Siswa SMK 1 Kawali Ciamis Ciptakan Aplikasi Marketplace Penjualan Madu di Indonesia

aplikasi marketplace
Siswa jurusan Rekayasa Perangkat Lunak SMK 1 Kawali bersama guru pembimbingnya saat mendiskusikan penyempurnaan aplikasi marketplace penjualan madu yang akan menjadi teknologi pertama di Indonesia dalam transaksi jual beli madu secara online. Foto: Dokumentasi SMK 1 Kawali

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Siswa SMK 1 Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, berhasil menciptakan sebuah aplikasi marketplace khusus untuk transaksi jual-beli produk madu yang nantinya akan digunakan oleh sejumlah petani madu di Indonesia. Dalam pembuatan aplikasi inipun pihak sekolah melibatkan ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kepala Sekolah SMK 1 Kawali, Hadi Sumantoro, mengatakan, aplikasi Apps mobile ini sebenarnya tidak hanya sekedar marketplace atau toko online penjualan madu semata, tetapi terdapat juga teknologi lainnya.

Lewat aplikasi yang dioperasikan dari smartphone ini pihak si penjual dan pembeli madu bisa sama-sama memantau perkembangan lebah melalui teknologi yang terdapat pada aplikasi tersebut.

“Kalau aplikasi marketplace toko online lebih sederhana atau hanya mengatur lalu lintas transaksi si penjual dengan si pembeli saja. Kalau aplikasi ini lebih detail lagi, dimana si pembeli bisa memantau lebah yang dipesannnya melalui bantuan layanan GPS,” ujarnya, kepada HR Online, akhir pekan lalu.

Layanan Aplikasi Marketplace Penjualan Madu

Menurut Hadi, terdapat sejumlah layanan yang bisa digunakan pada aplikasi tersebut dalam transaksi jual beli madu, mulai dari mendata semua peternak madu dari berbagai kelompok tani, memprediksi perkembangan lebah mulai dari masuk sampai menghasilkan madu dan memprediksi panen madu dapat diperkirakan berdasarkan jenis lebah.

Selain itu, kata Hadi, pada aplikasi itupun terdapat log aktifitas peternak selama proses perawatan madu, dapat terprediksi jumlah panen madu untuk periode masa panen pada bulan tertentu dan juga menyediakan market untuk konsumen yang memerlukan informasi atau jenis madu.

“Tidak hanya itu, aplikasi inipun memiliki kecanggihan teknologi yang bisa menyimpan titik stup madu yang dapat terdeteksi dengan kordinat GPS. Dengan begitu, aplikasi ini kecanggihannya melebihi aplikasi toko online,” ujarnya.

Alur kerja aplikasi tersebut, kata Hadi, dimulai dari peternak madu yang memburu atau memancing lebah supaya masuk ke stup. Biasanya, kalau madu alami, ditempatkan dulu di hutan atau bisa juga langsung dimasukan ratu dan koloni lebahnya ke stup.

“Dari mulai lebah masuk sudah mulai di log aplikasi per tanggal masuk lebahnya. Titik GPS secara otomatis mencatat kordinat terakhir stup difoto melalui app mobile. Kemudian bisa langsung terprediksi masa panen madunya berdasarkan jenis lebah. Apps mobilenya juga bisa mencatat setiap proses perawatan stup dari gangguan hama luar seperti semut dengan disertakan foto ke apps-nya,” terangnya.

Sampai saat ini, lanjut Hadi, sudah ada 5 jenis lebah di kampung madu Banjaranyar, Kecamatan Banjaranyar, Kabupaten Ciamis, yang menggunakan aplikasi dari hasil karya siswa jurusan Rekayasa Perangkat Lunak SMK 1 Kawali.

“Kerjasama ini memang diawali dengan kelompok madu Banjaranyar. Tetapi untuk kedepan akan digunakan oleh peternak-peternak madu di sejumlah daerah di Indonesia,” katanya.

Ciptakan Sistem Penjualan Online Saling Menguntungkan

Hadi juga mengungkapkan aplikasi itupun bisa mendokumentasikan masa panen untuk menjadi history dari stup madu tersebut. Sampai saat ini, kata dia, di aplikasi tersebut sudah mendata hampir 700 lebih stup madu.

“Proses akan berulang ke awal setelah masa panen madunya. Hal itu untuk memprediksi panen madu berikutnya. Jadi, si pembeli madu tidak membeli kucing dalam karung. Tetapi dia bisa memantau dari awal menciptakan kumpulan lebah hingga akhirnya menjadi madu,” ujarnya.

Hadi mengatakan output akhirnya dari aplikasi ini memang untuk memasarkan produk madu lewat penjualan marketplace. Di samping itu untuk memudahkan petani menjual hasil panen madunya. Namun, si pembeli pun disedikan layanan untuk memantau proses pembuatan madu agar produk yang dibelinya benar-benar berkualitas.

“Dalam hal ini kami menciptakan sebuah sistem untuk menjaga saling menguntungkan antara pembeli dan penjual. Jangan sampai pembeli nantinya kecewa karena madu yang dibelinya tidak memenuhi standar,” katanya.

Dalam pembuatan aplikasi tersebut, tambah Hadi, pihaknya melibatkan ahli dari ITB dan terus mengujinya agar aplikasi itu bisa terus disempurnakan. Selain membuat aplikasi marketplace penjualan madu, kata dia, pihaknya pun kini tengah merancang sistem teknologi untuk membantu perawatan tanaman pertanian.

“Kami terus mencoba mengasah bidang keilmuan siswa agar terus melakukan inovasi. Kami ingin menciptakan sebuah teknologi yang memang belum diciptakan,” pungkasnya. (Bgj/R2/HR-Online)