Yadi Ajak Masyarakat Kota Banjar Kembangkan Tarum Areuy

Tarum Areuy
Tanaman Tarum Areuy yang dikembangkan Yadi Supriadi. Foto: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Seorang pemuda Kota Banjar, Yadi Supriadi (39), mengembangkan salah satu tanaman langka yang berguna sebagai pewarna kain alami. Tanama yang bernama Tarum Areuy ini begitu lekat dengan nama salah satu daerah di Kota Banjar, yakni Pataruman.

Yadi menuturkan, dirinya mengembangkan tanaman ini sejak tahun 2016 bersama teman-teman pecinta tanaman liar lainnya. Dari kegigihannya mengembangkan tanaman ini, nama tanaman tersebut pun makin dikenal banyak orang, terutama di kalangan pemerintah.

Dia menjelaskan, Tarum Areuy merupakan bahan untuk pewarna kain khas nusantara yang dikenal sejak zaman dulu. Di Jawa Barat sendiri, sebuah tempat yang mengolah tanaman ini dikenal sebagai Pataruman, seperti di wilayah Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, dan di Kota Banjar.

“Biasanya, Pataruman itu identik sekali dengan gudang uyah atau garam. Sebab, salah satu manfaat garam adalah untuk memperkuat warna kain. Termasuk di Banjar, terdapat gudang garam,” terangnya, kepada Koran HR, Selasa (17/09/2019).

Jika dilihat dari sejarah, lanjut Yadi, dahulu kala wilayah Kota Banjar dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kain. Hal itu erat kaitannya dengan Bedeng Mataram yang berarti tempat peristirahatan orang-orang Mataram.

Pada saat itu, orang-orang Mataram membutuhkan kain dan pewarna alami yang ada di Banjar. Sedangkan orang Banjar sendiri membutuhkan garam untuk menguatkan warna.

“Jadi, dulu orang Mataram di sini istirahat di Bedeng Mataram sambil menunggu kain pesanannya selesai. Sedangkan, di Banjar sendiri ada di dua lokasi, di Randegan dan Cikabuyutan. Banjar dikenal sebagai karang pamidangan yang berarti tempat istirahat, salah satu ciri khasnya adalah penghasil kain dan pewarna alami,” jelasnya.

Dari ketekunannya itu, Yadi memiliki tujuan yang begitu besar, yakni memasyarakatkan Tarum Areuy. Artinya, ia berkeinginan masyarakat di Kota Banjar bisa menanam Tarum yang kemudian memunculkan lagi Banjar sebagai salah satu penghasil pewarna alami dan kain.

Dia menilai, jika melihat respon pemerintah, sejauh ini memang begitu antusias. Bahkan, dirinya sering diikutkan sertakan dalam berbagai pameran, baik di Kota Banjar maupun di luar daerah.

Meski begitu, dirinya mengaku tak puas sampai di situ, karena impian terbesarnya adalah Kota Banjar kembali dikenal karena produksi pewarna alami dan kain.

“Potensi yang sangat besar salah satunya dari Tarum ini. Meski di daerah lain ada, tapi belum tentu mereka fokus terhadap pemanfaatan tanaman liar ini. Sehingga, ini sangat berpeluang untuk kita kembangkan,” ujar Yadi.

Bila ada masyarakat yang berkeinginan untuk menanam Tarum Areuy, bisa datang langsung ke TPS Cibodas yang berada di Lingkungan Jelat, Blok I, Kelurahan Pataruman, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar. Di sana Yadi mengembangkan tanaman tersebut bersama para pecinta dan aktivis lingkungan lainnya.

“Batik Banjar kan ciri khasnya tanaman Tarum. Jadi, kita ingin tanaman ini lebih dikenal dan ditanam oleh masyarakat Banjar. Apalagi dalam perawatannya tidak susah, hanya membutuhkan air dan bisa ditanam di mana saja menggunakan pot,” pungkasnya. (Muhafid/Koran HR)