Berjalan di Atas Bambu ‘Rarakaan’, Ini Filosofinya Menurut Warga Lumbung Ciamis

lomba berjalan di atas bambu
Salah satu santri DKM Miftahul Huda, Dusun Gunung Sawung, Blok Pasir Panjang, Desa Lumbungsari, Kecamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis, mengikuti lomba berjalan di atas bambu di tengah sawah, Minggu (8/9/2019). Foto: Edji/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),– Lomba berjalan di atas bambu yang sering disebut ‘rarakaan’ oleh warga Ciamis, Jawa Barat ternyata punya filosofi tersendiri.

Salah satunya seperti berjalan di atas bambu yang digelar DKM Miftahul Huda, Dusun Gunung Sawung, Blok Pasir Panjang, Desa Lumbungsari, Kecamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis, dalam rangka memeriahkan Tahun Baru Islam.

Uniknya, lomba yang diikuti oleh para anak-anak santri DKM Miftahul Huda tersebut digelar di tengah pesawahan, Minggu (8/9/2019).

“Lomba berjalan di atas bambu merupakan hiburan anak-anak santri DKM Miftahul Huda dalam memeriahkan tahun baru Islam,” ujar Umin, warga setempat.

Kata dia, lomba berjalan di atas bambu tidak hanya sebatas memperebutkan hadiah, namun ada mendalam terutama untuk melatih kesabaran, keseimbangan dalam meraih hadiah.

“Sebab permainan tersebut sekalipun terlihat sederhana, tapi perlu sikap kesabaran juga badan yang sehat karena perlu menjaga keseimbangan,” terangnya.

Lanjut Umin, permainan tradisional sendiri secara luas sudah dikenal oleh masyarakat sejak jaman dahulu.

“Namun, permainan ini ada yang populer pada zamannya, ada juga yang populer dari zaman dahulu dan masih populer sampai sekarang, termasuk permainan tradisional berjalan di atas bambu ini,” ungkap Umin.

Umin menjelaskan, permainan tradisional berjalan di atas bambu disebut masyarakat sekitar dengan istilah Rarakaan (Bahasa Sunda).

“Disebut sebagai Rarakaan karena setiap peserta yang tidak bisa berjalan di atas bambu, akan jatuh ke dalam lumpur tanah,” katanya.

Hal tersebut, kata dia, bisa dijadikan sebagai suatu gambaran tidak semua orang bisa berjalan di atas bambu.

“Ada filosofinya juga, yakni gambaran juga ketika nanti menyebrang di jembatan sirotol mustaqim, karena itu disebut rarakaan dari kata naraka atau neraka dalam Bahasa Sunda,” pungkasnya . (Edji/R7/HR-Online)

Loading...