Masyarakat Kota Banjar Diberi Kesempatan Ajukan Situs di Lingkungannya

Kabid Kebudayaan saat menjelaskan situs
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Banjar, Oom Supriatna. Foto: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Banjar, memberikan kesempatan besar kepada masyarakat untuk melaporkan berbagai situs di lingkungannya untuk didata oleh pemerintah.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Banjar, Oom Supriatna, mengatakan, pihaknya membuka lebar-lebar kepada masyarakat untuk mengajukan situs, yang nantinya akan didata oleh pemerintah. Hal itu sebagai salah satu langkah melestarikan peninggalan zaman dahulu, serta merawatnya dengan baik.

“Sampai saat ini yang sudah masuk ke kita baru 27 data benda, situs dan cagar budaya yang telah dilestarikan. Kemungkinan data itu bisa bertambah, karena kita memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan ke kami bila ada sesuatu yang memiliki nilai sejarah,” katanya, kepada Koran HR, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (08/10/2019).

Oom menjelaskan, untuk syarat pengajuan agar objek tersebut bisa didata oleh pemerintah harus melengkapi sejumlah persyaratan, di antaranya KTP calon juru pemelihara atau kuncen, surat keterangan domisili dari desa atau kelurahan setempat, dan memberikan deskripsi objek yang diajukan.

Setelah diajukan ke dinas, lanjut Oom, kemudian akan diverifikasi dan dicek langsung ke lapangan untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Jika sudah benar-benar sesuai, nanti pihaknya akan membuatkan sejenis SK (Surat Keputusan) yang menjelaskan soal siapa juru kunci di tempat tersebut, dan juga dipasangi plang nama situs.

Dalam masalah ini, pihaknya baru sebatas melakukan pendataan dan belum sampai ke tahap pembukuan objek wisata sejarah atau pengembangan yang sudah ada. Kendati demikian, pengembangan objek tersebut bisa dilakukan ketika menggandeng dinas terkait lainnya.

“Misalnya di kita itu banyak objek wisata religi. Nah, di situ bisa dikembangkan oleh kebudayaan dan bidang pariwisata. Jadi, kita tidak bisa berjalan sendiri,” kata Oom.

Sedangkan, untuk masalah kebudayaan, pihaknya juga tengah mengembangkan kesenian yang ada di Kota Banjar melalui Program Simas atau Seniman Masuk Sekolah, dan Simadu atau Seniman Masyarakat Terpadu.

Dalam Program Simas, para seniman diberikan kesempatan untuk menampilkan keseniannya di sekolah pada saat-saat tertentu, seperti pada pelepasan siswa atau kenaikan kelas.

Sedangkan, Program Simadu hampir mirip dalam hal penampilan seninya, hanya fokusnya pada desa atau kelurahan tertentu saja. Nantinya akan ditampilkan berbagai kesenian pada acara Agustusan. Di tahun 2019 ini, desa yang mendapatkan program tersebut meliputi Desa Jajawar, Binangun, Waringinsari dan Raharja.

Oom menjelaskan, dari program yang pendanannya bersumber dari APBD Kota Banjar 2019 ini, desa ataupun sekolah lain yang belum mendapatkan giliran, program Simas dan Simadu bisa masuk di tahun 2020 mendatang.

“Ini tiada lain agar warga Kota Banjar dapat melestarikan kebudayaan dan kesenian yang ada. Kita juga ada pentas kesenian tiap bulan di GBI yang dilaksanakan oleh sekolah-sekolah. Kita berencana tahun depan akan disebar di berbagai titik yang ada di Kota Banjar,” jelas Oom.

Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun Koran HR, 27 situs dan cagar budaya yang ada di Kota Banjar ini di antaranya Pulo Majeti di Kelurahan Purwarharja, Singaperbangsa di Karangpanimbal, Sumur Dalapan di Purwaharja, Tambak Baya di Desa Sinartanjung, Purbasaka Sari Kusumah di Sukamukti, dan Dalem Kanduruan di Desa Sukamuti.

Kemudian, Eyang Panembahan di Desa Batulawang, Bagus Santri Andajaya di Rejasari, Gunung Tumpeng di Kelurahan Pataruman, Sinawung Galing di Desa Binangun, Gedeng Mataram di Hegarsari, Banyu Mudal di Batulawang, dan Ibu Ratu Nagawati di Purwaharja.

Selanjutnya, Gunung Sangkur di Batulawang, Salah Putih di Karyamukti, Rajeg Wesi di Sinartanjung, Dalem Anggasari di Pataruman, Rancawati di Rejasari, Batu Peti di Sukamukti, Pasir Ipis di Cibeureum, Margayudha di Jajawar, Eyang Demang di Situbatu, Syekh Sanusi di Langensari, Dalem Lengkong di Neglasari, Kanayan Tani di Binangun, Ahmad Sobrowi Al Banjari di Raharja, dan Banteng Loreng di Desa Cibeureum. (Muhafid/Koran HR)