Warga Langkaplancar Pangandaran Tolak Penebangan Hutan

penebangan hutan
Perwakilan masyarakat Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran menyerahkan berita acara penolakan penebangan hutan di wilayah Singkup dan sekitarnya kepada Camat Langkaplancar. Foto: Enceng/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),– Masyarakat Langkaplacar, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat menolak adanya penebangan di hutan produksi.

Hal itu disampaikan oleh perwakilan ulama, tokoh masyarakat, pemuda dan elemen lainnya di Kecamatan Langkaplancar. Penolakan ditandai dengan kedatangan mereka ke Kantor Kecamatan Langkaplancar untuk menyerahkan berita acara penolakan penebangan di hutan produksi di wilayah Singkup dan sekitarnya.

Berita acara penolakan tersebut diserahkan langsung kepada Camat Langkaplancar, Dani Ramdani, sebagai coordinator wilayah.

Berita acara yang diserahkan kepada camat sudah disepakati bersama antara DPRD Kabupaten Pangandaran, Bappeda, Perum Perhutani dan forum masyarakat pada tahun 2017 lalu.

Baca Juga: Meski Diprotes, Perhutani Tetap Tebang Hutan di Pangandaran

“Kita butuh perhatian yang serius dari semua pihak yang berkompeten, penyelamatan hutan di wilayah Langkplancar adalah tanggung jawab kita semua,” ujar Anton Rahanto, salah seorang tokoh masyarakat Langkaplancar kepada HR Online, Minggu (15/9/2019).

Menurutnya, hutan di wilayah Langkaplancar termasuk kawasan resapan air primer bukan hanya untuk wilayah Pangandaran saja, namun juga untuk wilayah Selatan Ciamis, Banjar dan Tasikmalaya.

“Dengan diserahkannya berita acara ini diharapkan pihak Perum Perhutani tak lagi berusaha menerbitkan SPK penebangan,” ujar Anton.

Lebih lanjut, dirinya berharap hutan produksi yang ada di wilayah Langkaplancar bisa dialihfungsikan menjad kawasan hutan lindung.

Apalagi, kata dia, berdasarakan tata ruang Kabupaten Pangandaran, seharusnya wilayah Singkup menjadi kawasan hutan lindung yang memiliki manfaat untuk hajat hidup orang banyak.

“Untuk hutan produksi yang ada saat ini di wilayah Langkaplancar didalamnya terdiri dari kayu mahoni tidak menjadi target penebangan, karena untuk menumbuhkan kayu butuh waktu yang lama,” paparnya.

Anton menambahkan, pihak Perum Perhutani jangan hanya mempertimbangkan target produksi saja, tanpa memikirkan efek buruk bagi masyarakat.

Lebih baik selamatkan hutan kami untuk kemaslahatan hidup orang banyak,” pungkasnya. (Enceng/R7/HR-Online).