Memilih Peduli, Komunitas Mata Hati Rangkul Anak Punk Banjarsari

anak punk Banjarsari
Anak-anak punk bersama komunitas Mata Hati ketika kegiatan pengecatan rumah Salim, warga Banjarsari yang mendapat bantuan bedah rumah dari komunitas Mata Hati dan Jabar Bergerak. Foto: Suherman/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),– Sebagian orang mungkin akan memandang sebelah mata terhadap keberadaan anak punk, bahkan banyak yang berpendapat jika anak punk adalah sekumpulan anak muda yang arogan, pemalas dan tidak mempunyai masa depan. Namun, berbeda dengan puluhan anak punk Banjarsari.

Adalah Komunitas Mata Hati Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, yang telah bersinergis dan mengarahkan para anak punk Banjarsari, sehingga mereka bisa bangkit dan merasa lebih terangkat derajatnya.

Mohammad Abid Buldani, Ketua Mata Hati Banjarsari, mengatakan, para anak punk bukan untuk dijauhi atau dimusuhi. Namun perlu mendapat perhatian dari semua pihak agar mereka lebih berjiwa sosial dan bermanfaat bagi khalayak.

“Sebenarnya mereka sama dengan kita. Punya cita-cita yang tinggi, harapan yang besar dalam menjalani kehidupan di dunia ini, namun kondisi nasib mereka saja yang berbicara lain, sehingga mereka terkesan sebagai sampah dan tak berguna,” ujar Abid, Minggu (1/9/2019).

Menurut Abid hati para anak punk tersebut tulus. Kata dia, adakalanya, mereka juga menangis saat masyarakat tak memandang dirinya sebagai manusia yang berguna, mereka juga berkeinginan sama dengan manusia lainnya.

“Bagi mereka, jadi anak punk hanyalah sebagai pelampiasan diri untuk mencari jati diri, dimana pendapat mereka, punk adalah sebuah komunitas yang mengajarkan akan arti sebuah kebersamaan, satu rasa dalam penderitaan, satu rasa dalam kebahagiaan dan tidak adanya rasa ketergantungan dengan para penguasa serta memerdekakan diri dari rasa tekanan dari pihak mana pun,” tegas Abid.

Melalui Lingkar Mata Hati, lanjut Abid, pihaknya mengajak komunitas punk untuk melakukan hal-hal positif yang bermanfaat bagi orang lain.

“Seperti hari ini, kami mengajak mereka untuk ikut kegiatan  bakti sosial di lingkungan. Ternyata mereka sebenarnya mempunyai keahlian dan skill hebat, mereka juga selalu semangat untuk melakukan aktivitas bersama warga,” katanya.

Abid mencontohkan, kegiatan yang dilakukan Mata Hati bersama Komunitas Punk, pada Sabtu (31/8/2019) kemarin. Mereka bersama-sama melakukan pengecatan rumah milik Salim di Dusun Tuban, Desa/Kecamatan Banjarsari.

“Rumah Bapak Salim ini sebelumnya adalah garapan bedah rumah yang dilakukan oleh komunitas Lingkar Mata Hati dan Jabar Bergerak. Alhamdulillah, mereka, anak-anak punk ini semangatnya luar biasa sekali,” katanya.

Abid menambahkan, dari jauh-jauh hari para anak Punk Banjarsari sengaja datang ke Sekretariat Mata Hati. Selain berdiskusi tentang masalah kehidupan dan sosial, kata Abid, mereka juga curhat atas beberapa perlakuan yang dianggap melemahkan dan merendahkan anak punk. 

“Mereka juga sempat menceritakan salah satu kejadian yang sangat mengerikan, dimana ada sebuah daerah yang menolak keberadaan komunitas punk ini. Bahkan perlakuan kasar pun terjadi menimpa mereka. Sungguh miris juga kami mendengar curhatan mereka,” kata Abid.

Anak Punk Banjarsari Pernah Mendapat Perlakuan Keji

Adit, salah seorang anggota anak punk Banjarsari mengaku, jika dalam  perjalanan hidupnya sebagai anak punk memang tak seindah yang ia bayangkan. Dalam benaknya masih tersimpan kenangan buruk saat dirinya menjadi korban persekusi salah satu oknum ormas.

“Kejadian penolakan terhadap anak punk di wilayah Kawali adalah salah satu kejadian  yang sangat mengerikan bagi saya, dimana saat itu saya merasa diperlakukan sangat tidak adil sekali. Saat kejadian itu kepala saya sempat dipukul Senpi oleh salah satu oknum Ormas di sana,” katanya.

Padahal, kata Adit, dirinya tak tahu menahu persoalan apa yang terjadi sebelumnya. Tiba tiba saja saat dirinya bersama anggota lainnya tiba ke daerah itu, ia langsung dihardik dan diusir dengan sangat kasar.

“Yang paling sedih adalah ketika semua anak punk disamaratakan dan dituduh selalu membuat onar, padahal itu tidak benar,” lanjutnya.

Adit mengaku meskipun tampilannya seperti umumnya anak punk lainnya, namun dirinya tidak ingin membuat onar di sebuah daerah.

“Justru ketika saya ikut komunitas punk ini adalah ingin merasakan bagaimana rasanya sebuah kebebasan, bukan bebas tanpa batas, namun itulah kehidupan, warga selalu memandang dari sisi negatifnya saja terhadap keberadaan punk,” katanya.

Hal senada dikatakan Ketua Punk Banjarsari, Eeng, dia mengaku sangat menyesalkan atas perlakuan yang tidak adil terhadap para anak punk. 

“Saat kejadian itu saya sangat bingung untuk mencari perlindungan, sementara Dinas Sosial hanya terkesan sebatas bisanya menangkap, menertibkan tanpa memberikan arahan sedikitpun kepada kami punk,” ungkap Eeng.

Namun, lanjut Eeng, dirinya bersyukur bisa dipertemukan dengan Komunitas Mata Hati yang merangkul dan mengajak komuitasnya untuk melakukan kegiatan yang positif dan juga memberikan arahan cara bersosialisasi dengan baik.

“Kami juga mengucapkan terima kasih banyak kepada Lingkar Mata Hati yang telah sudi untuk menampung dan memberikan arahan kepada kami,” katanya.

Informasi HR Online di lapangan, saat ini Lingkar Mata Hati berencana akan mendirikan sebuah rumah singgah untuk para anak jalanan, di rumah singgah tersebut, nantinya para anak jalanan akan diberikan pendidikan dan keterampilan sehingga bermanfaat bagi masa depan para anak jalanan. (Suherman/R7/HR-Online)