BPD Cibeureum & DPRD Kota Banjar Soroti Soal Pengelolaan Situ Leutik

Pengelolaan Situ Leutik
Kawasan Situ Leutik yang berada di Dusun Cijambu, Desa Cibeureum, Kecamatan Banjar, Kota Banjar. Foto: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-Keberadaan dan pengelolaan Situ Leutik di Desa Cibeureum, Kecamatan Banjar, Kota Banjar, Jawa Barat, manfaatnya belum bisa dirasakan secara maksimal oleh warga setempat, meski hampir tiap tahun lokasi situ buatan tersebut terus dibangun dengan anggaran miliaran rupiah.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Cibeureum, Abdul Rosyid (42), mengatakan, pihak desa maupun masyarakat sampai saat ini masih kebingungan soal keberadaan Situ Leutik masalah pengelolaannya.

“Itu kan milik kota, jadi kita tidak bisa berbuat banyak untuk mengelola itu, minimalnya dengan kerjasama kita bisa mengakses beberapa hal yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, seperti perawatan ataupun pengembangan. Jadi, memang belum maksimal manfaatnya bagi masyarakat,” kata Abdul Rosyid, kepada Koran HR, terkait soal pengelolaan Situ Leutik yang berada di wilayahnya, Senin (23/09/2019) lalu.

Ia juga menjelaskan, sejauh ini pembangunan di Situ yang ada di wilayahnya itu, masyarakat dilibatkan hanya sebatas bantu-bantu dalam pengerjaan proyek, seperti dalam pembangunan yang saat ini dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup, ataupun seperti sekarang pengembangan Kelompok Jaring Apung (KJA) yang dipegang oleh Karang Taruna.

Kendati dilibatkan, Rosyid berharap Pemerintah Kota Banjar memberikan keputusan soal pengelolaan, agar pihaknya bisa mengajukan kerjasama mengenai pengelolaannya. Bahkan, pihaknya bersama Pemdes Cibeureum sudah melayangkan surat ke pemkot terkait hal tersebut.

“Tapi sampai saat ini belum ada kejelasan. Mungkin karena belum ada keputusan siapa pengelolanya, jadi belum ada balasan,” katanya.

Sedangkan, untuk usulan-usulan pembangunan yang ada di Situ Leutik, lanjut Rosyid, dari masyarakat tidak bisa berbuat banyak lantaran lokasi tersebut milik kota. Sehingga, pembangunan di dalamnya itu sepenuhnya dilakukan oleh Kota, termasuk perencanaannya.

Meski begitu, dirinya memiliki keyakinan jika Situ Leutik sudah dibangun sesuai dengan perencanaan, dampaknya pun akan bisa dirasakan oleh masyarakat banyak, baik seperti pengembangan KJA, pengelolaan tempat wisata, maupun pengairan dari Situ ke sawah-sawah yang ada di sekitarnya.

Pengairan dari Situ ke sawah yang ada di sekitar bisa dimanfaatkan sebagian warga yang berada di Dusun Babakan dengan luas sekitar 5 hektar pada saat debit air di Situ tinggi. Namun, saat musim kemarau belum bisa dimanfaatkan secara maksimal lantaran airnya pun berkurang.

“Kita inginnya jalan masuk ke Situ Leutik dari arah Dusun Babakan ini bisa dibangun, sekarang kan kondisinya agak rusak. Selain itu, kita berharap pengelolaannya diperjelas dulu supaya kita tidak bingung. Apalagi kalau ini dikatakan tempat wisata, tapi belum ramai dan hanya waktu tertentu saja,” ungkap Abdul Rasyid.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Banjar, Tri Pamuji Rudianto, mengatakan, beberapa hal yang perlu diperbaiki dalam pembangunan yang dilakukan oleh Pemkot Banjar, terutama dalam masalah tahapan perencanaan pembangunan.

Ia menilai, idealnya sebuah pembangunan harus melalui proses perencanaan yang matang, agar hasilnya pun bisa maksimal. Terkadang, perencanaan yang sudah matang pun dalam realisasinya belum tentu maksimal. Karena itu, masalah perencanaan segala sesuatunya harus dibereskan terlebih dahulu.

Sedangkan, kaitannya dengan pembangunan yang dilakukan terus-menerus di Situ Leutik, lanjut Tri Pamuji, ia mendorong agar diperjelas terlebih dahulu orientasi pembangunannya, apakah menjadi lokasi yang bisa menghasilkan PAD setelah dibangun, atau menjadi salah satu lokasi yang bisa membawa manfaat bagi orang banyak setelah dilakukan pembangunan.

“Kita memang belum bisa memastikan kondisi Situ Leutik seperti apa, karena kita masih baru. Selain itu, kita juga belum mendapatkan informasi dari 4 dinas yang membangun di sana, sudah sejauh mana progres pembangunannya dan juga capaiannya sudah sampai mana,” jelasnya, kepada Koran HR, di ruang kerjanya.

Tri menambahkan, pihaknya ke depan bakal mengkaji soal keberadaan Situ Leutik, bagaimana perkembangan pembangunan dan capaiannya setelah dibangun oleh Pemkot Banjar melalui 4 dinas terkait itu.

Berkaitan dengan pengelola yang belum jelas sampai saat ini, kata Tri, pihaknya juga mendorong agar Pemkot Banjar bisa segera menentukan siapa pengelola Situ tersebut. Ia meminta agar pengelolanya nanti memiliki kompetensi, dan setelah itu bisa dirasakan oleh masyarakat banyak.

“Ini menjadi masukan bagi kita agar kita mendorong supaya pengelola Situ Leutik diperjelas,” pungkasnya. (Muhafid/Koran-HR)