Terus Dibangun, Pengelola Wisata Situ Leutik Kota Banjar Belum Jelas

Kawasan Situ Leutik Kota Banjar
Situ Leutik Kota Banjar yang berada di Dusun Cijambu, Desa Cibeureum, Kecamatan Banjar, Kota Banjar. Foto: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Keberadaan Situ Leutik Kota Banjar di Dusun Cijambu, Desa Cibeureum, Kecamatan Banjar, Kota Banjar, terus mendapatkan perhatian pemerintah. Bahkan, hampir setiap tahun dana miliaran rupiah dikucurkan untuk membenahi kawasan situ buatan tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Koran HR, pembangunan Situ Leutik melibatkan 4 SKPD, di antaranya Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas PUPRPKP, Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Dispora), dan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjar.

Terkait dengan hal itu, Kabid. Taman dan Pengelolaan Lingkungan Hidup DLH Kota Banjar, Ninding, mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan pembangunan di dua titik lokasi Situ Leutik Kota Banjar yang bersumber dari dana APBD Provinsi Jawa Barat.

Dari dua lokasi tersebut, masing-masing memiliki pagu anggaran sekitar Rp 3,1 miliar dan Rp 1,7 miliar. Pembangunan yang akan dilakukan di antaranya fasilitas public seperti mushola, play ground, WC, DOM, dan lainnya.

“Rencana kita akan sosialisasikan nanti dengan pihak ketiga. Ini dikerjakan oleh dua CV dengan masing-masing pagu anggarannya 3,1 miliar rupiah dan 1,7 miliar rupiah, dan dikerjakan selama 100 hari kerja,” ungkapnya, kepada HR, saat berada di Situ Leutik, Selasa (17/09/2019).

Lanjut Ninding, selama ini pembangunan Situ Leutik Kota Banjar dilakukan oleh 4 dinas, yang mana masing-masing memiliki peran. Seperti halnya DLH memiliki peran merawat wilayah konservasi di lokasi tersebut, Dinas Pariwisata berperan memaksimalkan dalam pengembangan wisatanya, dan Dinas PU melakukan permbangunan secara fisik.

Meski dikelola oleh 4 dinas, kata Ninding, namun sampai saat ini Situ Leutik belum jelas pengelolaannya oleh SKPD mana. “Sejauh ini, tugas kita hanya menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya, seperti masalah konservasi, kebersihan dan lingkungan. Termasuk SKPD yang lain,” ujarnya.

Karena belum ada pengelola yang jelas, kata Ninding, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Situ Leutik pun diperkirakan belum ada, meski pembangunan terus dilakukan.

Ia pun menyebutkan, melihat potensi yang ada di Situ Leutik Kota Banjar untuk menghasilkan PAD di antaranya dari sektor pariwisata. Karena itu, bidang yang menangani persoalan PAD kemungkinan besar adalah Dinas Pariwisata.

“Guna menarik agar pengunjung ramai, perlu ada sosialiasi yang maksimal, termasuk melengkapi kebutuhan fasilitas umum seperti yang akan kita bangun ini,” kata Ninding.

Pembangunan Situ Leutik Kota Banjar untuk Irigasi

Untuk mendorong pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata, Pemerintah Kota Banjar di tahun 2019 ini berencana membangun kembali kawasan wisata Situ Leutik. Meski pembangunan terus berlanjut, namun kewenangan pengelolaan sektor pariwisata tersebut masih menyisakan ketidakpastian. Bahkan, proses perencanaanya pun dinilai janggal.

Terkait dengan hal itu, Kepala Bidang Perencanaan Bappeda Kota Banjar, Suyitno, mengatakan, usulan program pembangunan merupakan kewenangan masing-masing dinas. Sedangkan, tugas Bappeda memastikan apa yang sudah direncanaakan dapat terealisasi, dan itupun harus sesuai dengan perencanaan dari awal yang diusulkan.

“Kalau untuk pariwisata tentu dari Dinas Pariwisata, kalau kaitanya dengan pertanian juga dari Dinas Pertanian. Tergantung sektor yang akan dibangun,” katanya, kepada Koran HR, Selasa (17/09/2019).

Suyitno menjelaskan, pembangunan kawasan Situ Leutik awalnya memang untuk irigasi pertanian. Akan tetapi, dalam prosesnya ada perubahan menjadi kawasan pariwisata. Pembangunanya pun sudah lama, kemungkinan karena ada potensi wisata sehingga konsepnya ditambah jadi kawasan pariwisata.

Adapun mengenai konsep desain dan tekhnis pelaksanaan, hal itu bukan kewenangan Bappeda, karena pihaknya sebatas perencanaan secara makro. Sedangan, mengenai tempat dan konsep pembangunan tekhnisnya, itu kewenangannya ada pada dinas terkait lainnya.

Di tempat terpisah, Kasie. Destinasi Pariwisata Dispora Kota Banjar, Dery Pratama, mengatakan, terkait dengan pembangunan kawasan wisata Situ Leutik, pihak dinasnya hanya membuat program atau konsep promosi untuk menarik pengunjung. Termasuk untuk event-event di tempat pariwisata yang sudah ada.

“Kalau target capaian dari pariwisata, tentu dari segi peningkatan pengunjung, dan itu sudah kami dilakukan. Hanya saja untuk Situ Leutik memang belum, itu kan masih dalam tahap proses pembangunan,” katanya.

Adapun untuk pengelolaannya, lanjut Dery, memang sampai saat ini belum ada SK secara resmi, terkait pengelolaan kawasan wisata di Situ Leutik. “Saya belum tahu aturan resminya, belum ada aturan yang jelas terkait pengelolaan, kemungkinan masih dalam proses,” pungkasnya.

Situ Leutik Kota Banjar
Pintu air di Situ Leutik Kota Banjar yang digunakan untuk mengairi sawah yang menggunakan mesin. Foto: Muhafid/HR.

Dampak Pembangunan Belum Dirasakan Warga

Sementara itu, Oman (71), salah seorang warga sekitar, menilai pembangunan yang dilakukan di Situ Leutik merupakan kewenangan dari pemerintah. Meskipun manfaat secara umum bagi masyarakat sekitar kurang begitu terasa, baik dari sisi pertanian, pariwisata, maupun lainnya.

“Kalau Situ Leutik Kota Banjar ada manfaatnya buat pertanian misalnya, harusnya sawah yang ada saat ini teraliri air dari situ, tapi nyatanya tidak demikian. Sawah akan terairi ketika hujan saja. Itu sama saja tidak sesuai, karena hampir semua sawah di sini itu tadah hujan,” katanya.

Menurut Oman, Situ Leutik sebetulnya bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar jika dikembangkan budidaya ikan dengan menggunakan keramba, seperti yang saat ini sudah dicontohkan oleh karang taruna.

“Nah, kalau masyarakat sini diperbolehkan budidaya ikan model keramba, saya yakin itu akan lebih bermanfaat bagi orang banyak, khususnya warga di sini. Kalau membangun terus Situ Leutik Kota Banjar tapi tidak terasa manfaatnya bagi masyarakat, ya agak bagaimana begitu,” tandas Oman. (Tim HR)