Bangunan Pertahanan Zaman Jepang Kembali Ditemukan di Pangandaran

Bangunan Zaman Jepang
Eskavasi Bangunan Pertahanan Jepang di Pangandaran. Foto: Enceng/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),– Bangunan peninggalan zaman Jepang kembali ditemukan di Cagar Alam Pananjung, Pantai Pangandaran, Jawa Barat oleh Tim Eskavasi Balai Arkeologi (Balar) Bandung.

Tim Eskavasi menemukan setidaknya belasan bangunan yang diduga bekas tempat pertahanan zaman Kolonial Jepang.

Aceng Hasim, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran, menuturkan, bangunan yang diduga merupakan tempat pertahanan Jepang tersebut berbentuk ceruk. Selain itu ada juga struktur bangunan yang menyerupai benteng pertahanan.

“Yang ditemukan sekarang oleh tim Eskavasi dari Balar Bandung berbentuk struktur dan ceruk yang kemudian dipastikan sebagai bangunan tempat pertahanan zaman Jepang,” tutur Aceng, Selasa (8/10/2019).

Hal ini, kata Aceng berbeda dengan penemuan pada tahun 2015 dimana tim Eskavasi hanya menemukan bunker di 4 lokasi dan gua di 10 tempat berbeda.

“Dari struktur itu terlihat merupakan peniggalan pertahanan Jepang yang dibangun di Cagar Alam Pananjung, diperkirakan dibuat pada tahun 1941-1942,” terangnya.

Lebih lanjut ACeng mengatakan, tempat yang diduga digunakan sebagai pertahanan zaman Kolonial Jepang tersebut berupa susuanan batu yang berada di permukaan tanah.

“Bentuknya persegi panjang, dan kemungkinan digunakan untuk memata-matai musuh yang datang,” katanya.

Selain digunakan untuk memata-matai musuh, bangunan peninggalan zaman Jepang tersebut juga diduga merupakan tempat para prajurit Jepang menyerang musuhnya dengan senjata api.

“Kalau Ceruk yang ditemukan itu berupa bangunan yang ada di dalam perut bumi yang mirip dengan goa kecil, diperkirakan goa tersebut bisa dihuni 2 sampai 3 orang,” lanjut Aceng.

Ceruk yang ditemukan tersebut, kata Aceng, kemungkinan dipakai untuk tempat berlindung apabila ada serangan dari musuh.

Oky Oktaviandi, Ketua Tim Evakuasi dari Balai Arkeologi (Balar) Bandung yang didampingi Pelaksana Teknis Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Serang-Banten, Haris Yanto, menjelaskan, hasil eskavasi pada 10 goa.

“Eskavasi pada tahun ini, kami menemukan posisi struktur dan ceruk yang awalnya tertimbun tanah,” kata Oky.

Tanah yang menimbun posisi struktur dan Ceruk tempat pertahanan, terang Oky, setebal 60 cm sampai 80 cm hingga 80 cm. “Makanya karena tanahnya tebal itu akhirnya tidak tampak dari permukaan,” terangnya.

Kata dia, sebelumnya pihaknya mendapat petunjuk adanya bangunan pertahanan bekas kolonial Jepang itu dari adanya parit berbentuk memanjang.

“Parit itu bentuknya memanjang dan juga saling terhubung antar bangunan, yakni ada bunker, goa, struktur dan terakhir ada ceruknya itu,” kata Oky.

Lanjut Oky, apabila tentara Jepang menuju setiap bangunan yang ada, baik bunker, goa dan yang lainnya, mereka harus melewati parit dnegan tinggi 160 cm.

“Karenya keberadaan tentara Jepang yang bersembunyi di sini itu tak akan terlihat oleh musuh baik dari permukaan tanah maupun dari atas pesawat,” pungkasnya. (Ceng2/R7/HR-Online)

Loading...