Musim Kemarau, Pengrajin Bata di Pangandaran Banjir Order

Pembuatan Bata Merah
Tobong bata milik salah satu warga Desa Paledah. Foto: Entang/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Kemarau panjang tidak selamanya berdampak buruk bagi sebagian orang. Pasalnya, para pengrajin bata merah di Dua Dusun yang ada di Desa Paledah, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran justru kebanjiran order lantaran sedang banyak yang membangun rumah.

Sano, Kepala Deas Paledah, mengungkapkan, di Dusun Purwasari dan Neglasari sebanyak 300 warga berprofesi sebagai pembuat bata merah.

Di musim kemarau ini, kata Sano, warganya itu saat ini sedang mujur lantaran diuntungkan dengan kondisi cuaca yang cerah dan terik. Hal itu akan membuat bata mereka lebih cepat kering.

“Apalagi sekarang banyak yang membangun rumah, otomatis pesanan ke mereka banyak. Dan ini sangat berbeda dengan musim hujan,” katanya, Senin (16/9/2019).

Tasiran, salah satu pengrajin bata, mengatakan, di musim kemarau ini permintaan bata merah mengalami kenaikan dibanding saat musim hujan.

Dalam sehari, kata Tasiran, pegawainya mampu menyetak 1000 bata per orangnya. Sementara itu, proses penjemuran di musim kemarau saat ini menjadi lebih cepat karena kondisi cuaca yang terang.

“Kalau kemarau itu cepat. Beda dengan musim hujan yang bisa mencapi 3 mingguan,” katanya.

Soal harga, kata Tasiran, bata merah asal Paledah mencapi Rp 450 ribu hingga Rp 500 ribu per 1000 bata. Harga tersebut merupakan harga tobong, dan belum termasuk ongkos angkut.

“Ya disesuaikan saja jarak tempuhnya. Kalau masalah kualitas, dari sini memang dikenal bagus-bagus,” pungkasnya. (Entang/Koran HR)