Menengok Kampung Iklim di Kota Banjar

Tanaman di Kampung Iklim Kota banjar
Beberapa tanaman yang dikembangkan oleh pegiat Kampung Iklim di Dusun Priagung, Desa Binangun, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar. Foto: Muhlisin/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Kampanye bahaya perubahan iklim akibat efek pemanasan global terus digalakan. Berbagai upaya pencegahan melalui pelestarian alam pun banyak dilakukan masyarakat. Salah satunya yang dilakukan pegiat Kampung Iklim di Dusun Priagung, RT. 09/04, Desa Binangun, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar.

Siang itu, Senin (10/08/2019), sekelompok ibu-ibu kreatif di daerah tersebut terlihat sedang membuat anyaman bambu di halaman salah satu rumah, yang dipenuhi dengan berbagai jenis tanaman hijau.

Tanaman tomat yang sedang berbuah, cabai yang siap panen, dan beberapa jenis tanaman hijau lainnya tertata dengan apik, membuat halaman tersebut tampak sejuk dan indah dipandang mata.

“Ini namanya Kampung Iklim, makanya banyak tanaman. Dulunya kosong tidak ada apa-apa, sekarang sudah dari tiga tahun lalu ibu-ibu di sini serempak pada tanam di halaman rumah,” kata Aah Sonaah, salah seorang warga setempat, kepada Koran HR, Senin (19/08/19).

Sambil menunjukkan tanaman, Aah juga menyebutkan, bahwa jenis tanaman yang ada kebanyakan palawija, seperti tomat, cabai, kangkung, dan stroberi. Selain tanaman, ada juga kolam ikan dan untuk bibitnya semua disediakan oleh Ketua RT setempat.

Menurutnya, tanaman yang ada ini selain bernilai ekonomis, juga sebagai upaya masyarakat untuk melestarikan lingkungan, terutama mengurangi pengaruh efek pemanasan global.

“Memang itu programnya. Meski belum banyak, setidaknya kita ikut berpartisipasi dalam uapaya pelestarian lingkungan. Kemarin juga sempat ada yang survei ke sini dari Provinsi, dan bilangnya begitu,” ujar Aah, yang diamini ibu-ibu lainnya.

Dengan semangat yang sama, Eem, warga lainnya, menambahkan, untuk perawatan tanaman selalu ada pemupukan dan pengawasan. Jadi, setiap ada yang mati nantinya akan diganti dengan tanaman yang baru. Perawatanya sendiri dilakukan oleh ibu-ibu warga setempat sampai masa panen, dan setelah itu dilakukan penanaman lagi.

‘Untuk yang sering berbuah itu stroberi, kalau cabai paling panen sampai empat kali dalam sekali tanam. Kan lumayan, ibu-ibu di sini tidak belanja kebutuhan dapur, karena sudah bisa mandiri,” kata Eem.Pentingnya kepedulian akan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan turut mendapat dukungan dari Syarif, sbagai Ketua RT setempat. Dirinya berharap, melalui Kampung Iklim ini selain meningkatkan ekonomi dan kemandirian masyarakat, juga bisa berpartisipasi dalam melestarikan lingkungan alam sekitar. (Muhlisin/Koran HR)