut Turehan, dengan adanya Undang-undang nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, sudah cukup menjadi acuan Bupati Kabupaten Ciamis untuk mengeluarkan aturan larangan penggunaan plastik sekali pakai.

Tidak hanya itu saja, dalam aturan tersebut juga memperkuat soal pengelolaan sampah organik dan non organik. Pihaknya melihat bahwa progam daur ulang sampah masih sebatas seremonial dan penerapannya masih lemah di masyarakat.

Bukan hanya dampak kekeringan yang bisa terjadi, namun juga saat musim kemarau air tidak teresap bumi. Karena pori-pori bumi tertutup sampah plastik yang telah terkubur lama dan tidak terurai.

Kerusakan lingkungan bukan terjadi karena faktor individu, namun bisa terjadi banyak faktor. Diantaranya antar aktor, antar sektor, antar lembaga, antar pulau bahkan antar negara sekalipun terjadi.

“Seperti impor plastik dari luar negeri yang lagi ramai dibahas sekarang. Jadi sudah semestinya kita bergerak bersama. Namun tanpa regulasi yang jelas dan hanya berpatokan pada undang-undang, masih dianggap lemah,” katanya.

Turehan menegaskan, Bupati Ciamis harus segera membuat Peraturan Bupati atau Perda supaya Kepala Desa bisa membuat peraturan desa (perdes) untuk menangani masalah yang sudah sangat serius ini.

“Kerusakan lingkungan hidup sudah sampai stadium akhir. Jangan sampai kita mewarisi tangisan dengan rusaknya hutan, laut yang kotor dan kualitas air yang buruk,” katanya. (Suherman/Koran HR)

- Advertisment -