Rotasi Bumi Melambat Disinyalir Sebabkan Gempa Besar

rotasi Bumi Melambat
Rotasi Bumi Melambat Disinyalir Sebabkan Gempa Besar. Foto: Net/Ist

Rotasi Bumi melambat disinyalir menyebabkan gempa besar. Kesimpulan ini didapat dari penelitian yang menyebut ada kaitan antara melambatnya rotasi Bumi dengan gempa besar. Penelitian tersebut menunjukkan sejak 1900, gempa bumi dengan magnitude 7 kerap terjadi di berbagai belahan dunia.

Para peneliti kemudian berusaha mencari tahu kaitan gempa berkekuatan besar itu dengan rotasi bumi yang melambat.

Penelitian yang pertama kali berusaha mencari hubungan antara rotasi bumi melambat dan gempa besar dilakukan oleh Roger Bilham dari University of Colorado dan  Rebecca Bendick dari University of Montana pada tahun 2017.

Kedua peneliti tersebut akhirnya menyimpulkan adanya korelasi antara rotasi bumi dengan aktivitas gempa.

“Pada periode ini, terjadi gempa besar antara 25 hingga 30 kali dalam setahun. Ada korelasinya dengan melambatnya kecepatan rotasi bumi. Penelitian juga menunjukkan akan ada peningkatan jumlah gempa yang cukup intens,” katanya, seperti dikutip dari laman Express.

Melambatnya rotasi Bumi ada hubungannya dengan gravitasi Bulan. Bumi menggunakan energy untuk tetap berada di depan orbit Bulan. Gravitasi Bulan ini kemudian menjaga agar rotasi Bumi tetap terkendali.

Matthew Funke dari Laboratorium Jet Propulsion NASA, mengungkapkan, saat Bumi bergerak di depan Bulan, Bulan berusaha menariknya. “Inilah yang jadi penyebab rotasi Bumi melambat,” ujar Funke.

Funke juga menyebut, hal tersebut dapat meyebabkan gempa bumi besar. Namun para ahli lainnya berpendapat berbeda dengan Funke maupun Bilham.

Seperti dikatakan Fisikawan Paul Walorski. Dia percaya bahwa gempa bumi besar akibat adanya perubahan inti Bumi yang berdampak pada permukaan.

Walorski menyebut perputaran Bumi yang melambat berakibat pada hari yang lebih lambat. “Itu bisa terjadi sekali sehari dan dalam sebulan yang tadinya 30 hari bisa sama dengan sekitar 47 hari, dan itu diproyeksikan terjadi miliaran tahun yang akan datang,” terangnya.

Artinya rotasi Bumi yang melambat bisa memanjangkan ataupun sebaliknya, memendekkan waktu dalam sehari, namun hanya sekitar milidetik. Memang kecil, tetapi para ahli menyebut hal ini bisa berdampak buruk.

Walaupun begitu, para ahli belum menjawab secara jelas kaitan antara turunnya kecepatan rotasi Bumi dengan penyebab terjadinya gempa besar.

Salah seorang Profesor Geosains, Stephen Meyers, dari University of Wisconsin-Madison, pernah mengatakan, ketika Bulan bergerak menjauh, maka Bumi akan berputar melambat.

“Ketika rotasi Bumi melambat maka akan membuat satu hari lebih lama, hal ini juga berpengaruh pada lamanya waktu dalam satu bulan,” katanya, menguatkan teori dari Walorski sebelumnya.

Seiring dengan melambatnya rotasi Bumi, di berbagai belahan dunia terjadi berbagai gempa dahsyat dengan kekuatan lebih dari 7 SR.

Hal ini membuat, ahli geofisika dapat mengukur kecepatan rotasi Bumi dengan sangat tepat. Mereka berusaha menganalisis setiap gempa mulai sejak 1900 terjadi dengan skala di atas 7,0 SR.

Berita Terkait: BMKG Sebut Gempa di Kota Banjar dan Majenang Disebabkan Sesar Citanduy

Para ilmuwan kemudian membandingkan data historis dan menemukan fakta rotasi Bumi melambat sudah berlangsung selama lima tahun terakhir. Mereka bahkan mencatat rotasi Bumi melambat setiap 25 hingga 30 tahun.

Ahli Geologi dari Duke University, Trevor Nace, bahkan pernah mengulasnya dalam majalah Forbes dan menyebut, perlambatan rotasi Bumi memicu meningkatnya gempa bumi.

Sebagai salah satu bencana yang tidak bisa diprediksi dan terjadi tiba-tiba dengan sangat merusak, sekali lagi para ilmuwan belum bisa menjelaskan bagaimana perubahan rotasi Bumi bisa memicu gempa besar.

Namun dalam hal ini, Nace mengatakan berdasarkan perbandingan tren historis antara rotasi Bumi melambat dengan gempa besar, maka bisa memberikan gambaran kepada masyarakat terkait risiko jangka pendek yang bisa mereka hadapi.

Nace dalam ulasannya menyebutkan tahun 2018 akan jadi tahun gempa Bumi. Nace bahkan menyebut akan terjadi 15 sampai 20 gempa besar dengan kekuatan 7,0 SR.

Hal itu setidaknya benar-benar terjadi saat gempa besar mengguncang Lombok pada 29 Juli 2018. Lalu 28 September 2018 gempa kembali melanda Palu, Sulawesi Tengah.

Dekatnya jarak waktu terjadinya gempa Lombok dan gempa Palu tersebut menjadi perbincangan hangat. Penelitian Billham dan Bendick kembali mencuat.

Sebelumnya saat keduanya mengumumkan hasil penelitiannya, media luar membahasnya dengan judul-judul bombastis.

Daily Mail misalnya, judul yang ditulis terkait penelitian Bilham dan Bendick tersebut adalah ‘Gempa Bumi Mematikan Bisa Mengguncang Satu Miliar Orang’. Lain halnya dengan Guardian yang menulis judul, ‘Peningkatan Gempa Bumi Besar Diprediksi Terjadi Tahun 2018’.

Penelitian dua ahli geologi ini menemukan suatu pola dimana gempa bumi berkekuatan lebih dari 7,0 skala Moment Magnitude, bisa mengguncang Bumi setiap 30 tahun.

Bendick dan Bilham, bahkan menyebut tahun 2017 adalah tahun keenam setelah perlambatan Bumi terjadi terakhir kali pada tahun 2011. Sehingga tahun 2018 diproyeksikan sebagai awal peningkatan gempa Bumi berkekuatan lebih dari 7,0 SR.

Namun, setelah hasil penelitiannya diekspose berbagai media dari berbagai belahan dunia, Bendick yang merasa telah membuat para pembaca risetnya gundah, kemudian menyebut ledakan gempa bumi yang disebut media akan terjadi pada tahun 2018 hanya berita sensional.

Menurutnya, tidak benar jika setiap 32 tahun, akan terjadi sesuatu yang buruk pada Bumi. Karena jika benar, maka peneliti sebelum dirinya pasti sudah menemukan pola tersebut berabad-abad lampau.  

Bendick bahkan menyebut jika penelitiannya bersama Bilham tujuannya mencari probabilitas atau kemungkinan, dan sama sekali bukan prediksi.

Bagi dirinya, rotasi Bumi melambat tidak berarti akan terjadi gempa besar pada tahun berikutnya. Hanya saja, kata dia, probabilitas terjadinya gempa akan naik.

“Kami menghasilkan hipotesis ini, nantinya semua rekan kami akan mencoba mencari tahu kekeliruan pada hipotesis kami, karena seperti itulah cara sains bekerja. Sampai akhirnya kami memiliki hasil atau kesimpulan yang solid,” kata Bendick. (Ndu/R7/HR-Online)

Loading...