Jumat, Agustus 19, 2022
BerandaBerita TerbaruKenali 5 Risiko Investasi Apartemen untuk Mencegah Kerugian

Kenali 5 Risiko Investasi Apartemen untuk Mencegah Kerugian

Tak sedikit orang yang belum menyadari adanya risiko investasi apartemen. Ya, apartemen yang digadang-gadang menjadi hunian masa depan kenyataannya masih riskan saat dijadikan sebagai produk investasi meski relatif terjangkau. Ada baiknya pelaku investasi mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang mengintai.

Namun, sebelum terlambat, kenali lima risiko investasi apartemen murah berikut ini.

Risiko Investasi Apartemen

Apartemen Terlambat atau Batal Dibangun

Sebagian besar investor sering kali mengambil apartemen yang belum dibangun untuk menghindari kenaikan harga. Langkah tersebut memang brilian, tetapi apa jadinya bila properti tak dibangun sesuai kesepakatan atau malah dibatalkan di tengah proyek?

Ketika terlambat atau batal, investor jelas akan merugi. Risiko investasi apartemen pun kian terasa saat pengembang terus berkelit dan memberikan janji manis seperti kompensasi. 

Akan tetapi, investor perlu berhati-hati karena ganti rugi pun hanya berlaku sesuai kesepakatan. Baca kembali kontrak yang sudah ditandatangani sebelumnya untuk mencegah kerugian lebih besar.

Penurunan Harga Apartemen

Iming-iming harga apartemen yang akan terus naik setiap tahun adalah salah satu alasan yang menarik banyak orang untuk berinvestasi. Faktanya, ada satu risiko investasi properti apartemen yang mengintai, yakni fluktuasi harga. Dengan kata lain, harga apartemen bisa turun sewaktu-waktu.

Untuk mencegah kerugian di kemudian hari, investor sebaiknya rutin memeriksa harga properti. Dalam hal ini, Bank Indonesia menyediakan data harga properti yang bisa diakses secara gratis.

Dengan demikian, investor dapat mencari solusi dari risiko investasi apartemen terkait harga sebelum kejadian tersebut menimpa mereka.

Keterlambatan Mengurus Sertifikat

Jangan sepelekan pengurusan sertifikat apartemen. Beberapa investor menganggap mereka akan lebih cepat menerima dokumen tersebut karena apartemen bukanlah jenis properti seperti rumah petak. Pada kenyataanya, ada rangkaian tahap yang harus dilalui.

Untuk mendapatkan sertifikat, apartemen harus rampung terlebih dulu. Kemudian, seluruh pihak yang terlibat melaksanakan serah terima properti untuk meresmikan kepemindahan kepemilikan.

Jika tahap-tahap tadi selesai dilakukan, maka investor akan menerima sertifikat. Sayangnya, proses ini kadang berjalan lebih lama dan berubah jadi risiko investasi apartemen yang merugikan.

Kesulitan Menyewakan Apartemen

Menyewakan apartemen terdengar menggiurkan bagi para investor. Apalagi kalau properti mereka berada di kota-kota besar seperti Jakarta. Dengan meningkatnya minat terhadap apartemen, seharusnya kebutuhan akan sewa properti ikut naik juga, bukan?

Faktanya, harga sewa bulanan yang dipatok acap kali tak mencapai di target, yakni 1% dari harga total properti. Hal ini jelas menjadi risiko investasi sewa apartemen.

Bukan hanya itu, tak sedikit tarif sewa apartemen yang stagnan di Jakarta. Investor ada baiknya berjaga-jaga sejak awal dengan merancang plan B yang bisa langsung diterapkan nantinya.

Kenaikan pada Bunga KPR

Risiko investasi apartemen yang terakhir berhubungan dengan bunga KPR. Sekitar 70% sampai 80% pembelian propertti yang terjadi di Indonesia dilakukan memakai pinjaman KPR dari bank. Langkah ini diambil karena sebagian besar orang belum mampu membeli properti dengan cash.

Meski sangat membantu, KPR berpotensi memicu risiko investasi unit apartemen. Sebut saja kenaikan cicilan kredit bulanan akibat naiknya bunga yang sering kali dilupakan orang-orang.

Maka dari itu investor yang hendak menggunakan pinjaman KPR dianjurkan unttuk mempelajari skema yang diberikan. Dengan begitu, kenaikan bunga tak akan menimbulkan kerugian di kemudian hari.

Mencegah Risiko dalam Investasi Apartemen

Sebagai bentuk pencegahan, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan investor untuk menekan risiko investasi apartemen:

  • Periksa reputasi atau track record pengembang apartemen yang bersangkutan. Cari pihak yang tak akan menimbulkan kerugian dan menawarkan investasi yang realistis;
  • Tak ada salahnya merancang skenario untuk kemungkinan terburuk. Langkah ini yang justru akan menyelamatkan investor dari masalah besar;
  • Pilihlah KPR yang bunganya bersifat tetap hingga akhir masa tenor pinjaman. Jadi, cicilan yang nanti ditagihkan tak akan membengkak;
  • Lakukan investasi dengan produk lain untuk berjaga-jaga. Misalnya logam mulia, reksadana, dan deposito yang disediakan sejumlah bank.

Dengan mengenal risiko investasi apartemen, para investor diharapkan tak melakukan kesalahan atau kecerobohan yang berpotensi mengantarkan mereka pada kerugian skala besar. (R11/HR-Online)