Ngeri! Mitos di Keramat Gunung Bubut Jagabaya Ciamis

Keramat Gunung Bubut Jagabaya
Sandi Suhandi, juru kunci, menunjukkan salah satu makam keramat di Gunung Bubut. Foto : Eji Darsono/ HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Keramat Gunung Bubut yang berada di wilayah Desa Jagabaya, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, tidak hanya dijadikan sebagai tempat pemakaman umum (TPU). Namun, keramat Gunug Bubut tersebut juga tidak bisa lepas dari kisah mitos. Konon menurut cerita, barang siapa yang berziarah ke makam Singawijaya, tidak akan memiliki keturunan.

Sandi Suhandi, juru kunci, membenarkan, Keramat Gunung Bubut bukan hanya sebagai TPU. Namun, di keramat tersebut ada beberapa makam yang dikeramatkan. Makam yang dikeramatkan tersebut diantaranya makam Singawijaya, makam Singadipura, makam Singga Manggala, makam KH Eyang Jiwangkara dan makam Eyang Kuwu Sangkan.

Menurut Sandi, Singajaya, Singadipura dan Singamanggala adalah tiga bersaudara yang merupakan keturunan dari Mataram. Sedangkan KH Eyang Jiwangkara dan Eyang Kuwu Sangkan berasal dari Cirebon yang menjadi penyebar ajaran Agama Islam di Jagabaya. 

Lebih lanjut, Sandi mengungkapkan, Keramat Gunung Bubut memiliki cerita mitos dan masih dipercaya oleh warga setempat. Selain ada pantangan mengambil kayu dari keramat, ada larangan untuk berziarah ke makam Singawijaya.

Sandi menjelaskan, tidak ada seorangpun yang berani mengambil kayu dari dalam keramat, sekalipun hanya ranting patah. Jika berani, maka resikonya tanggung sendiri.  Jika ada ranting patah atau pohon di keramat yang tumbang, warga di Jagabaya meyakini akan ada pejabat negara yang lengser.

Patah atau tumbang diyakini sebagai ciciren (basa sunda) pertanda buruk yang akan menimpa para pejabat, baik di tingkat desa, kecamatan dan seterusnya. Selain pantangan mengambil kayu, ada juga makam yang tidak boleh diziarahi yaitu makam Singawijaya.

Konon menurut cerita, barang siapa yang berziarah ke makam Singawijaya, kelak di kemudian hari, setelah berumah tangga tidak akan diberi keturunan (mandul). Sehingga larangan atau pantangan tersebut masih diyakini oleh pemuda atau pemudi yang belum berumah tangga.

Kaur Umum Desa Jagabaya, Suhendi, mengungkapkan, di Keramat Gunung Bubut  terkadang masih ada hal yang aneh dan tidak bisa dimengerti oleh akal sehat. Menurut dia, sempat ada yang melakukan poto dengan menggunakan drone, namun tidak ada satupun yang bisa tertangkap layar kamera. Meski berulang kalai dicoba, tetap saja tidak didapatnya.

Wawan Gunawan, tokoh masyarakat setempat, membenarkan masih adanya mitos dan keanehan-keanehan di Keramat Gunung Bubut. Hal tersebut biasanya terjadi  apabila orang yang mau berziarah atau melakukan swafoto tanpa seijin juru kunci. (Dji/Koran HR)