Optimisme Sahabat Tuna Netra Kota Banjar

Panti Pijat
Panti pijat bagi penyandang disabilitas Tuna Netra di Jalan Dewi Sartika, Parunglesang, Kota Banjar. Foto: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Keterbatasan kadang menjadi alasan dan beban seseorang untuk maju. Seolah semua impian telah sirna terlebih mereka yang terkendala cacat fisik, entah karena pembawaan lahir, maupun cacat karena suatu musibah. Namun hal itu tak berlaku bagi kelompok disabilitas penyandang tuna netra di Kota Banjar, meski banyak aral melintang mereka tetap berjuang meraih asa.

Eli (40), penyandang tuna netra asal Tanjung Sukur, Kelurahan Hegarsari, Kota Banjar. Dengan keterbatasan fisikya, Ia berusaha melayani pelanggan pijatnya di Kantor Sahabat Tuna Netra di Jalan Dewi Sartika kawasan Parunglesang, Kota Banjar.

“Iya ini Mas, udah dari pagi di sini, nungguin yang mau pijat,” tutur Eli membuka pembicaraan.

Namun, keberuntungan nampaknya belum menghampiri Pak Eli, hingga siang itu belum satu pelanggan pun yang datang menjajal pijatan tangan Pak Eli. Meski demikian Eli tetap bersabar menunggui pelangganya.

“Sudah lima tahun ini saya terima jasa pijat, cuma hari ini di kantor sahabat netra. Kalau hari-hari biasa ya dirumah,” kata Eli.

Sambil menunggu pelanggan Eli melanjutkan, dulu ia bekerja sendiri membuat sandal dan sepatu di kawasan Jakarta. Hingga satu ketika pada tahun 2014 musibah yang tak disangka membuat kedua matanya tak mampu melihat lagi dan memaksa Ia harus mengubah jalan hidupnya.

Namun bagi Eli itu bukan akhir dari segalanya perlahan, Ia pun mulai bangkit dan mengikuti pelatihan pijat tuna netra yang difasilitasi bersama 20 temanya.

“Setelah musibah itu, saya ikut pelatihan pijat. Banyak materinya, mulai pengenalan lingkungan bagi tuna netra, teknik dasar memijat dan banyak lagi,” kata Eli.

Kini setelah dinyatakan lulus pelatihan, Ia pun mulai membuka tempat praktik sendiri di rumahnya. Selain itu Ia pun berusaha menyisihkan sebagian waktunya mengisi tempat praktik bersama teman-temanya yang lain di Kantor Sahabat Netra.

Dasar milik barangkali, rezeki memang tak ada yang tahu beda pagi lain pula di sore hari. Nyatanya menjelang maghrib banyak yang mendatangi kantor sahabat netra menanti pijatan tangan Pak Eli, bahkan ada sebagian yang minta didatangi ke rumahnya.

Eli tak sendirian dalam berjuang, di tempat yang sama, Iwan Sanusi menambahkan, panti pijat sahabat tuna netra memang belum lama dan baru tanggal 29 Juli kemarin diresmikan.

Hal itu, kata Iwan, selain untuk silaturrahmi juga untuk mewadahi dan menjaga kebersamaan sesama penyandang disabilitas tuna netra.

“Makanya yang mijat tuna netra semua, kecuali petugas pendampingya, itu pun dari sesama penyandang disabilitas,” tutur Iwan kepada HR Online, Senin (5/8/19).

Iwan melanjutkan, untuk waktu pemijatan sendiri dijadwal setiap harinya mulai pukul 9 pagi sampai pukul 9 malam, bergantian didampingi satu petugas jaga untuk membantu di kantor.

“Saat ini, untuk yang pijat jumlahnya ada 8 orang ada juga yang perempuan,” kata Iwan yang juga Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kota Banjar.

Menurut Iwan, sebetulnya ada 20 orang yang dulu ikut pelatihan difasilitasi dari Dinas Sosial, hanya saja karena rumahnya jauh cuma 8 orang yang bisa ikut bergabung dengan panti pijat sahabat netra yang lainya membuka praktik sendiri di rumah masing-masing.

Tarif pijat sahabat tuna netra sendiri cukup murah meriah, hanya dengan Rp. 35 ribu bisa pijat selama satu jam, itu pun sebagian sudah termasuk donasi sosial.

“Memang kalau di kantor Rp. 35 ribu, kalau dipanggil atau di tempat praktik masing-masing mungkin ya beda,” tutur Iwan.

Iwan berharap penyandang disabilitas tidak merasa minder dan pupus harapan harus bisa menunjukan bahwa mereka juga mampu berusaha dan mandiri, pungkas Iwan. (Muhlisin/R6/HR-Online)