Planet Pluto Kini Layak Disebut Planet dalam Sistem Tata Surya, Ini Alasannya

planet pluto
Ilustrasi Planet Pluto. Foto: Istimewa

Planet pluto sudah 13 tahun lamanya dikeluarkan dari definisi planet. Bahwa ada seorang ilmuwan NASA yang mengatakan bahwa benda antariksa itu masih menjadi anggota dari planet dalam sistem tata surya kita.

Ilmuwan itu bernama Jim Bridenstine, dirinya adalah seorang administrator masa yang telah menyatakan dukungan pada pluto sebagai sebuah planet. Sebelumnya planet pluto dikeluarkan dari daftar 9 planet yang ada oleh International Astronomical Union. Ini karena dikategorikan sebagai planet kerdil dan bukan planet.

Waktu itu IAU mendapatkan respon yang beragam dari kalangan peneliti astronomi agar mendefinisikan arti planet yang sebenarnya. Di dalam laporannya IAU menyatakan terdapat perbedaan definisi planet dan juga planet kerdil.

Planet merupakan benda langit yang mengorbit di sekitar matahari. Mempunyai massa yang cukup di dalam melakukan gravitasi dan bisa membersihkan lingkungan yang ada di sekitar orbitnya.

Sementara itu definisi dari planet kerdil adalah planet yang juga berada di dalam orbit sekitar matahari. Mempunyai massa tetapi belum dapat membersihkan lingkungan di sekitar orbitnya.

Lewat akun Twitter @CReppWx, Jim Bridenstine menyatakan dukungannya ketika menghadiri acara di universitas Colorado AS. Dirinya mengatakan bahwa di dalam pandangannya pluto merupakan sebuah planet. Definisi yang diberikan IAU secara ilmiah itu bertentangan, jadi tidak bisa dipertahankan.

Sekarang ini planet pluto memang sering dijadikan sebagai bahan pengamatan yang menarik untuk para peneliti. Sebagai mantan planet, daya tarik pluto memang tidak pernah berhenti untuk mengundang ilmuwan agar bisa menelitinya lebih lanjut.

Inilah Alasan Planet Pluto Tereliminasi

Pluto memang sempat dikeluarkan dari definisi planet. Sebab ada benda langit yang terdapat di sabuk Kuiper dan memiliki orbit yang tidak bersih. Disamping itu, ditemukan pula objek-objek yang terdapat disekitar tata surya dan memiliki ukuran yang relatif sama dengan pluto.

Akan tetapi sejumlah ilmuwan terus membela adanya pluto sebagai planet. Seperti seorang astronom planet yang bernama Alan Stern , ia merupakan pemimpin misi New Horizon NASA. Dirinya menyuarakan kekecewaannya dengan keputusan atas penghapusan pluto dari planet.

Bahkan pada September 2006 lalu dirinya sempat menuliskan bahwa definisi IAU bukan hanya tidak bekerja dan tidak bisa dicapai. Tetapi secara ilmiah juga mempunyai cacat dan bertentangan secara internal. Jadi tidak bisa dipertahankan dengan kuat terhadap klaim kecerobohan ilmiah.

Bahkan di awal tahun ini dirinya juga berdebat dengan Ron Ekers dari IAU, masih dengan masalah pembelaan status planet pluto. 

Sebelumnya ratusan ilmuwan juga sudah mengajukan petisi. Isinya adalah menentang keputusan IAU yang mengeluarkan pluto dari kelompok planet yang ada dalam tata surya. Pluto sendiri sudah mempunyai cuaca, atmosfer yang berlapis-lapis, senyawa organik, sampai bulannya.

Para ilmuwan tahu tahun lalu juga berpendapat bahwa planet harus didefinisikan sebagai sebuah objek yang mempunyai ukuran cukup besar. Tapi sejauh ini IAU sendiri tidak menunjukkan tanda mundur dengan keputusannya di tahun 2006 lalu. Begitu pula pendukung pluto yang berjuang dan bersikeras dengan pendapat mereka.

Kemungkinan Bridenstine akan berusaha memperbaharui keputusannya di tahun 2006 lalu bersama dengan para pendukung Pluto. Tetapi itu tentu memiliki konsekuensi ilmiah yang besar. Mungkin kita akan menyambut banyak planet baru bila pluto kembali dimasukkan sebagai anggota planet yang ada di tata surya.

Alasan Pluto Layak Menyandang Status Planet

Wacana pengembalian pluto dalam sistem tata surya akan dipimpin oleh Alan Stern yang merupakan tim peneliti NASA. Wacana ini berkaitan dengan definisi ulang dari tim peneliti tentang planet. Stern dan tim peneliti yang lain telah mengajukan proposal ke lembaga IAU untuk bisa mengembalikan planet pluto.

Pengajuan yang dilakukan ini jelas menepis temuan dari astronom Mike Brown yang berasal dari California Institute of Technology. Dimana dirinya telah mengusulkan ulang definisi planet di tahun 2006 lalu.

Deskripsi rinci tentang proposal itu mematahkan metode sebelumnya tentang klasifikasi planet. Sejauh ini planet memang dipahami sebagai sub bintang yang tidak mengalami fusi nuklir dan punya cukup gravitasi. Hal itu terlepas dari parameter orbitnya.

Stern dan juga timnya beralasan bahwa pluto layak untuk menyandang status planet kembali. Walaupun statusnya tidak mengorbit pada matahari.

Berdasarkan dari klasifikasi yang berbasis sains dan juga intuisi manusia. Tim peneliti mengusulkan definisi planet yang berbasis geofisika dengan cara menekankan sifat fisik, intrinsik dari sifat orbital ekstrinsiknya.

Teori Stern ini dianggap bias oleh beberapa kalangan. Tetapi misi New Horizons yang dipimpinnya telah mengklaim menemukan informasi dan juga potret terbaru tentang pluto.

Upaya yang dilakukan uStern untuk mengembalikan pluto dalam sistem tata surya sudah dilakukan sejak tahun 2015. Saat itu dirinya meminta astronom yang mempelajari benda langit dan fenomena kosmik fokus meneliti bulan, planet dan sistem planet. Hal ini bertujuan agar bisa memberi definisi ulang tentang planet.

Dirinya mengusulkan untuk penggunaan geofisika berikut planet. Agar semua orang tahu ilmuwan planet yang memahami subjek ini. Seperti pluto kita tidak harus menyebutnya sebagai planet.

Sedangkan di sisi lain Science Alert mengkritisi teori Stern tentang ciri-ciri planet. Mengingat bila disetujui bukan tidak mungkin bahwa nanti terdapat penambahan 100 planet baru di dalam sistem tata surya selain planet pluto. (R9/HR-Online)