SMA Negeri 1 Ciamis Terapkan Sistem SKS, Siswa Bisa Lulus 2 Tahun

sistem SKS
Kampus SMA Negeri 1 Ciamis. Foto: Istimewa

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-SMA Negeri 1 Ciamis Jawa Barat membuat terobosan baru dengan menerapkan sistem SKS (Satuan Kredit Semester) yang mulai diberlakukan pada tahun ajaran 2019/2020. Sekolah menengah tertua di Ciamis ini menjadi pelopor di wilayah UPT Pendidikan XIII Jabar (Ciamis, Banjar dan Pangandaran) dalam penerapan sistem pembelajaran yang mengacu pada kurikulum 2013 tersebut.

Hanya saja, sistem SKS di SMA Negeri 1 Ciamis baru diterapkan kepada siswa kelas X. Sementara siswa kelas XI dan siswa kelas XII masih menggunakan sistem pembelajaran paket atau sistem lama yang menggunakan ukuran keberhasilan siswa melalui ujian akhir semester (UAS).

Sistem SKS di SMA/SMK Ada Persamaan dan Perbedaan dengan Kuliah

Sistem SKS yang diterapkan di SMA Negeri 1 Ciamis tidak jauh berbeda dengan sistem SKS yang sudah berjalan lama di bangku perkuliahan. Persamaannya terdapat pada cepat dan tidaknya waktu sekolah.

Siswa yang mampu menyelesaikan modul UKBM (Unit Kegiatan Belajar Mandiri) lebih cepat atau per satu semester bisa ditempuh dengan waktu 3 bulan, tidak tertutup kemungkinan bisa lulus mendapat ijazah SMA hanya dalam waktu 2 tahun.

Sebaliknya, apabila siswa tidak mampu menyelesaikan modul UKBM tepat waktu, maka dia akan menempuh pendidikan tingkat SMA lebih dari 3 tahun. Namun, dalam sistem ini tidak ada istilah naik kelas atau tidak naik kelas. Siswa akan dihadapkan pada target kredit atau harus mampu menyelesaikan UKBM seluruh mata pelajaran.

Apabila siswa malas belajar, sehingga lambat dalam menyelesaikan modul UKBM seluruh mata pelajaran, maka tidak tertutup kemungkinan dia menempuh pendidikan SMA selama 4 sampai 5 tahun.

Kepala SMA Negeri 1 Ciamis, Wawan Hermawan, mengatakan, sistem SKS di tingkat SMA memang ada kesamaan dengan sistem SKS di bangku perkuliahan. Persamaan yang paling kentara pada waktu belajarnya, yang dimana bisa lebih cepat atau bisa juga lambat.

“Namun perbedaannya pun banyak. Seperti di bangku kuliah seorang mahasiswa tidak ada batas waktu dalam menyelesaikan kuliahnya. Mau kuliah 10 tahun juga bisa. Tapi untuk di tingkat SMA, tetap dibatasi sampai 5 tahun,” ujarnya, kepada Koran HR, Selasa (25/09/2019).

Selain itu, kata Wawan, meski menerapkan sistem SKS, di tingkat SMA setiap siswa wajib menyelesaikan semua mata pelajaran apabila ingin mengambil pelajaran semester berikutnya.

“Kalau di perkuliahan seorang mahasiswa berprestasi bisa mengambil jumlah SKS yang melebihi yang ditetapkan pada per semester. Tapi kalau di SMA berbeda. Meskipun dia pintar, tetap saja harus menyelesaikan semua mata pelajaran, baru bisa mengambil mata pelajaran semester berikutnya,” ujarnya.

Sistem SKS Gunakan Modul UKBM

Wawan mencontohkan, rentang waktu satu semester di tingkat SMA selama 6 bulan. Dalam satu semester setiap siswa harus menempuh 15 mata pelajaran. Namun, dalam sistem SKS yang diterapkan di tingkat SMA menggunakan sistem pembelajaran berbasis modul UKBM.

“Nah pertanyaannya, kenapa sistem SKS di tingkat SMA bisa meluluskan siswa lebih cepat atau dalam waktu kurang dari 3 tahun? Itu bisa terjadi apabila seorang siswa bisa menyelesaikan modul UKBM dari seluruh mata pelajaran per semesternya selama 3 bulan. Jadi targetnya penyelesaian modul UKBM, bukan ujian akhir semester seperti pada program pembelajaran biasanya,” terangnya.

Wawan melanjutkan apabila ada seorang siswa bisa menyelesaikan modul UKBM dalam waktu 3 bulan, berarti ada waktu kosong selama 3 bulan kedepan. Untuk mengisi waktu kosong tersebut, maka siswa itu bisa mengambil mata pelajaran pada semester berikutnya.

“Jadi, dia bisa menyelesaikan UKBM dua semester dalam waktu 6 bulan. Apabila setiap semester siswa tersebut konsisten bisa menyelesaikan UKMB dua semester, maka dia bisa lulus lebih cepat dari teman-temannya. Bisa jadi hanya menyelesaikan pendidikan tingkat SMA selama dua tahun,” paparnya.

Namun begitu, kata Wawan, sistem ini bisa merugikan siswa yang malas belajar. Karena menurutnya, sistem SKS tidak mengenal sistem kenaikan kelas, tetapi target penyelesaian UKBM.

“Kalau siswa malas belajar malah bisa lulus lebih dari 3 tahun. Makanya, kepada siswa kelas X yang mulai menggunakan sistem SKS, kami terus mengingatkan mereka agar giat belajar,” ujarnya.

Sistem SKS di Daerah Lain Sudah Luluskan Siswa 2 Tahun

Wawan menjelaskan, meski SMA Negeri 1 Ciamis sebagai pelopor penerapan sistem SKS di wilayah UPTD XIII Jabar, namun sistem ini sudah diterapkan lebih dulu di sekolah tingkat menengah di beberapa kota besar di Indonesia.

“Kalau melihat sistem SKS yang sudah diberlakukan di SMA/SMK di beberapa kota besar, memang ada siswa yang mampu menyelesaikan pendidikan hanya 2 tahun. Mudah-mudahan di sekolah kami juga ada siswa yang mampu,” ujarnya.

Wawan menjelaskan, sistem SKS ini tidak mengenal lagi ujian akhir semester. Siswa dituntut untuk menyelesaikan modul UKBM yang sudah dipersiapkan oleh guru mata pelajaran.

“Dalam satu pelajaran terdapat beberapa UKBM. Ada UKBM 1, 2 dan seterusnya. Dalam ujian UKBM pun terdapat beragam metoda. Bisa menggunakan metoda ujian tertulis atau bisa juga menggunakan ujian tes wawancara. Itu tergantung selera dari gurunya,” ujarnya.

Menurut Wawan, dalam ujian UKBM dimungkinkan tidak dilakukan secara serentak. Karena setiap siswa berbeda-beda kemampuan dalam menyelesaikan modul UKBM. “Paling cepat 3 bulan siswa bisa menyelesaikan UKBM. Itupun harus benar-benar siswa pintar dan rajin belajar. Karena sistem UKBM ini lebih berat dari sistem pembelajaran biasanya,” katanya.

Namun begitu, lanjut Wawan, pada sistem SKS pun masih mengenal Ujian Nasional (UN) yang sudah menjadi tradisi digelar pada semester akhir. “Siswa tingkat 2 yang sudah menyelesaikan modul UKBM pada semua semester bisa langsung ikut UN. Nanti dia ikut UN bersama kakak tingkatannya. Berarti dia mampu menyelesaikan sekolah menengah selama dua tahun,” jelasnya.

Wawan berharap dengan menerapkan sistem SKS ini bisa meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya. Terutama bisa mencetak siswa handal yang nantinya bisa bersaing ketika melanjutkan kuliah di sejumlah perguruan tinggi bergengsi di Indonesia. (Bgj/Koran-HR)

Loading...