Mengulik Sejarah Gong Perdamaian Dunia di Karangkamulyan Ciamis

Gong Perdamaian Dunia
deklarasi damai dan pembacaan Sawala Galuh 737 antara Manarah (Galuh) dengan R Sanjaya (Kalingga), peringatan Gong Perdamaian Dunia di Situs Ciung Wanara Karangkamulyan, Senin (9/9/2019). Foto: Fahmi/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),– Perayaan Hari Ulang Tahun Gong Perdamaian Dunia ke-10 di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat berlangsung meriah, Senin (9/9/2019).

Salah satu gong perdamaian dunia memang ada di Situs Budaya Ciung Wanara, Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Bukan tanpa alasan gong perdamaian ditempatkan di Situs Ciung Wanara, Karangkamulyan. Di Indonesia sendiri gong dengan diameter 3,33 meter dan dihiasi sekitar 200 bendera di dunia ini ditempatkan di beberapa kota/kabupaten.

Gong Perdamaian Dunia yang ada di Ciamis merupakan salah satu yang terbesar. Namun, di Pulau Jawa, hanya Kabupaten Ciamis yang memiliki Gong Perdamaian Dunia sejak 9 September 2019. 

Mantan Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Anton Charlian adalah orang yang memiliki ide untuk menempatkan Gong Perdamaian Dunia di Ciamis. Anton Charlian pada waktu itu masih menjabat sebagai Kapolwil Priangan.

Dipilihnya Situs Ciung Wanara Karangkamulyan sebagai tempat Gong Perdamaian Dunia bukannya tanpa alasan. Ciamis yang dikenal sebagai Tatar Galuh dianggap sebagai cikal bakal perdamaian di dunia. Hal ini tak lepas dari sejarah Kerajaan Galuh dan Situs Ciung Wanara merupakan petilasan Kerajaan Galuh (600 M – 13000 M).

Kerajaan Galuh dikenal sebagai kerajaan yang selalu menjaga perdamaian dengan cara mempertahankan kearifan local. Bahkan, nilai-nilai perdamaian tersebut kini terjaga di kalangan masyarakat Tatar Galuh.

Semenjak keberadaan Gong Perdamaian Dunia di Ciamis tersebut, perayaan hari perdamaian pun rutin digelar setiap tahun. Perayaan dimulai dengan kirab kebangsaan menuju lokasi gong. Lalu puncaknya gong dibunyikan oleh beberapa tokoh dan budayawan yang hadir. Hanya pada perayaan saja gong ini dibunyikan.

Perayaan dilanjutkan dengan deklarasi damai dan pembacaan Sawala Galuh 737 antara Manarah (Galuh) dengan R Sanjaya (Kalingga).

“Damai ini berasal dari tatar Sunda, tepatnya di Galuh. Gong perdamaian dunia di sini karena ini tanah Sunda. Dari sini bisa menjiwai generasi penerus untuk tetap menjaga perdamaian. Karena dengan damai ini bisa jadi kuat,” ujar Anton Charlian, Penggagas Gong Perdamaian Dunia di Ciamis

Menurut Anton, membangun kekuatan dengan kedamaian sangat penting. Jangan sampai terpecah belah, apalagi adu domba antar sesama saudara sendiri.

“Tidak boleh menjelek-jelekkan, menghujat, karena itu budaya asing. Jadi mari kembali kepada budaya kita yang mencintai damai, karena kita bersaudara satu bangsa,” kata Anton.

Sementara, Budi Kurnia Koordinator Penyelenggara HUT Gong Perdamaian Dunia, Budi Kurnia, mengatakan ,peringatan hari perdamaian dunia merupakan momentum untuk Kabupaten Ciamis dalam menarik wisatawan domestik, sekaligus mengenalkan potensi wisata yang ada di Ciamis.

Budi yang juga Kepala Bidang Destinasi, Dinas Pariwisata Ciamis ini berharap, Ciamis yang melekat dengan nama Galuh bisa mendongkrak pariwisata.

“Karena memang Ciamis dengan Galuhnya ini punya akar sejarah. Yang jelas bicara perdamaian diambil dari isi Sawala antara Raden Manarah dan Raden Sanjaya. Sudah hampir 1,3 abad, Galuh sudah berbicara perdamaian, bahkan jauh sebelum dunia menyuarakan perdamaian,” ucapnya. (Fahmi2/R7/HR-Online)