Potret Kemiskinan di Ciamis, Mahpud Tempati Gubuk Bekas Kandang Kambing

Gubuk Bekas kandang kambing
Gubuk bekas kandang kambing yang dijadikan rumah oleh Mahpud (48), warga Dusun Citalem, RT 17 RW 06, Desa Margajaya, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Foto: Suherman/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Potret kemiskinan di Ciamis lagi-lagi ditemukan seorang warga yang bermukim di gubuk bekas kandang kambing. Adalah Mahpud (48), warga Dusun Citalem, RT 17 RW 06, Desa Margajaya, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. 

Mahpud diketahui mengalami kelumpuhan sejak sembilan tahun silam. Ia pun tinggal sendirian di dalam rumah gubuk bekas kandang kambing berukuran 2×3 meter. Rumah tersebut sangat tidak layak untuk dihuni.

Terlebih kondisi yang dialami Mahpud baru diketahui pemerintah setempat setelah ada warga yang mengunggahnya di media sosial.

Anggota FK Tagana Kecamatan Pamarican, Baehaqi Efendi, saat ditemui Koran HR, Selasa (08/10/2019), membenarkan, Mahpud saat ini tinggal sendirian di sebuah gubuk bekas berukuran kecil bekas kandang kambing dan sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah.

“Kondisi pak Mahpud sedang sakit. Saat ini dia sedang mendapatkan perawatan di Puskesmas Pamarican. Mudah-mudahan saja dengan adanya kejadian ini, pemerintah bisa segera memberikan bantuan, terutama bantuan hunian agar dia bisa tinggal di yang lebih nyaman,” katanya.

Baehaqi mengaku baru mengetahui kondisi mahpud setelah ada laporan dari warga. Pihaknya kemudian memutuskan langsung meninjau ke lokasi. Saat ditemui, Mahpud kondisinya sedang sakit. Pihaknya pun berkordinasi dengan Puskesmas.

“Alhamdulillah sekarang sudah ada tindakan,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dusun Citalem, Engkos Koswara, saat ditemui Koran HR, mengatakan, kondisi yang dialami Mahpud merupakan cambuk bagi pemerintah atas kurang tanggapnya ketika adanya usulan dari bawah.

“Sebenarnya kami sudah berulang kali melaporkan hal ini ke pimpinan di desa. Namun itu dia, mungkin kendala keterbatasan, sehingga ini seakan dikesampingkan. Kami sudah mengetahui kondisi Mahpud inisejak lima tahun, saat data kependudukannya masih belum jelas,” katanya.

Diakui Engkos, Mahpud memang asli orang sini. Namun dulu, Mahpud pergi merantau ke luar desa dan data kependudukannya sudah beralih. Saat lebaran tahun beberapa tahun lalu, pihaknya mengetahui jika Mahpud kembali.

“Awalnya saya tidak menyangka kalau kandang itu ditinggali Mahpud. Karena sebelumnya itu memang kandang. Jadi kami sama sekali tidak menyangka ada penghuninya. Setelah tahu ada penghuninya, saya juga langsung menyambanginya untuk melihat kondisi Mahpud. Akhirnya kami langsung berusaha mengurus data kependudukannya agar desa bisa mengajukan bantuan. Alhamdulillah, kini dia sudah mempunyai KK dan KTP setempat,” katanya.

Saat ditemui Koran HR di ruang perawatan Puskesmas Pamarican, Mahpud mengaku hanya bisa pasrah menjalani kondisi yang sekarang ia alami.

“Saya sudah sembilan tahun menderita kelumpuhan seperti ini. Saya juga sudah berusaha berobat kemana-mana, namun penyakit ini tidak juga bisa sembuh. Sehingga, saya memutuskan kembali ke kampung halaman dan menetap disini,” katanya.

Sebelum mengalami kelumpuhan, Mahpud mengaku pernah berumah tangga serta mempunyai dua orang anak. Namun sejak dirinya mengalami kelumpuhan ia terpaksa harus mengambil sikap dan menjauh dari keluarga.

“Hal ini saya lakukan karena saya mawas diri serta tidak mau merepotkan keluarga. Sehingga saya juga memutuskan untuk berpisah dari istri secara baik-baik. Hal ini saya lakukan karena kasihan kepada istri agar dia bisa hidup lebih baik. Saya juga mempunyai dua anak dari hasil pernikahan itu. Namun kedua anak saya sudah berumahtangga semua. Kondisi ekonomi mereka pun tidak begitu beruntung,” terangnya.

Soal data kependudukan, Mahpud menegaskan, tidak menyalahkan pemerintah setempat. Karena memang dulu ia sempat pindah tempat, sehingga data kependudukan miliknya sudah tidak ada.

“Dulu saya ikut dengan istri ke Kalipucang Pangandaran, sehingga semua data kependudukannya menjadi penduduk sana. Namun sekarang Alhamdulillah saya sudah dibantu oleh pemerintah disini, dan sudah mempunyai KTP,” katanya.

Dari antauan Koran HR, gubuk yang ditempati Mahpud adalah bekas kandang kambing. Kondisinya pun pengap tanpa ventilasi. Di tempat berukuran 2×3 meter berlantaikan tanah ini Mahpud tinggal seorang diri.

Di gubuk sempit ini Mahpud menghabiskan waktunya. Mirisnya lagi, untuk Mandi Cuci dan Kakus (MCK), semuanya berada dalam satu ruangan yang pengap dan tidak sehat. (Suherman/Koran HR)