Sejarah Green Canyon Pangandaran Berawal dari Petualangan 3 Turis Bule

Green Canyon Pangandaran
Pemandangan hutan tropis dan tebing yang dihiasi bebatuan stalagtit di objek wisata Green Canyon Pangandaran. Foto: Dokumentasi HR

Green Canyon Pangandaran kini sudah menjadi salah satu destinasi wisata terkenal di Indonesia. Namun dibalik terkenalnya objek wisata sungai di Kabupaten Pangandaran Jawa Barat ini terdapat cerita sejarah yang belum diketahui banyak orang.

Cerita itu adalah saat awal Sungai Cijulang ini dibuka untuk tempat objek wisata dan dinamai Green Canyon atau Cukang Taneuh.  

Sebelum dibuka sebagai tempat wisata, sungai di sepanjang objek wisata Green Canyon Pangandaran dikenal angker. Bahkan warga setempat pun jarang yang berani melintas di aliran sungai maupun di bantaran sungainya. 

Namun, dibalik mitos angker yang dipercayai warga setempat, membuat ekosistem alam di sepanjang kawasan objek wisata Green Canyon Pangandaran terjaga dengan baik.

Sebab, dengan adanya mitos tersebut, tidak ada satupun orang yang berani melakukan pengrusakan lingkungan, karena mereka takut dengan mitos dan keangkeran kawasan tersebut yang sudah dipercaya secara turun temurun.   

Tokoh Parawisata Pangandaran, Asep Kartiwa, merupakan salah satu orang yang pertama kali mengeksplore Cukang Taneuh di sungai Cijulang yang kini menjadi objek wisata yang dikenal dengan keunikan alamnya.

Saat berbincang dengan HR Online, belum lama ini, Asep mengaku tidak menyangka Green Canyon Pangandaran kini bisa menjadi salah satu objek wisata favorit dan dikenal unik di Indonesia.

Menurut Asep, aliran Sungai Cijulang yang kini menjadi trek objek wisata Green Canyon Pangandaran dulunya merupakan tempat berburu ular dan beyawak. Dia mengatakan dirinya adalah salah satu orang yang dulu sering berburu di sungai tersebut.

“Jarang sekali orang yang berani masuk ke kawasan sungai yang sekarang menjadi objek wisata Green Canyon Pangandaran. Karena dulu kawasan itu dikenal angker,” katanya.

Asep menambahkan bagi orang yang senang berburu ular dan beyawak tidak pernah mengenal takut. Apalagi yang berkaitan dengan mitos dan mahluk gaib.

“Bukannya kami tidak percaya dengan mahluk halus, tapi kalau niatnya baik atau tidak menggangu dan merusak lingkungan, Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa,” ujarnya.

Asep juga mengaku selama melakukan perburuan di aliran Sungai Cijulang belum pernah mendapati hal-hal yang aneh atau berbau mistis. “Alhamdulilah belum pernah bertemu jurig (hantu), meski berburu di malam hari,” katanya sembari tertawa.

Awal Petualangan 3 Bule di Green Canyon Pangandaran

Asep menjelaskan awal cerita Green Canyon Pangandaran menjadi objek wisata ketika dirinya membawa rombongan turis asing dari Swiss berbahasa Prancis yang berjumlah 3 orang berkeliling di Sungai Cijalu dan Sungai Cijulang dengan menggunakan perahu.

“Sekitar tahun 1989 saya bekerja di hotel Sandaan Pangandaran dan bertemu dengan turis asing tersebut. Turis asing itu meminta kepada saya untuk diantar ke tempat yang paling unik di Pangandaran,” ujarnya.

Menurut Asep, ketika diminta oleh turis asing mencari tempat unik di Pangandaran dirinya sempat kebingungan. Karena waktu itu objek wisata di Pangandaran hanyalah kawasan pantai.

“Waktu itu akhirnya terpikir untuk mengajak turis asing itu ke tempat saya biasa berburu ular dan beyawak. Kemudian saya tawarkan. Ternyata mereka tertarik dan malah memaksa saya untuk mengantar ke tempat tersebut,” katanya.

Asep pun sempat heran kenapa tiga turis asing itu langsung merespon ajakannya. Sebab, biasanya turis asing yang datang ke Pangandaran selalu mencari tempat nyaman yang berada di pesisir pantai.

“Kok ini mau diajak ke sungai yang di sepanjang aliran sungainya dikelilingi hutan yang jarang dijamah manusia. Saya sudah katakan sungai itu angker. Tapi malah menambah mereka penasaran,” terangnya.

Akhirnya, lanjut Asep, petulangan bersama tiga bule itu dimulai. Dari Pangandaran, rombongan naik Bus jurusan Tasik-Cijulang. Sesampainya di terminal Cijulang, kemudian menginap di salah satu hotel di kawasan objek wisata Pantai Batu Karas Pangandaran.

“Sekitar tahun 1989, belum ada hotel berdiri di Pantai Batu Karas. Yang ada hanya penginapan. Itupun jumlahnya hanya beberapa. Waktu itu kami menginap di Batu Karas Beach Cottage,” ujarnya.

Keesokan harinya, petualangan menyusuri aliran sungai di Cijulang dilakukan. Saat itu rombongan menggunakan perahu nelayan dan naik dari dermaga yang berada di Desa Margacinta.

Rute petulangan dimulai dari Sungai Cijalu. Kemudian masuk ke muara Bojong Salawe hingga akhirnya sampai ke aliran Sungai Cijulang.

Saat menyusuri Sungai Cijulang, kata Asep, tiga bule yang dibawanya tampak terkagum-kagum tiada henti saat melihat keindahan alam di sepanjang sungai.

Air yang jernih dari perpaduan air tawar dan air laut sehingga menimbulkan warna kehijau-hujauan, membuat si bule makin terkesima.

“Mulai dari hutan nipah, hutan bakau, hingga hutan tropis kita lalui. Ikan-ikan besar waktu itu terlihat jelas di bawah perahu kami,”

“Pemandangan hutan tropis dan tebing yang dihiasi bebatuan stalagtit, burung warna warni, ular dan biayawak banyak dilihat di sepanjang perjalanan,” katanya.

Asep melanjutkan, saat sampai di ujung sungai atau di daerah Cukang Taneuh, tiga turis bule itu kembali terkagum-kagum.

“Dengan bahasa Prancis mereka tak henti-hentinya berkata, ‘spektakuler’,” katanya.

Warga Kaget Turis Asing Dibawa ke Tempat Angker

Menurut Asep, kekaguman tiga bule itu ketika melihat dinding air terjun yang berada di pinggir sungai. Kekaguman mereka makin menjadi ketika melihat relief-relief bebatuan stalgtit yang tidak henti-hentinya mengeluarkan air.

“Namun, waktu itu ada cerita lucu. Nelayan yang mengantar kami cemas ketika rombongan berlama-lama berada di daerah Cukang Taneuh. Dia khawatir karena daerah itu dikenal angker dan takut terjadi apa-apa pada si bule,” ujarnya.

Kata Asep, begitupun saat rombongan bertemu dengan warga sekitar. Saat perahu akan mengarah ke daerah Cukang Taneuh, tidak sedikit warga yang berada di pinggir sungai berteriak. Mereka meminta rombongan tidak masuk ke daerah tersebut.

Perahu di Sungai Cijulang
Parahu yang mengangkut wisatawan saat menjelajah trek sungai di objek wisata Green Canyon Pangandaran. Foto: Dokumentasi HR

“Apalagi ketika melihat kami membawa rombongan bule. Mereka terus berteriak; mau dibawa kemana itu bule? Jangan masuk ke sana angker dan banyak lagi kata-kata yang keluar dari mulut mereka,” ujarnya.

Ketika mendengar omongan warga, lanjut Asep, dirinya tak bergeming. Karena baginya daerah sungai tersebut sudah biasa didatangi saat berburu ular dan beyawak.

“Yang aneh lagi tidak ada sedikitpun rasa takut dari raut wajah si bule. Mereka malah senang dan ingin berlama-lama berada di daerah Cukang Taneuh,” ujarnya.

Lebih mengejutkan lagi, kata Asep, ketika tiga bule itu mengajak berenang di dekat goa Cukang Taneuh. Meskipun dirinya belum pernah berenang di tempat itu, akhirnya terpaksa harus mengikuti ajakan si bule.

“Saat melihat airnya jernih sampai-sampai ikan-ikan besar dan ikan hias terlihat jelas di dasar sungai, lantas bule itu mengajak berenang. Mungkin waktu itu rombangan kami yang pertama kali berenang di dekat Goa Cukang Taneuh,” katanya.

Asep menambahkan meski di hutan yang berada di atas sungai terlihat penampakan lutung, tupai dan kera tengah bermain di pepohonan, namun tidak membuat si bule ketakutan.

“Saat berenang mereka senangnya begitu kegirangan. Kata mereka alam yang berada di sekitar Goa Cukang Taneuh mirip seperti Green Canyon di Amerika. Keindahan alam seperti itu katanya langka ditemukan. Hanya ada di Amerika dan di Pangandaran,” ujarnya. 

Karena keindahan alam di Cukang Taneuh dikatakan mirip seperti Green Canyon di Amerika, tambah Asep, kemudian objek wisata itu dinamai Green Canyon Pangandaran.

“Jadi, yang memberi nama Green Canyon itu turis bule. Setelah kami mengekspole daerah Cukang Taneuh, banyak bule yang berdatangan ke sini. Mereka lantas menyebut Cukang Taneuh dengan sebutan Green Canyon versi Indonesia,” ujarnya.

Green Canyon Pangandaran
Area body rafting yang menawarkan keindahan alam di objek wisata Green Canyon Pangandaran. Foto: Dokumentasi HR

Guide Ikut Promosikan Green Canyon ke Turis Asing

Setelah selesai melakukan petualangan seharian penuh, kata Asep, rombongan kemudian kembali ke Hotel Sandaan Pangandaran. Sesampainya di hotel, tiga bule asal Swiss itu bercerita pengalamannya kepada teman-temannya.

“Sejarah Green Canyon Pangandaran tidak akan lepas dari petulangan kami bersama tiga bule itu. Karena setelah itu, banyak turis asing lainnya yang meminta diantar ke Cukang Taneuh,” ujarnya.

Menurut Asep, sekitar tahun 1989, belum banyak berdiri hotel di kawasan Pantai Pangandaran. Hotel Sandaan merupakan salah satu hotel terbaik waktu itu dan banyak dipilih oleh turis asing.

“Jadi hotel Sandaan waktu itu jadi tempat menginap turis asing dari berbagai Negara. Makanya, setelah tiga orang bule menceritakan pengalamannya kepada teman-temannya, jadi banyak bule lainnya yang ingin melakukan petualangan di Cukang Taneuh,” katanya.

Terlebih, lanjut Asep, pihak hotel waktu itu bekerjasama dengan guide atau pemandu wisata dari Bandung, Bogor dan Jakarta. Guide-guide itu sering membawa rombongan bule untuk berwisata di Pangandaran.

“Bahkan setelah Cukang Taneuh diminati oleh turis asing, para guide makin masif melakukan promosi. Mereka mempromosikan keindahan Cukang Taneuh yang mirip Green Canyon di benua Amerika, kepada rombongan turis asing yang dibawanya,” ujarnya.  

Menurut Asep, Cukang Taneuh pun akhirnya menjadi berkah bagi para guide. Terlebih salah seorang guide asal Pangandaran bernama Asep Brewok makin gencar mempromosikan Cukang Taneuh.

“Saya bersama teman-teman guide di Pangandaran pun ketiban rezeki. Karena setiap guide dari Bandung dan Bogor membawa turis asing untuk tujuan Cukang Taneuh, pasti menghubungi kami untuk mengantar,” katanya.

Asep mengaku selama dua tahun atau dari tahun 1989 sampai tahun 1991 dirinya menjadi guide turis asing berpetualang di Cukang Taneuh.

Menurutnya, meski selama dua tahun sering mengantar bule ke Cukang Taneuh, namun objek wisata yang kini bernama Green Canyon Pangandaran ini belum banyak dikenal orang.

“Cukang Taneuh waktu itu hanya diminati oleh turis asing saja. Mereka pun hanya melakukan petualangan alam dan belum ada permainan wisata seperti body rafting dan lainnya,” ujarnya.

Green Canyon Pangandaran
Keindahan bebatuan stalagtit di objek wisata Green Canyon Pangandaran. Foto: Dokumentasi HR

Setelah Ramai Green Canyon Pangandaran Diambil Alih Pemda

Setelah memasuki tahun 1992, Cukang Taneuh mulai dikenal di kalangan turis lokal. Bahkan, tidak sedikit warga setempat yang menyediakan perahu untuk mengantar wisatawan ke Cukang Taneuh.

Awalnya, kata Asep, perahu yang tersedia di Sungai Cijulang hanya perahu boseh atau tanpa mesin. Namun, seiring banyaknya wisatawan yang datang, membuat pemilik perahu berinisitif memasang mesin tempel.

“Kalau perahu menggunakan mesin bisa cepat sampai ke Cukang Taneuh dan kembali lagi ke dermaga. Sehingga pemilik perahu akan lebih banyak mengangkut wisatawan,” ujarnya. 

Setelah ramai dikunjungi wisatawan, pada sekitar tahun 1994 Pemerintah Kabupaten Ciamis (Pangandaran belum jadi DOB) membangun dermaga perahu Green Canyon Pangandaran.

Dari sini mulailah kehidupan pariwisata baru yang menyajikan wisata sungai di Kabupaten Ciamis kala itu.

Setelah dikelola Pemda, aturan pun diperketat. Semua perahu harus start satu pintu dari Dermaga Green Canyon. Jumlah perahu pun dibatasi dan hanya perahu yang menggunakan mesin.

Sensasi Body Rafting di Green Canyon Pangandaran

Dari sejarah petualangan 3 bule ke daerah Cukang Taneuh pada tahun 1989, objek wisata Green Canyon Pangandaran kini sudah berusia 30 tahun. Tentu destinasi wisata ini semakin terkenal dan berkembang.

Berwisata ke Green Canyon, kini tidak hanya sekedar menikmati keindahan alam, tetapi juga bisa menikmati sensasi body refting dengan mengarungi sungai yang hingga saat ini masih jernih dan terjaga kelestariannya.

Body rafting adalah berenang yang mengikuti arus sungai. Meski perlu memiliki nyali dalam permainan ini, namun terbilang cukup aman dalam hal keselamatan.

Green Canyon Pangandaran
Keseruan body rafting di objek wisata Green Canyon Pangandaran. Foto: Dokumentasi HR

Karena setiap bermain body rafting di Green Canyon Pangandaran, wisatawan harus menggunakan alat pengaman berupa life jaket atau jaket pelampung, helm pengaman, body protektor, dry bag dan alas kaki. Wisatawan pun dijamin dengan asuransi.

Lokasi body rafting berada di daerah Cukang Taneuh atau saat pertama kali objek wisata ini ditemukan oleh tiga orang bule pada tahun 1989.

Dari dermaga Green Canyon Pangandaran, butuh waktu sekitar 5 menit untuk menuju lokasi Cukang Taneuh dengan menggunakan perahu mesin.

Hanya, apabila wisatawan akan melakukan permainan body rafting, saat berada di dermaga harus bertanya kepada pemilik perahu mengenai tambahan biaya yang diperlukan sebagai jasa antar dan jasa tunggu perahu.

Di dermaga Green Canyon Pangandaran pun terpampang informasi mengenai harga jasa perahu, jasa tunggu perahu dan jasa sewa peralatan body rafting serta biaya pemandu wisata. Sementara kapasitas satu perahu untuk mengangkut 5 orang.

Apabila wisatawan tidak mau mengunakan perahu ke lokasi body refting di Cukang Taneuh, kini bisa menggunakan jalur darat dengan menggunakan angkutan mobil bak terbuka.

Dari dermaga wisatawan diangkut dengan mobil bak ke lokasi body rafting melalui jalur Cimerak atau bisa juga menggunakan jalur Desa Kertayasa. Nanti wisatawan berhenti di daerah Goa Bau untuk masuk ke aliran sungai di Cukang Taneuh.

Dari Goa Bau wisatawan langsung terjun ke aliran sungai menikmati sensasi body rafting di objek wisata Green Canyon Pangandaran. Dari sana wisatawan harus mengarungi sungai sepanjang 4 kilometer untuk menuju Cukang Taneuh.

Di sepanjang aliran sungai wisatawan akan menemukan tantangan yang memicu adrenalin. Diantaranya arum jeram dan tantangan melompat ke sungai dari ketinggian 5 hingga 10 meter.

Setelah puas dan mencapai titik finish di Cukang Taneuh, wisatawan bisa menggunakan perahu untuk kembali ke dermaga Green Canyon Pangandaran.

Apabila wisatawan memilih paket wisata body refting di Green Canyon Pangandaran, biasanya sudah termasuk layanan makan dan minum selama trip body rafting.

Selama menikmati sensasi body rafting, wisatawan akan dipandu oleh pemandu- pemandu handal yang sudah mengenal medan. Mereka sudah paham arus sungai yang aman untuk dilalui di sepanjang jalur rafting.

Untuk memilih paket wisata yang diinginkan, wisatawan bisa menghubungi operator rafting yang sudah berpengalaman. Para operator rafting itu gampang ditemui di sekitar dermaga Green Canyon Pangandaran.

Di Green Canyon Pangandaran Sudah Terdapat Hotel dan Restoran

Seiring berkembangnya objek wisata Green Canyon Pangandaran, kini di sekitar objek wisata sudah banyak berdiri home stay, hotel, restorant, warung makanan dan oleh-oleh. Lokasi itu tidak jauh dari dermaga.

Kawasan sungai yang dijadikan trek objek wisata Green Canyon berada di empat wilayah desa, yaitu Desa Cijulang, Desa Batukaras, Desa Kertayasa Kecamatan Cijulang dan Desa Cimerak Kecamatan Cimerak.

Sementara itu, apabila wisatawan berkunjung ke Green Canyon Pangandaran pada musim penghujun, jangan aneh apabila objek wisata ini ditutup sementara.

Karena apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi, air sungai di sepanjang trek objek wisata terkadang berubah berwarna coklat. Terlebih debit air sungainya pun meninggi.

Demi menjaga keselamatan wisatawan, pihak pengelola Green Canyon Pangandaran sering memutuskan untuk menutup sementara layanan objek wisata.

Air yang mengalir ke Sungai Cijulang berasal dari banyak hulu sungai, diantaranya dari daerah Cibanten, Langkaplancar dan Selasari. Karena itu, meski di wilayah Cijulang tidak hujan, namun di hulu sungai terjadi hujan deras, air sungai Cijulang terkadang berubah berwarna coklat.

Namun, pengelola Green Canyon Pangandaran selalu berkoordinasi dengan jaringannya di hulu sungai. Misalnya dengan menghubungi pihak pengelola Bendungan Merjan, Pengelola wisata Ciwayang atau pengelola wisata Goa Lanang untuk menanyakan kondisi debit air.

Apabila debit air di hulu sungai dilaporkan meningkat, pihak pengelola Green Canyon Pangandaran langsung melakukan penutupan objek wisata. Hal itu dilakukan demi kenyamanan dan keselamatan wisatawan. (Bgj/R2/HR-Online)