Selasa, Agustus 9, 2022
BerandaBerita TerbaruApakah Ada Air di Bulan? NASA Kirim Robot untuk Mengeceknya

Apakah Ada Air di Bulan? NASA Kirim Robot untuk Mengeceknya

Tak sedikit orang yang bertanya-tanya apakah ada air di bulan. Menanggapi pertanyaan terkait bulan tersebut, lembaga antariksa Amerika, NASA, kemudian mengirim robot untuk mengeceknya.

Robot tersebut memiliki ukuran sebesar mobil golf dan rencananya akan dikirim ke bulan pada tahun 2020 mendatang.

Dalam misi NASA ini, robot tersebut akan ditugaskan untuk mencari sumber air yang ada di permukaan bulan. Hal ini dilakukan sebelum misi pendaratan manusia di bulan pada 2024.

Apakah Ada Air di Bulan

Robot yang dikirim NASA ke bulan diketahui bernama VIPER. Robot ini akan mendeteksi keberadaan air yang mana sangat bermanfaat untuk bahan bakar roket dan persediaan minum astronot nantinya.

Baca Juga: Bulan Purnama Cold Moon, Peristiwa Bulan yang Bisa Terlihat di Indonesia

Sesuai dengan penjelasan Jim Bridenstine, NASA, robot VIPER akan menyusuri permukaan bulan yang berdebu dan melihat kantong bawah tanahnya.

Kantong-kantong bawah tanah ini sendiri disebutkan berisi ratusan juta ton air es. Setelah mengetahui keberadaannya, robot VIPER akan langsung mengebornya.

Air es yang melimpah sebenarnya bisa mengubah bulan menjadi titik tolak ke Planet Mars. Mengecek apakah ada air di bulan memang sangat penting untuk dilakukan karena mendukung keberlangsungan hidup manusia.

Robot Pendeteksi Air di Bulan

VIPER yang berperan penting untuk mendeteksi air di bulan sebenarnya singkatan dari Volatiles Investigating Polar Exploration Rover.

Robot ini diperkirakan akan sampai di wilayah kutub selatan pada Desember 2022 dengan membawa 4 instrumen sebagaimana misinya.

Keempat instrumen yang dibawa robot VIPER sangat bermanfaat untuk sampel tanah bulan, jejak hidrogen dan bahkan oksigen.

Hidrogen dan oksigen menjadi komponen dasar air. Kedua komponen ini bisa dipisahkan dan disintesis sehingga menjadi bahan bakar.

Dengan demikian, armada lunar komersial yang rencananya akan meluncurkan kendaraan bisa terealisasi secara lancar.

Dalam pengembangan di Pusat Penelitian Ames NASA, California, robot VIPER akan menjalankan misinya selama 100 hari untuk mendeteksi apakah ada air di bulan.

Dalam kurun waktu tersebut, robot VIPER akan mencatat data yang berisikan informasi peta letak sumber daya air global pertama di bulan.

Untuk saat ini, NASA tengah sibuk menyiapkan proyek pendaratan kembali manusia di bulan. Misi pertamanya telah terwujud pada tahun 1970an.

Pengamatan air di bulan sebagai sumber daya utama oleh para ilmuwan dan peneliti ini memungkinkan keberhasilan misi astronot dalam jangka panjang.

Baca Juga: Kawah Bulan Tycho dengan Detail yang Sudah Mulai Terlihat

Walau demikian, masih perlu penelitian yang lebih lanjut. Dalam upaya mengetahui apakah ada air di bulan, NASA sebenarnya juga pernah meluncurkan roket pertamanya ke kutub selatan pada 2009 lalu.

Keberadaan Air di Bulan

Sebelum ada penelitian, tak sedikit orang yang menganggap bahwa kandungan air di bulan tidaklah banyak. Namun ternyata sumber airnya melimpah.

Sumber air bisa ditemukan di bawah permukaan bulan, baik siang maupun malam hari. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Joshua Bandfield selaku ketua peneliti sekaligus ilmuwan senior dari Space Science Institute.

Tentu saja fakta ini berbanding terbalik dengan hasil pengamatan sebelumnya. Dulu, kalangan peneliti menduga bahwa air yang ada di bulan hilang.

Hilangnya air bulan ini karena terjadinya pergerakan tiap 1 hari Lunar atau setara dengan 29,5 hari di Bumi. Tak heran jika saat ini muncul rasa penasaran apakah ada air di bulan.

Dalam jurnal Nature Geoscience itu sendiri tercantum bahwa air yang ada di permukaan bulan berbentuk OH yang lebih reaktif daripada H2O.

Dengan sifatnya yang lebih reaktif, air di bulan lebih sulit diambil. Airnya selalu menempel dan bersembunyi di mineral yang ada di sekitarnya.

Baca Juga: Bulannya Planet Jupiter, Sistem Jovian Bak Miniatur Tata Surya

Terbentuknya OH ini karena persinggungan permukaan bulan dan angin matahari. Meski begitu, ada juga yang memang sudah terbentuk dari mineral di bulan.

Walau demikian, para peneliti masih berdebat mengenai hal tersebut. Apalagi peralatannya terbilang terbatas.

Hanya dengan menggunakan penginderaan infrared jarak jauh, lokasi dan sifat air di bulan dianggap kurang akurat dan masih jadi pertanyaan.

Untuk menjawab apakah ada air di bulan, memang butuh pengamatan yang lebih lanjut, termasuk juga menjawab pertanyaan bagaimana terbentuknya. Kita tunggu saja hasil dari misi NASA dalam mengirimkan robotnya ke bulan. (R10/HR-Online)