2 Orang Meninggal di Bantaran Sungai Citanduy Perbatasan Ciamis Dikaitkan Hal Mistis

bantaran Sungai Citanduy
Karmo (80), juru kunci makam Eyang Joyo Sukatmo

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Dua orang warga Desa Cintaratu, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat beberapa waktu dikabarkan meninggal dunia setelah ditemukan di bantaran Sungai Citanduy. Bantaran sungai tersebut persis di perbatasan antara Kota Banjar-Ciamis, tepatnya di antara Desa Waringinsari Kota Banjar dan Desa Cintararu Lakbok.

Solikin, salah satu warga yang meninggal, sebelumnya ditemukan warga setempat sudah tak berdaya di lokasi yang dikenal keramat itu pada Sabtu (31/8/2019) lalu.

Menurut Suroto (45), salah satu warga, mengatakan, Solikin sebelumnya salah satu warga tersebut pada Jum’at (30/8/2019) mendatangi salah satu sahabatnya, untuk mengajak mencari kayu bakar di lokasi itu. Saat itu, sahabatnya itu sedang di luar dan Solikin pun berangkat sendiri mencari kayu bakar.

Hingga maghrib, kata Suroto, Solikin tak kunjung pulang dan membuat keluarga serta tetangganya cemas. Bahkan, sekitar 50 warga serta keluarga mencari keberadaan Solikin di sekitar bantaran Sungai Citanduy hingga dini hari tak kunjung ditemukan.

“Nah pada pagi harinya, warga dan keluarga mencari lagi di tempat yang sama. Anehnya, dia (Solikin) bisa ditemukan, namun keadaannya kritis di sebelah kayu hasil pencariannya,” kata Suroto menjelaskan, Minggu (15/9/2019).

Karena kondisi itu, Solikin pun dibawa ke Puskesmas Langensari dan dirujuk ke RSUD Kota Banjar. Sayangnya, nyawa Solikin tidak bisa ditolong dan ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Kabar meninggalnya Solikin pun tersiar. Sebagian warga ada menyangkut pautkan peristiwa tersebut dengan berbagai kejadian mistik lantaran lokasi ditemukannya dikenal keramat.

Sepuluh hari Kemudian, salah satu warga juga dikabarkan meninggal di lokasi tersebut saat mencari kayu bakar sambil menggendong cucunya. Ia diketahui warga sudah tak sadarkan sekitar pukul 14.00 WIB.

Ading (35), salah satu warga, menduga kematian tersebut erat kaitannya dengan amarah penunggu Pohon Serut di sekitar lokasi ditemukannya Solikin.

“Kemarin kan Pohon Serut itu dirusak oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Apalagi di lokasi tersebut ada Makam Eyang Joyo Sukatmo, salah satu tokoh yang membuka lahan di wilayah ini,” ujar Ading.

Tokoh Pembuka Bantaran Sungai Citanduy

Karmo (80), juru kunci makam Eyang Joyo Sukatmo, membenarkan Pohon Serut yang tumbuh di sekitar Makam dirusak oleh orang yang tidak bertanggungjawab.

“Beberapa waktu yang lalu, pohon bambu di sekitar Makam memang dibongkar oleh pemilik tanah, supaya terlihat bersih, tapi tidak dengan Pohon serutnya. Sebab, Pohon Serut tersebut karena merupakan Tanda dari Makam Mbah Joyo Sukatmo, dan benar adanya bahwa Pohon Serut yang berada tepat di Makam diacak-acak akarnya oleh orang tidak bertanggungjawab dan hilang separuh,” kata Karmo, Minggu (15/9/2019).

Karmo menyebutkan, kabar meninggalnya dua orang yang merupakan sahabat karib terdengar olehnya. Meski ramai menjadi perbincangan, ia mengungkapkan bila kematian keduanya karena darah tinggi.

“Menurut Dokter, Solikin tekanan darahnya mencapai 280, dan satunya lagi mencapai 180. Jadi, bila ada yang mengaitkan dengan penunggu di sana, mungkin hanya kebetulan saja. Yang menentukan seseorang hidup atau mati kan Alloh, bukan penunggu pohon,” kata Karmo.

Kaitannya dengan Pohon Serut yang tumbuh di sekitar Makam Eyang Joyo Sukatmo, kata Karmo, merupakan tanda dari Mbah Joyo yang merupakan tokoh pembuka atau Babad Alas di wilayah Dusun Citamian, Desa Cintaratu. Joyo Sukatmo diketahui berasal dari Brebes, Jawa Tengah, dan tinggal di bantaran Sungai Citanduy setelah pindah ke wilayah Jawa Barat itu.

“Dulu di sana ada perkampungan, Mas. Ada sekitar 1 RT. Saya ingat sekali sekitar tahun 1955 saat Pemilu pertama digelar, di sana masih ada perkampungan, tapi sekarang sudah tidak ada,” ungkap Karmo.

Setelah tokoh tersebut meninggal, banyak warga yang berziarah ke makamnya sebagai penghormatan kepada salah satu tokoh yang membuka wilayah tersebut.

“Paling yang datang ke sana orang-orang tertentu saja yang tahu sejarahnya. Alhamdulillah warga sini peduli dengan tempat peristirahatan beliau, dan sekarang sudah dipagar,” pungkasnya. (Sugeng/R6/HR-Online)

Berita ini sudah dilakukan revisi. Kepada pihak yang keberatan, kami mohon maaf.