Hasil Panen Lebih Menjanjikan, Petani di Kota Banjar Ini Pilih Tanam Bawang Merah

Bawang Merah
Ari, saat menyiram tanaman bawang merah miliknya di Blok Mundu, Dusun Girimulya, Desa Binangun, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar. Foto: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Sejak 1,5 tahun lalu, Ari Ariyana (40), warga Dusun Girimulya, Desa Binangun, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, sudah mengembangkan budidaya bawang merah di lahan sawah miliknya seluas 250 bata, tepatnya di Blok Mundu.

Alhasil, sawah yang biasanya ditanami padi kini disulap menjadi tanaman bawang, seperti halnya petani di Brebes. Bahkan, hasilnya pun tidak main-main, bisa mencapai 2,1 ton, jika dirupiahkan sekitar Rp 50 juta untuk sekali panen dengan harga jual Rp 25 ribu per kilogramnya.

Saat ditemui di lahan pertanian bawang merahnya, Ari mengungkapkan kalau dirinya sudah 6 kali panen sejak 1,5 tahun lalu. Ia melihat potensi pengembangan bawang merah di wilayahnya sangat bagus, apalagi daerahnya sangat dekat dengan tempat penjualan, yakni Pasar Banjar.

“Jualnya ke Pasar Banjar, yang dekat saja. Alhamdulillah, sudah 6 kali panen dan hasilnya lumayan. Tadinya ini digunakan untuk padi, tapi karena bawang lebih menjanjikan, makanya saya beralih ke pertanian bawang merah,” jelas Ari, Senin (09/09/2019).

Ihwal ilmu pertanian bawang merah, ia mengaku belajar secara otodidak dan beberapa kali melakukan kunjungan ke wilayah Brebes dan Majalengka. Dari hasil pengalaman yang pas-pasan, dirinya tetap bertekad ingin mengembangkan tanaman yang memiliki nama latin Allium cepa L ini.

“Saya kalau ada apa-apa selalu konsultasi ke yang ada di Brebes. Di sana kan banyak ahlinya, sedangkan di sini kan ke siapa. Bibitnya pun saya beli dari sana,” ungkap Ari.

Dalam sekali tanam hingga panen, ia membutuhkan modal sekitar Rp 16 juta hingga Rp 17 untuk lahan seluas 250 bata. Nominal tersebut digunakan untuk membeli bibit sekitar Rp 6 juta hingga Rp 7 juta, dan sisanya digunakan untuk perawatan, mulai dari pupuk, operasional, buruh, serta mesin.

Menurt Ari, jika dibandingkan dengan tanaman padi, menanam bawang merah lebih menjanjikan meskipun modalnya besar. Karena, bawang merah bisa dipanen dua bulan sekali, sehingga perputarannya cukup cepat.

“Berbeda dengan padi. Makanya banyak petani yang ingin seperti beralih seperti saya, tapi mereka terkendala modal yang cukup besar,” ujarnya.

Untuk kendala yang dihadapi dalam budidaya bawang merah ini hanya gangguan ulet saja. Sedangkan, musim kemarau maupun musim hujan tidak menjadi persoalan bagi tanaman tersebut.

Ari juga menjelaskan, dalam proses penanaman hari pertama hingga 30 hari, perlu dilakukan penyiraman dua kali dalam sehari, yakni pagi dan sore. Sedangkan, hari ke-31 hingga ke-60 disiram hanya pada sore harinya saja.

“Kalau musim kemarau, kebetulan saya ambil airnya dari sungai. Kalau musim hujan dibalik, saya kembalikan airnya ke sungai,” imbuh Ari, sambil tertawa.

Dari moncernya bisnis budidaya bawang merah ini, rencananya para petani sekitar yang memliki lahan sawah seluas kurang lebih 4 hektare di tahun depan akan menanam bawang merah serentak. Sehingga, sawah yang berada di Blok Mundu ini menjadi salah satu ikon daerah yang menghasilkan bawang merah dari Kota Banjar.

“Sebenarnya bisa saja di Kota Banjar dikembangkan, tinggal dites dulu kontur tanahnya apakah cocok atau tidak. Kalau cocok, berarti bagus kan di Banjar sudah ada petaninya sendiri. Jadi, ketika harga bawang naik, di sini bisa tetap stabil karena bisa dipasok dari dalam daerah,” pungkasnya. (Muhafid/Koran HR)

Loading...
Loading...