Gerak Semu Matahari, Penyebab Cuaca Panas Ekstrim di Indonesia

gerak semu matahari
Ilustrasi gerak semu matahari. Foto: Net/Ist

Gerak semu matahari disebut BMKG (Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika) sebagai salah satu penyebab cuaca panas ekstrim di Indonesia.

Fenomena ini terbagi dua, yakni gerak semu harian matahari akibat rotasi Bumi dan gerak semu tahunan matahari akibat revolusi Bumi.

Pada kenyataannya matahari tidak benar-benar bergerak, namun seolah bergerak lantaran ada rotasi (Bumi berputar pada porosnya) dan revolusi Bumi (Bumi berputar mengelilingi matahari).

Gerak Semu Harian Matahari

Fenomena ini terjadi setiap hari yang terlihat saat matahari seolah-oleh bergerak ke arah Barat. Hal ini lantaran matahari selalu terbit dari Timur dan tenggelam di arah Barat.

Matahari yang seolah bergerak dari Timur ke Barat ini membuat orang bisa menebak waktu dari posisi matahari yang seolah berpindah tempat.

Hal ini juga membuat waktu bisa diketahui dari panjang bayangan benda yang berbeda-beda akibat dari pantulan sinar matahari.

Padahal matahari tidak benar-benar ‘berjalan’ dari arah Timur ke arah Barat. Matahari terbit dari Timur dan tenggelam di Barat, karena adanya rotasi Bumi.

Rotasi Bumi adalah berputarnya Bumi pada porosnya dari Barat ke Timur. Satu kali Bumi melakukan rotasi membutuhkan waktu 23 jam 56 menit 41 detik. Jadi, yang sebenarnya bergerak adalah Bumi, dan bukannya matahari.

Namun, menurut pengamat yang ada di Bumi, kesannya justru matahari yang seolah muncul di Timur, lalu bergerak ke arah Barat, sehingga sore hari, matahari seolah lenyap di arah Barat.

Itulah yang dimaksud dengan gerak semu harian yang biasanya berlangsung selama 12 jam. Bandingkan dengan rotasi Bumi yang membutuhkan waktu sampai 24 jam.

Siang hari selama 12 jam terjadi ketika satu belahan Bumi menghadap matahari, sementara belahan Bumi lainnya yang ‘membelakangi’ matahari sedang ada pada posisi malam, karena itu saat malam hari tidak akan terlihat ‘pergerakan’ matahari ini.

Gerak Semu Tahunan Matahari

Fenomena ini terjadi akibat revolusi Bumi atau gerak Bumi saat mengelilingi matahari. Bumi bergerak mengelilingi matahari dalam 1 tahun. Karena itu terlihat seolah-olah posisinya berubah-ubah, yakni di Utara dan Selatan Bumi.

Namun akibatnya posisi matahari jarang berada tepat di atas equator. Hanya saja pada bulan September, matahari seolah bergerak ke arah Selatan.

Pada bulan Oktober ketika matahari seolah-olah berada di sebelah Selatan garis khatulistiwa, radiasi sinarnya meluas dan berakibat suhu udara di beberapa wilayah di Bumi makin panas.

Apa Dampak dari Gerak Semu Matahari?

Dampak dari gerak semu harian antara lain adanya perubahan letak matahari, namun itu tidak benar-benar terjadi, melainkan akibat dari rotasi Bumi.

Karena fenomena ini matahari seolah bergerak dari Timur ke Barat, sehingga terlihat seperti terbit dari Timur dan tenggelam ke Barat.

Adanya perbedaan siang dan malam merupakan salah satu dampak adanya gerak semu harian matahari. Saat belahan Bumi bagian Selatan tersorot matahari selama 12 jam wilayah tersebut berada pada posisi siang hari.

Sementara bagian lainnya yang tersembunyi dari matahari sedang dalam posisi malam. Perbedaan siang malam ini terjadi lantaran rotasi Bumi atau berputarnya Bumi pada porosnya yang memakan waktu hampir 24 jam.

Akibat lainnya adalah adanya perbedaan waktu dari satu wilayah ke wilayah lain di Bumi.

Gerak Semu Matahari Tahunan Penyebab Terjadinya Suhu Udara Panas yang Ekstrim

Gerak semu tahunan matahari menyebabkan adanya perbedaan penyinaran di belahan Bumi. Akibat revolusi Bumi selama 1 tahun, bagian Utara Bumi akan mendapatkan penyinaran matahari lebih lama dibanding bagian Selatan Bumi.

Hal itu berlangsung selama 6 bulan. Selanjutnya 6 bulan kemudian terjadi sebaliknya, yakni bagian Selatan Bumi akan mengalami penyinaran matahari lebih lama dibanding bagian Utara Bumi.

Dampak selanjutnya adalah adanya perubahan musim dan perubahan suhu udara. Saat matahari berada di bagian Utara garis equator, maka belahan Utara Bumi sedang musim dingin dan sebagian lainnya musim semi. Sementara pada Bumi bagian Selatan sebaliknya sedang mengalami musim gugur dan musim dingin.

Lalu ketika matahari berada di bagian Selatan garis equtor (khatulistiwa), maka Bumi bagian Selatan sedang musim panas dan semi, Bumi bagian Utara sedang musim gugur juga dingin.

Seiring dengan perubahan musim tersebut, maka suhu udara pun berubah sesuai dengan posisi semu matahari. Karena itu, di beberapa wilayah di Indonesia saat ini suhu udaranya amat panas.

Kesimpulannya, matahari tidak benar-benar bergerak, apa yang dinamakan dengan gerak semu matahari sebenarnya adalah Bumi yang bergerak mengelilingi porosnya (rotasi Bumi) dan juga Bumi bergerak mengelilingi matahari atau disebut revolusi. (Ndu/R7/HR-Online)

Loading...
Loading...