Saat di Pangandaran, Peneliti Jepang Sarankan Warga Tetap Waspada Isu Gempa Megathrust

isu Gempa Megathrust
Peneliti dari Kogawa University di Jepang, DR. Yoshiyuki Kaneda menanggapi terkait potensi Gempa Megathrust, saai berkunjung ke Pangandaran. Foto: Madlani/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Peneliti dari Kogawa University di Jepang, DR. Yoshiyuki Kaneda, mengungkapkan kemungkinan terjadinya Gempa Megathrust di Selatan Jawa karena adanya akumulasi energi lempeng subduksi.

Meski begitu, ia mengaku belum mengetahui secara persis akumulasinya kapan, jumlah besarnya energi yang dilepaskan seberapa besarnya. Namun yang paling penting adalah kesiapsiagaan dini dari diri sendiri adalah hal yang penting dan nyata yang bisa dilakukan.

Menurutnya, kesiapsiagaan tersebut bukan hanya untuk orang tua saja, tapi anak muda serta semua elemen harus benar-benar siap siaga.

“Karena aspek ketangguhan terhadap bencana harus melibatkan banyak pihak juga lintas bidang, seperti aspek ilmu teknologi, rekayasa, medis, sosial dan lainnya,” jelas Yoshiyuki Kaneda saat diwawancarai Koran HR di sela kegiatan Ekspedisi Destana (Desa Tangguh Bencana) segmen 3 Jawa Barat di Desa Legokjawa, Cimerak, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Minggu (4/8/2019) lalu.

Yoshiyuki Kaneda menambahkan, yang harus disiapkan selanjutnya dalam menghadapi gempa megathrust tersebut adalah, apabila bencana terjadi selain menyelamatkan diri dan barang berharga, juga dengan rekonstruksi keberlangsungan hajat hidup orang banyak.

“Langkah-langkah yang harus disiapkan ada 4 langkah, pertama memahami resiko atau bahaya dari bencana tersebut, kedua menyiapkan bangunan perabotan rumah tangga tahan gempa dan tsunami, ketiga menyiapkan jalur atau rute evakuasi, dan keempat menyiapkan rencana tambahan seperti plan b, c dan lainnya,” paparnya.

Masih kata Yoshiyuki Kaneda, ekspedisi Destana ini sangat penting dilakukan di daerah desa yang rawan bencana, yakni untuk mengedukasi, memberikan pemahaman apabila gempa bumi dan tsunami terjadi agar siap siaga. Selain itu, juga berguna untuk melakukan penyusunan peta jalur evakuasi serta lainnya. 

Berita Terkait

Profeser Amerika Sebut di Pangandaran Masih Berpotensi Terjadi Bencana Tsunami

Di Pangandaran, ITB Susun Strategi Bisnis Pariwisata Berbasis Mitigasi Bencana Tsunami

Ahli Geologi & Tsunami Lakukan Penelitian di Pantai Pangandaran

“Di Jepang juga serupa dengan di Indonesia, yakni memiliki kerentanan terhadap gempa dan tsunami. Kerusakan, kehilangan jiwa pernah dialami oleh kita. Makanya, jangan fokus pada penanganan bencana saja, tapi kita justru lupa menikmati alam ini,” ucap Yoshiyuki Kaneda.

Yoshiyuki Kaneda berpesan, agar masyarakat jangan lupa untuk menikmati pemandangan laut yang indah, kehidupan alami seperti di sisi laut Pangandaran. Dalam posisi itu juga jangan lupa menyiapkan diri dari berbagai kemungkinan yang terjadi.

”Menerima alam kita dengan keindahannya, tapi juga mempersiapkan kemungkinan bencana yang akan terjadi. Jadi, saya sarankan jangan pergi dari tempat ini walaupun ada resiko, jangan takut tinggal di pantai yang indah meski rentan bencana Gempa Megathrust. Bangunlah ketangguhan karena banyak aktivitas yang baik kita lakukan,” pungkas Yoshiyuki Kaneda. (Mad/Koran-HR)