Eyem, Warga Ciamis yang Lumpuh dan Tinggal di Gubug Sendirian

wanita tua di Ciamis
Eyem (63), warga Dusun Sindangjaya, RT 24 RW 05, Desa Neglasari, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis Jawa Barat, tinggal sendirian di sebuah gubug dengan kondisi lumpuh. Foto: Suherman/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),– Eyem (63), warga Dusun Sindangjaya, RT 24 RW 05, Desa Neglasari, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis Jawa Barat, tinggal sendirian di sebuah gubug berukuran 2,5m x 4 meter dengan kondisi lumpuh.

Namun, meski kondisinya lumpuh, wanita tua di Ciamis ini tetap bersabar dan bertahan hidup sendiri. Beruntung ia memiliki para tetangga yang memperhatikannya, hampir setiap hari ada saja tetangga yang menjenguknya.

Saat ditemui di kediamannya, Kamis (12/09/2019), Eyem mengaku terbiasa hidup dalam kesendirian. Ia mengungkapkan, kelumpuhan yang ia derita sudah berlangsung selama puluhan tahun.

“Sejak kecil kondisi saya sudah lumpuh, kata orang tua saya sih kelumpuhan ini terjadi akibat  sakit panas saat masih bayi. Meski kedua kaki saya sulit untuk digerakan, namun saat itu saya tetap semangat untuk bertahan hidup. Jangka adalah teman saya dalam keseharian,” katanya.

Eyem juga sempat menikah, dari pernikahannya tersebut ia dikaruniai seorang anak laki-laki yang sering menjenguk dan menemaninya jika tidak bekerja di luar kota.

“Usia pernikahan itu hanya berlangsung setelah saya mempunyai anak, saya pun diceraikannya. Ya mungkin karena kondisi saya yang membuat suami harus meninggalkan saya,” katanya.

Setelah menjanda, Eyem kembali menikah lagi dengan seorang laki laki lain, namun suami keduanya pun kembali meninggalkan Eyem.

“Saat itu suami saya berpamitan untuk pergi merantau ke kota, namun lama di kota, tiba tiba dia datang dan memberi kabar kepada saya jika dirinya sudah menikah lagi dengan wanita lain, dia bicaranya tidak akan menceraikan saya namun dia sendiri yang pergi dengan istri barunya,” terangnya.

Wanita tua di Ciamis ini mengaku ikhlas menjalani hidup dalam kondisi seperti saat ini. Dia pun harus rela hidup sendiri, dengan sisa tenaganya ia bertahan untuk menghidupi dirinya sendiri.

“Untuk masak saya masih bisa melakukannya sendiri. Karena lokasi tungkunya juga kan berdekatan dengan tempat tidur saya. Jadi saya bisa berusaha untuk menggapai meski dengan cara ‘ngesot’. Alhamdulillah sih para tetangga saya pada baik. Mereka pula lah yang menyediakan kebutuhan, seperti kayu bakar dan yang lainnya,” katanya.

Masih dikatakan Eyem, dia mengaku jika saat ini kondisi penyakitnya dirasakan makin bertambah parah sehingga membutuhkan bantuan tenaga orang lain.

“Jika dulu saya masih bisa untuk berjalan dengan dibantu jangka, namun sekarang saya sudah tidak kuat lagi menggunakan jangka. Mungkin karena usia makin tua, jadi tenaga saya sudah semakin berkurang dan tak kuat lagi mengangkat badan sendiri,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Desa Neglasari, Deni Nono Sunaryo melalui Sekretaris Desa, Apan Ruspandi membenarkan kondisi Eyem yang mengalami kelumpuhan sejak puluhan tahun silam.

“Benar Nek Eyem adalah salah satu warga kami yang mengalami kelumpuhan yang sangat lama. Setahu kami dia dari dulu sudah mengalami kelumpuhan,” katanya.

Apan juga mengatakan, Eyem merupakan salah satu penerima bantuan sosiak di Desa Neglasari. untuk bantuan sosial.

“Rumahnya juga dulu sangat memprihatinkan sekali, hingga warga sekitar bersama-sama secara swadaya membangun rumah untuk Nek Eyem, meski ukurannya kecil,” katanya. (Suherman/R7/HR-Online)