Kasus Video Mesum Siswa SMK di Pangandaran, Guru: Jangan Diskreditkan Pihak Sekolah

kasus video
Kegiatan keagamaan di SMKN 1 Padaherang, Kabupaten Pangandaran yang digelar Jum’at (18/10/2019). Kegiatan ini rutin digelar dalam rangka pendidikan karakter siswa agar menjadi manusia berbudi pekerti luhur dan berahlak baik. Foto: Madlani/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) BP SMKN 1 Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Yayat Hadiaturohman, menegaskan, masyarakat harus mendudukkan serta menilai kasus video mesum yang melibatkan siswanya secara arif dan bijaksana atau tidak mendiskreditkan instansi pendidikan dalam hal ini pihak sekolah.

Menurut Yayat, lokasi kejadian mesum yang direkam pada kamera ponsel itu bukan terjadi di sekolah. Dalam menilai hal ini, kata dia, harus lihat dulu dimana lokasi kejadian amoral itu terjadi.

“Kalau seandainya itu tempatnya di rumah salah satu siswa, berarti itu sudah di luar lingkungan sekolah. Artinya, bukan lagi wilayah pengawasan serta pembinaan pihak sekolah. Kalau siswa sudah berada di rumah, berarti sepenuhnya sudah menjadi tanggungjawab pendidikan orangtua dan keluarganya,” ujarnya, kepada HR Online, Jum’at (18/10/2019).

Berita Terkait: Video Mesum Siswa SMK di Pangandaran Viral di Medsos

Namun begitu, lanjut Yayat, pihaknya sebagai insan pendidik merasa miris dan terpukul dengan kejadian kasus video mesum tersebut. Apalagi ketika video mesum yang diperankan siswanya itu beredar luas dan menjadi viral di media sosial. “Kejadian ini sudah mencoreng nama baik dunia pendidikan,” katanya

Yayat mengaku sebagai pendidik dirinya bersama seluruh guru di SMKN 1 Padaherang  sudah berusaha semaksimal mungkin dalam mendidik siswanya agar menjadi manusia berbudi pekerti luhur serta memiliki akhlak yang baik.

“Untuk kegiatan keagamaan di sekolah sebenarnya sudah maksimal. Mulai dari bermacam kegiatan keagamaan sampai pembiasaan perilaku yang positif. Pembiasaan itu dalam rangka pembentukan karakter yang bertujuan agar siswa tahu mana perilaku baik dan buruk,” ujarnya.

Menurut Yayat, dalam pendidikan ada 3 elemen yang saling mendukung, yaitu keluarga, masyarakat dan sekolah. Ketiga elemen ini, kata dia, harus sinergis dan saling mendukung serta jangan sampai ada salah satu elemen yang pincang.

“Kalau ketiga elemen itu sinergis, Insya Allah siswa tersebut akan menjadi manusia berbudi pekerti luhur dan berahlak baik. Tapi, kalau seandainya ada salah satu element yang pincang, yang mungkin sebaliknya. Jadi, perlu digaris bawahi bahwa pendidikan di sekolah hanya jadi salah satu elemen saja dan bukan penentu,” tegasnya.

Dengan begitu, Yayat berharap masyarakat mendudukkan masalah ini sesuai dengan porsinya dan menilainya secara bijak serta memahami permasalahan ini secara komprehensif. “Jadi dalam menilai masalah video mesum ini harus dipahami secara utuh dan tidak parsial yang langsung menyalahkan pihak sekolah,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, beredarnya video mesum yang diduga dilakukan oleh dua orang siswa SMK 1 Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, disesalkan oleh masyarakat. Pelaku kasus video mesum tersebut dianggap kurang mendapatkan pendidikan agama di lingkungan sekolah, sehingga berani berbuat amoral.

Seperti diketahui, dalam video mesum tersebut diketahui pemeran wanitanya menggunakan baju seragam Pramuka. Terlebih video itu sempat beredar luas di laman medsos dan menyebar melalui aplikasi pesan instan. (Madlani/R2/HR-Online)

Loading...