Pecel Banjur Kota Banjar Diburu Pencinta Kuliner

Pecel Banjur
Mbah Marsiti (64), warga Rejasari penjual pecel banjur di Pasar Bojongkantong, Kecamatan Langensari, Kota Banjar. Foto: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Mbah Marsiti, begitu nama yang tersemat pada dirinya. Kini usianya yang sudah lebih dari setengah abad, 64 tahun. Kendati sudah tua, Marsiti tampak begitu cekatan menata bumbu dan sayuran di atas tampah bambu. Apalagi ketika melayani pembeli pecel banjur miliknya.

Lapaknya yang begitu sederhana di pojok Timur Pasar Bojongkantong, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, Marsiti hampir setiap hari menghabiskan waktu sorenya dari pukul 16.30 WIB hingga malam hari untuk melayani ratusan pelanggannya.

Selain berjualan pecel banjur, ia bersama Suaminya dan dibantu anaknya juga menyediakan Gembus, gorengan yang terbuat dari singkong. Tak hanya makanan tradisional itu, ia juga menjual jeruk, kacang tanah maupun kentang bulu.

Mbah Marsiti berasal dari Dusun Sindanggalih, Desa Rejasari, Kecamatan Langensari. Dia tak hanya dikenal sebagai tukang pecel banjur yang selalu menjadi buruan pencinta kuliner tradisional, namun ia juga dikenal sebagai sosok pedagang yang pantang menyerah. Pasalnya, Marsiti muda sudah berjualan gembus keliling di tempat hajatan yang ada di wilayah Lakbok, Langensari hingga Pataruman.

Saat Koran HR menyambangi Mbah Marsiti di saat pecel banjurnya sudah ludes terjual sekitar pukul 20.00 WIB, ia mengaku sudah 25 tahun berjualan pecel banjur yang dikenal sebagai makanan tradisional Jawa bersama suaminya. Sementara berdagang di pinggir jalan pojok Pasar Bojongkantong sudah 15 tahun.

“Saya dari kecil sudah jualan. Dulu sebelum jualan pecel, saya jualan Gembus keliling ke mana pun kalau ada yang hajatan. Apalagi kalau ada hiburan seperti wayang, ketoprak, atau hiburan video,” kenangnya kepada Koran HR beberapa waktu lalu.

Saking lamanya ia berjualan pecel dan gembus, Mbar Mar mengaku tidak pernah merasa gelisah ketika harga sayur-sayuran dan harga bahan pokol pecel naik. Sebab, ia memiliki trik sendiri, baik dengan menaikkan harga pecel per porsinya atau mengurangi porsi. Meski begitu, pelanggan tak pernah komplain dengan harga yang ia patok.

“Saya jual biasanya Rp 2.500 per porsinya. Kalau dinaikkan tidak begitu banyak, dan paling dikurangi porsinya. Intinya saya enjoy terus. Masa sudah jualan dari kecil masih bingung masalah ketika harga bahan naik. Enjoy saja lah,” tutur Mbah Mar.

Dalam sehari, dirinya membutuhkan kacang 6 hingga 7 kilogram sebagai bahan utamanya. Sedangkan, sayur-sayuran dari berbagai jenis bisa mencapai 2 kantong. Adapun modal khusus pecel sendiri sekitar Rp 400 ribu setip kali dagang.

Meskipun ia berjualan hanya sekitar 3 sampai 4 jam jam setiap harinya, namun Mbah Marsiti mengaku sudah sejak pagi disibukkan dengan bahan-bahan yang harus ia olah terlebih dahulu. Sekitar jam 07.00 WIB usai belanja di pasar, ia sudah mulai menggodok sayur-sayuran yang jumlahnya sangat banyak itu. Termasuk juga membuat pecel hingga sore hari.

“Sekarang saya berangkatnya diantar menggunakan mobil oleh anak saya. Kalau dulu naik sepeda. Saya jualan tak kenal lelah, baik hujan, dingin atau bagaimana pun, saya tetap jualan. Apalagi ini sudah jadi kebiasaan saya sejak dulu, dan juga untuk menutupi kebutuhan sehari-hari,” kata wanita yang memiliki 4 anak ini.

Di lokasi yang sama, Dede, salah satu pembeli, mengaku sering membeli pecel banjur ke Mbah Marsiti. Selain harganya yang murah meriah, soal rasa juga tidak bisa diragukan lagi sebagaimana ciri khas makanan tradisional Jawa.

“Kalau beli di sini itu harus benar-benar sabar. Apalagi kalau antrian sedang panjang sekali. Memang pecel banjur beliau sudah dikenal sejak dulu, dan mungkin paling lama yang jualan pada malam hari di sini. Biasanya itu kan dijualnya pagi hari di pasar,” ucap Dede. (Muhafid/Koran HR)