Warga Terdampak Pergerakan Tanah di Tambaksari Ciamis Berharap Bantuan Pemkab

bencana pergerakan tanah
Salah satu rumah terdampak pergerakan tanah di Dusun Sukamandi, Desa Kadupandak, Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis. Foto: Fahmi/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Kepala Dusun Sukamandi, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Ela Nursari, mengatakan, warganya yang terdampak bencana pergerakan tanah berharap ada bantuan dana perbaikan rumah dari Pemkab Ciamis. Hal itu setelah 20 rumah warga di daerah tersebut mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah.

“Pemkab melalui BPBD Ciamis baru memberi bantuan sembako kepada warga yang terdampak. Namun untuk bantuan rumah belum ada pembahasan. Warga yang terdampak bencana ini sudah meminta kepada pemerintah desa agar mengusulkan dana bantuan ke kabupaten untuk perbaikan rumah mereka,” katanya, Kamis (31/10/2019).

Ketika ditanya apakah warga yang terdampak harus direlokasi, Ela mengatakan, sejauh ini belum ada permintaan dari warga untuk relokasi. Hanya apabila hasil penelitian tim ahli bahwa daerah tersebut tidak layak ada bangunan rumah karena rawan bencana, pihaknya akan melakukan komunikasi dengan warga.

“Kalau relokasi merupakan pilihan terbaik, mungkin warga juga akan menerima. Hanya segala pembiayaan relokasi dan pembangunan rumah ditanggung oleh pemerintah. Karena kalau relokasi tanpa bantuan pemerintah kayanya warga tidak akan sanggup, terutama harus membeli tanah,” ujarnya.

Menurut Ela, bencana pergerakan tanah di wilayahnya memang bukan pertama kali terjadi. Hanya untuk kali ini paling parah apabila dibanding sebelumnya.

“Karena tekstur tanahnya labil ditambah posisinya miring yang diduga sebagai pemicu pergerakan tanah,” ujarnya.

Biasanya, lanjut Ela, pergerakan tanah di wilayahnya terjadi ketika musim penghujan. Namun kali ini justru terjadi pada musim kemarau. Dia khawatir apabila bulan November dan Desember memasuki musim penghujan, pergerakan tanah malah semakin parah.

“Sekarang kan tanah kering akibat kemarau. Saat kering saja tanah bergerak. Apalagi ketika hujan nanti. Biasanya saat kemarau tanah retak-retak. Saat hujan tanah yang retak-retak itu kemasukan air dan kemudian timbul tanah bergerak. Makanya kami membayangkan bagaimana nanti kalau sudah musim hujan,” ujarnya.

Menurut Ela, saat ini sudah hampir 20 rumah warga yang melaporkan rumahnya mengalami kerusakan. Dari 20 rumah tersebut, 4 rumah diantaranya temboknya sampai jebol.

“Kemarin memang baru 10 warga yang melapor rumahnya rusak. Tetapi setelah kami turun langsung ke lapangan ternyata bertambah menjadi 20 rumah. Sebenarnya bencana pergerakan tanah sudah meluas ke blok lain. Tetapi kerusakannya tidak parah,” ujarnya. (Fahmi2/R2/HR-Online)