Menggiurkan, Warga Kota Banjar Ini Usaha Budidaya Jangkrik

Budidaya Jangkrik
Joni, Anak Asharistanto saat menunjukkan tempat budidaya jangkrik. Foto: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Meskipun tidak memiliki pengalaman khusus dan pengetahuan soal budidaya jangkrik, namun tidak menyurutkan Asharistanto, warga Lingkungan Margasari, Kelurahan Bojongkantong, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, untuk menekuni usaha di bidang ini.

Hal itu pun terbukti ia mampu meraup pundi-pundi rupiah dari usaha budidaya jangkrik, meski dengan modal yang sangat kecil dan modal nekat.

As, sapaan akrabnya, sebelum merintis usaha budidaya jangkrik mengaku pernah fokus pada usaha telur bebek. Setelah itu, ia mencoba lagi di bidang budidaya maggot atau lalat BSF. Namun, pilihannya kini jatuh pada jangkrik lantaran lebih menggiurkan.

Saat disambangi Koran HR di rumahnya, Senin (02/09/2019), Asharistanto, mengungkapkan kalau dirinya sudah menekuni dunia usaha budidaya jangkrik sejak 5 bulan lalu, dihitung dari panen jangkrik yang sudah ia nikmati hasilnya.

“Saya suka coba-coba berbagai macam budidaya. Dulu pernah ternak bebek, maggot juga pernah, sekarang jangkrik ini. Ke depan rencana mau budidaya ulet Hongkong,” katanya.

Khusus jangkrik, lanjut Asharistanto, pada saat kemarau perkembangannya menjadi lambat, sedangkan pada saat musim hujan lebih cepat. Karena itu, saat ini harga jual jangkrik ke pedagang cukup naik, yaitu sekitar di angka Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogramnya.

Usaha Budidaya Jangkrik
Asharistanto saat menunjukkan telur jangkrik. Foto: Muhafid/HR

Ia menuturkan, prospek usaha jangkrik cukup menggiurkan lantaran permintaan selalu tinggi, sedangkan pasokan jangkriknya terbatas. Apalagi masa panennya dilakukan setiap satu bulan sekali.

“Di sini saja baru ada beberapa orang yang budidaya jangkrik, dan belum mampu mencukupi pasar. Makanya ini peluang besar. Apalagi peternak burung murai mulai banyak, ditambah semakin banyaknya kegiatan kontes burung,” terangnya lagi.

Selain masalah peluang, budidaya jangkrik juga terbilang sangat mudah perawatannya, yakni diberikan pakan dedaunan, pohon pepaya, serta tambahan nutrisi berupa konsentrat yang dihitung selama satu bulan hanya menghabiskan uang sekitar Rp 32 ribu.

Jika dihitung modal, ungkap As, harga telur jangkrik sekitar Rp 400 ribu untuk 4 kotak berukuran 80 centimeter, panjang 2,40 meter dengan ketinggian 60 centimeter. Adapun untuk pembuatan satu kotak bisa menghabiskan uang sekitar Rp 130 ribu menggunakan kayu dan GRC.

“Dari modal itu, setiap seperempat kilogramnya bisa memanen nomral sebanyak 15 kilogram, dengan harga jual mulai Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogramnya. Jadi, ya lumayan buat tambah-tambah kebutuhan di rumah. Apalagi kalau kita sudah bisa mengembangkan bibitnya, tentu untungnya lumayan,” ujar Asharistanto.

Sedangkan, kendala dalam usaha ini hanya cicak, semut dan ayam. Sementara, jangkrik yang layak dijual adalah yang belum keluar bulu atau sayapnya. Jangkrik yang sudah keluar sayapnya tidak laku dijual, hanya bisa dimanfaatkan untuk pembibitan.

“Sebenarnya saya belajar budidaya jangkrik ini dari internet, memanfaatkan Youtube. Sekarang semua serba mudah, jadi mau usaha apa saja mudah, tinggal mau belajar dan pratiknya saja,” pungkasnya. (Muhafid/Koran HR)