Pejuang Veteran Kemerdekaan dari Kota Banjar Wariskan Buku Tentang Islam

Pejuang Veteran
Salah satu buku warisan yang diteriman Masdar dari Duklatim Hardjosumitro, pejuang veteran kemerdekaan RI yang juga merupakan leluhurnya. Photo : Sugeng/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Umumnya orang mendapatkan warisan berupa harta, namun pejuang veteran Masdar (45), warga Dusun Purwodadi, Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, mendapatkan warisan dari leluhurnya berupa buku-buku yang umumnya berisi tentang Islam.

Saat ditemui di rumahnya, Senin (03/09/2019), Masdar memperlihatkan beberapa buku yang diwarisan leluhurnya, diantaranya buku kumpulan mengenai fiqih agama Islam dan masalah-masalah kemasyarakatan  (cetakan tahun 1931-1934).

Kemudian, buku Terjemah Shahin Buchari (cetakan 1950), dan buku Terdjemah Nahu Shorof (cetakan 1952). Dalam salah satu buku yang diperlihatkan Masdar tertulis dengan jelas adanya pemberian warisan.

“Terdjemah Hadis Shahih Buchari cetakan tahun 1950” milik M. Darmono Soesastro, yang dibeli pada tanggal 2 Desember 1954 seharga Rp 40, diwariskan kepada Dulkatim Hardjosumitro pada tanggal 7 September 1975”, demikian tertulis pada lembar pertama buku.

Masdar merasa bersyukur atas warisan yang sudah diterimanya. Karena, ilmu akan menjagamu, sedangkan harta, engkau yang akan menjaganya. Para pemilik harta akan mati, namun pemilik ilmu akan abadi,” kata Masdar, menukil kata-kata Ali bin Abi Thalib.

Buku lusuh dan tua yang diperlihatkannya merupakan warisan turun temurun dari leluhurnya yang bernama Dulkatim Hardjosumitro, yakni salah seorang pejuang yang memiliki tanda kehormatan dan tercatat sebagai  anggota Veteran Kemerdekaan RI, yang merampungkan tugasnya pada tanggal 1 Juni 1975.

Sebagaimana diketahui oleh generasi penerusnya, Dulkatim dulunya selalu haus akan ilmu pengetahuan dan selalu menyempatkan membaca di sela-sela kesibukannya.

Dulkatim sudah tiada, wafat pada tahun 2000 dan dikebumikan di Kesugihan, Cilacap, Jawa Tengah, dengan penutup upacara Salvo. “Meski sudah tiada, namun ia telah mengajarkan betapa berharganya ilmu, dan betapa berharganya sebuah buku sebagai sumber pengetahuan,” kata Masdar. (Sugeng/Koran HR)