Warna Bulan Sebenarnya di Luar Angkasa yang Perlu Diketahui

Warna Bulan Sebenarnya
Warna Bulan Sebenarnya di Luar Angkasa. Foto: Net/jabar.tribunnews.com

Warna bulan kadang terlihat merah, putih, kuning atau abu-abu. Tapi tahukah anda sebenarnya warna aslinya itu yang mana? Anda tentunya penasaran, mengapa banyak sekali warna yang dihasilkan oleh bulan.

Sama seperti planet lain bumi juga punya satelit. Salah satu satelit bumi yaitu bulan. Bulan merupakan satelit bumi alami satu-satunya. Bila ditinjau dari ukurannya, bulan menjadi satelit alami dengan urutan kelima terbesar dari satelit alami yang ada di dalam tata surya.

Bila dilihat dari bumi bulan tampak punya sinar yang terang. Tetapi faktanya bila di pelajari lebih lanjut sebenarnya bulan tidak punya sinar sendiri. Sinar yang tampak dari bulan adalah pantulan sinar matahari yang dipancarkan oleh bulan.

Pada waktu siang hari anda masih dapat melihat bulan. Bulan akan tampak berwarna putih kebiruan. Sementara itu saat malam hari bulan tampak sedikit kuning. Bila posisi bulan sedikit rendah akan memiliki warna kemerahan.

Saat anda melihat lebih dekat menggunakan teleskop. Atau lewat hasil jepretan foto dari observatorium bulan akan tampak memiliki warna abu-abu dengan sedikit noda kehitaman. Yang jadi pertanyaan adalah seperti apa warna bulan yang sebenarnya?

Sebenarnya warna asli dari bulan adalah warna yang diperoleh dari hasil jepretan foto teleskop yang berbasis luar angkasa. Hal ini dikarenakan hasil gambar yang diperoleh relatif lepas dan dari pengaruh atmosfer bumi.

Abu-abu menjadi warna sebenarnya dari bulan. Mengapa bisa memiliki warna abu-abu? Mengapa tidak coklat atau hitam seperti bumi pada bumi?

Warna bulan abu-abu yang diperoleh dari paduan unsur seperti magnesium, aluminium, silikon dan kalsium bahkan juga bercampur dengan oksigen. Batuan yang memiliki warna sedikit cerah disebut sebagai bagai plagioclase feldspar. Sementara batuan yang lebih gelap disebut pyroxene.

Kebanyakan batuan yang ada di permukaan bulan adalah batuan vulkanik yang keluar dari perut bulan ketika gunung meletus. Sebenarnya ada pula batuan bulan yang memiliki warna kehijauan dan disebut sebagai olivine. Tapi jumlahnya memang tidak banyak.

Daerah yang memiliki noda bercak kehitaman disebut sebagai lunar maria. Memiliki bentuk yang berasal dari bekuan banjir magma karena letusan gunung vulkanik yang terjadi di masa awal bulan.

Sifatnya kurang bisa memantulkan cahaya, sehingga dari bumi terlihat sedikit gelap. Lunar maria adalah daerah yang memiliki luas 16 persen dari permukaan bulan. Bagian tersebut kebanyakan menghadap ke bumi sehingga dapat dilihat oleh manusia.

Lunar maria sendiri diperkirakan terbentuk antara 3 sampai 3,5 miliar tahun lalu. Itu terjadi ketika gunung berapi bulan masih aktif.

Mengapa Warna Bulan Kadang Berubah?

Saat memandang bulan dari bumi sebenarnya atmosfer menghalangi pandangan secara langsung. Partikel yang ada di atmosfer dapat menyebarkan gelombang cahaya. Sehingga menjadikan warna bulan berbeda dari aslinya.

Ketika posisi bulan tidak terlalu tinggi maka warna biru dari atmosfer bumi pudar. Sedangkan warna merah masih ada. Jadi bulan akan terlihat kemerahan.

Sementara itu saat bulan posisinya sedikit lebih tinggi. Maka blocking dari atmosfer bumi mengakibatkan waktu siang hari bulan tampak berwarna putih kebiruan. Inilah yang mengakibatkan warna yang terlihat pada bulan sering berbeda-beda.

Di bumi sendiri pernah terjadi fenomena gerhana bulan merah darah atau blood moon. Ini menjadi salah satu tanda bahwa bulan dapat terlihat dalam berbagai macam warna. Semuanya disebabkan oleh efek pantulan atmosfer bumi.

Perubahan warna yang ada pada bulan dapat berwarna kuning, merah dan sedikit kebiruan. Tergantung dari sedikit banyaknya awan dan debu yang menyelimuti atmosfer bumi. Sebab ini dapat mempengaruhi cahaya pantulan dari matahari.

Permukaan Bulan

Kita bisa melihat bulan dengan cukup jelas dari bumi tanpa binocular dan teleskop. Kita bisa melihat bahwa bulan punya permukaan yang kecerahannya tidaklah sama. Ada beberapa bagian yang terang dan sebagian gelap.

Bulan seperti permukaan yang halus bila dilihat secara kasat mata. Tapi hal ini terbantahkan karena Galileo mendapati permukaan bulan sebenarnya tidak rata. Namun memiliki banyak kawah dan berbukit-bukit.

Karakteristik permukaan pada bulan sendiri berhubungan dengan kecerahannya. Daerah yang terlihat terang punya permukaan yang berbukit bukit dan banyak kawa. Sementara daerah yang lebih gelap menjadi permukaan yang memiliki sedikit kawah.

Sebelumnya sudah dilakukan pengukuran medan gravitasi bulan. Melalui pelacakan pergeseran doppler dalam sinyal audio yang dipancarkan pesawat ruang angkasa yang telah mengorbit bulan.

Gravitasi bulan ini memiliki bentuk konmas. Anomali gravitasi positif yang berkaitan dengan beberapa basin tubrukan besar. Sebagian lagi diakibatkan dari aliran lava basaltik mare padat yang telah memenuhi basin.

Hubungan antara bumi dan bulan juga sangat erat. Di mana iklim di planet bumi dan juga pasang surut air laut bumi tidak lepas dari pengaruh bulan.

Kita yang tinggal di bumi juga dapat melihat bulan dengan jelas dengan berbagai macam warna bulan yang menarik karena pantulan cahaya. (R9/HR-Online)