Rumput Mengering Lantaran Kemarau, Kerbau Milik Warga Ciamis ‘Diangon’ di Sawah

Kerbau milik warga Desa/Kecamatan Kawali 'diangon' di Sawah lantaran sulit mendapat rumput pakan akibat musim kemarau. Foto: Edji/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),– Kemarau panjang bukan hanya berdampak pada kesulitan air bersih, namun juga membuat rumput mengering.

Alhasil pemilik ternak seperti kerbau yang biasa menggunakan rumput sebagai pakan, kesulitan mendapatkan rumput, seperti yang terjadi di Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis.

Lantaran sulit mendapatkan rumput untuk kebutuhan pakan ternak, dua ekor kerbau milik Nasa, warga Dusun Indrayasa, Desa/Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, ‘diangon’ atau diliarkan di sawah kering.

Kerbau-kerbau tersebut dibiarkan mencari makanannya sendiri di sawah yang baru dipanen.

Nasa, pemilik kerbau tersebut, mengungkapkan, musim kemarau yang berkepanjangan membuat dirinya sulit untuk mendapatkan rumput.

“Makanya agar kebutuhan pakan bisa terpenuhi, kerbau diliarkan, terpaksa,” ujar Nasa kepada HR Online, Kamis (10/10/2019).

Meskipun demikian, Nasa mengaku masih harus menyabut rumput. Namun, dengan diliarkannya kerbau milikinya, setidaknya membuat dia mengurangi tenaga.

“Saat musim kemarau seperti saat ini untuk mendapatkan satu karung rumput saja sangat sulit,” kata Nasa.

Nasa mengatakan, berbeda dengan musim panen padi, meski kemarau terjadi, namun untuk mendapatkan pakan ternak sangat mudah.

“Kalau musim panen padi, walau musim kemarau juga tak perlu khawatir, lantaran banyak jerami yang bisa digunakan sebagai pakan kerbau,” katanya.

Nasa menambahkan, dengan diliarkannya dua ekor kerbau miliknya, setidaknya kebutuhan pakan tetap terpenuhi. Sebab, kerbau bisa memilih sendiri rumput yang dimakannya.

Sementara itu, walau bulan Oktober 2019 diprediksi sudah memasuki musim penghujan, namun laporan BMKG terbaru mengungkapkan, hujan pada bulan Oktober masih jarang.

Wilayah Jawa Barat, termasuk Ciamis, baru akan terjadi hujan dengan curah tinggi di awal November tahun 2019.

Keterlambatan musim penghujan ini lantaran adanya gangguan iklim, dimana suhu laut Indonesia yang lebih dingin. Akibatnya, volume uap air makin berkurang. Hal itu dijelaskan BMKG mengurangi curah hujan sekitar 15%. (Edji/R7/HR-Online)