Pembangunan Lanjutan RS Langensari Banjar, Warga Keberatan Jalan Lingkungan akan Ditutup

Jalan Lingkungan sekitar RS Langensari akan Ditutup
Lurah Muktisari, Camat Langensari, dan pejabat dari Dinas PUPRKP Kota Banjar, saat meninjau lokasi jalan lingkungan yang rencananya akan digunakan sebagai akses jalan RS, namun mendapat protes dari warga setempat. Photo : Nanang Supendi/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Warga RT.03, RW.04, Lingkungan Babakan, Kelurahan Muktisari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, memprotes adanya rencana penutupan akses jalan lingkungan oleh Dinas PUPRKP Kota Banjar, melalui pihak pelaksana pembangunan penyempurnaan Rumah Sakit (RS) Langensari.

Diketahui, jalan lingkungan itu tepat berada di depan atau sebelah pojok Selatan gedung RS Langensari. Sebelumnya, akses jalan tersebut digunakan warga sebagai penghubung menuju jalan utama. Namun, jalan lingkungan itu akan digunakan pemkot dalam pelebaran jalan di area RS untuk menunjang lalu lintas pelayanan.

Akibatnya, warga setempat pun melakukan protes, bahkan bentuk protesnya sudah dituangkan dalam sebuah surat pernyataan keberatan, lengkap dengan tanda tangan seluruh warga di Lingkungan Babakan, dan rencananya akan disampaikan ke pemerintahan daerah melalui dinas terkait.

Protes warga itu pun terungkap saat Lurah Muktisari dan Camat Langensari beserta pejabat dari Bidang Cipta Karya Dinas PUPRKP Kota Banjar, meninjau lokasi jalan yang rencananya akan ditutup. Kedatangan para pejabat itu sekaligus merespon atas adanya keberatan warga guna melakukan penyelesaian, Selasa (03/09/2019).

“Kami jelas keberatan dan protes dengan wacana Dinas PUPRKP melalui pihak pengembang yang akan menutup jalan lingkungan ini, termasuk akan membentengnya,” kata H. Agus, salah seorang tokoh masyarakat RT setempat.

Menurutnya, jalan lingkungan ini sangat beguna bagi warga. Untuk itu, pihaknya akan menolaknya jika jalan tersebut ditutup. Ia pun meminta akses jalan lingkungan tetap ada untuk kepentingan aktivitas warga setempat, maupun warga lainnya.

Agus juga menegaskan, bahwa warganya tentu sangat mendukung pembangunan RS Langensari, namun harus saling berkeadilan tanpa merugikan masyarakat, khususnya warga lingkungan sekitar RS.

“Kami sangat dukung pembangunan Rumah Sakit ini, tapi harus menerapkan azas keadilan. Kepentingan warga juga harus diperhatikan,” tandasnya.

Jika dirunut kebelakang, lanjut Agus, dalam rencana awal tidak disebutkan akan melakukan pelebaran jalan yang memakan jalan lingkungan. Hal ini tidak tersampaikan dalam sosialisasi, termasuk ketika sosialosai pekerjaan penyempurnaan yang digelar belum lama ini.

“Ini sudah termasuk pelanggaran komitmen, dan kami sangat kecewa, kenapa seperti ini perencanaannya. Ada yang kurang pas bagi kepentingan warga. Kenapa tidak sedari awal diungkapkan, jadi kami kaget kalau ada rencana jalan ini akan ditutup,” ungkap Agus.

Senada diungkapkan warga lainnya, Hendi, yang menyebut kalau warga setempat semakin keberatan, lantaran rencana penutupan akses jalan sebelumnya tidak disosialisasikan, baik oleh dinas terkait maupun pihak pelaksana proyek.

“Tidak ada sosialisasi penutupan akses jalan maupun pembentengan yang akan memakan jalan lingkungan ini. Setahu saya enggak pernah ada omongan ke warga maupun RT dan RW di Lungkungan Babakan ini. Pokoknya kami tetap ingin jalan ini ada untuk lingkungan, dan ada solusi terbaik,” kata Hendi.

Atas diskusi yang dilakukan warga dengan Lurah, Camat dan pejabat dari Bidang Cipta Karya Dinas PUPRKP, melalui adu argumen yang cukup hangat, akhirnya didapat solusi, bahwa pelebaran jalan di area RS Langensari hanya akan memakan jalan lingkungan sekitar 1,2 meter, atau total 4,30 meter. Sementara, jalan lingkungan tetap ada dengan diberikan lebar 1,80 meter.

Kepala Seksi di Bidang Cipta Karya, Uun, saat ditemui Koran HR, usai melakukan peninjaun di lokasi tersebut, mengatakan, rencana pelebaran jalan untuk akses lalu lintas di area RS memang sangat dibutuhkan, dengan melihat berbagai pertimbangan yang ada agar nantinya saat RS sudah beroperasi semuanya lancar.

“Rencana kebutuhan pelebaran di sudut jalan ini memang baru dua hari lalu diutarakan kepada pelaksana proyek. Makanya tentu akan ada penutupan akses jalan warga. Tapi, melihat protes warga tadi, tentu kami pun tak ingin merugikan warga,” ujarnya.

Menurut Uun, pihaknya harus mengambil jalan tengah atau solusi terbaik dalam persoalan tersebut, sehingga nantinya bisa tetap saling menguntungkan dan mendukung diantara pemerintah dengan warganya

“Pemerintah pun tak ingin merugikan warga, tapi sarana penujang area RS Langensari pun baiknya harus baik, seperti dibutuhkannya pelebaran akses jalan area RS. Tadi sudah kita dapatkan solusinya. Jalan lingkungan warga tetap ada, yakni lebar 1,80 meter,” jelas Uun.

Pihak konsultan pengawas dari CV Griya Marga Tirta, menjelaskan, kebutuhan akan akses jalan di area RS semuanya sudah ada dalam gambar atau perencanaan. Jika sekarang muncul protes dari warga, tentu akan ada perubahan untuk mengakomodir keinginan warga. Dalam hal ini, pekerjaan pengerasan jalan di pojok bagian Selatan jalan akan dipending dulu untuk sementara watu.

Sementara itu, pimpinan proyek penyempurnaan pembangunan RS Langensari, Dedi, mengatakan, pihaknya masih menunggu arahan dari dinas terkait dalam melaksanakan pekerjaan pengerasan jalan di area RS, terutama pada sudut jalan yang dipermasalahkan warga.

“Kami akan hentikan dulu pengerjaan penataan atau pengerasan jalan di bagian sudut jalan itu, sambil menunggu keputusan pasti antara warga dan dinas terkait. Kami tak ingin kala pekerjaan pengerasan atau pembentangan itu dilanjut, masih tetap di protes warga,” ungkap Dedi.

Meski sudah ada solusi, namun warga setempat belum menyetujui sepenuhnya. Terlebih solusi tersebut baru sebatas persetujuan lisan. (Nanks/Koran HR)