Ambruknya Bangunan di Situ Leutik, DPRD Banjar; Belum Ada Aspek Keselamatan Kerja

Ambruknya Bangunan di Situ Leutik
DPRD saat meninjau lokasi ambruknya bangunan di Situ Leutik. Foto: Muhlisin/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Komisi III DPRD Kota Banjar meninjau lokasi ambruknya bangunan di Situ Leutik, Desa Cibeureum, Kecamatan Banjar, Kota Banjar, pada Kamis (07/11/2019), yang mengakibatkan jatuhnya satu korban jiwa dan empat pekerja luka-luka.

Setelah melakukan peninjauan, Ketua Komisi III DPRD Kota Banjar, Gun Gun Gunawan Abdul Jawad, mengaku pihaknya turut prihatin atas musibah ambruknya bangunan di kawasan Situ Leutik.

Ia juga mengatakan, kunjungan kerja pihaknya ke lokasi kejadian untuk memastikan keselamatan para kerja, dan menanyakan perkembangan mengenai pertanggungjawaban bagi keluarga korban.

“Kami sudah kunjungan, sudah menanyakan dan memberikan masukan kepada pihak pengembang, termasuk masalah penyelesaian untuk pihak keluarga korban,” kata Gun Gun, kepada Koran HR, saat ditemui di kantornya usai melakukan peninjauan ke Situ Leutik, Senin (11/11/2019).

Terkait dengan perlindungan keselamatan kerja, lanjut Gun Gun, berdasarkan kunjungan Komisi III DPRD, memang tidak melihat adanya pengamanan keselamatan bagi para pekerja, termasuk pemakaian helm pelindung kepala dan alat pelindung lainnya.

Untuk itu, pihaknya berharap kedepan masalah pengamanan keselamatan pekerja harus menjadi perhatian semua pihak, baik pengembang maupun pemerintah supaya pengelolaan pembangunan lebih sempurna, dari segi keselamatan kerja maupun dari sisi perencanaan.

“Semua pihak untuk lebih memperhatikan aspek keselamatan tenaga kerja, karena mencegah dan menjaga lebih baik daripada ada kejadian semacam ini lagi. Terkait adanya kelalaian, itu bukan kewenangan dari kami. Kami mengikuti hasil olah TKP pihak kepolisian karena ranah kami hanya sampai pada pengawasan,” kata Gun Gun.

Anggota Komisi III DPRD Kota Banjar, H. Mujamil, menambahkan, sebetulnya ada dua lokasi pembangunan yang ditinjau. Sedangkan, yang ambruk itu lokasinya ada di bagian pintu masuk, dan itu pun sudah dipasang police line.

“Setelah melihat di lapangan, kemungkinan bisa jadi faktor kontruksinya ada yang kurang kuat atau apa, kami belum bisa meraba. Tadi juga sempat mengambil sample, tapi yang jelas ini menunggu hasil dari olah TKP pihak kepolisian,” katanya.

Adapun mengenai keselamatan kerja, lanjut Mujamil, itu tentunya melibatkan beberapa pihak, salah satunya penyedia jasa. Dalam hal ini, pihak penyedia jasa yang mempunyai kewajiban, bahwa tenaga kerja mestinya harus ada safety, minimal ketika terjadi kecelakaan bisa mengurangi tingkat kecelakaan.

“Itu yang saya lihat di lapangan, memang tidak ada pengaman keselamatan bagi pekerja dan itu menjadi kewajiban dari penyedia jasa. Untuk kedepanya harus menjadi introspeksi pembangunan di Kota Banjar, bahwa untuk tenaga kerja harus memakai sefety,” tandasnya.

Ia juga menjelaskan, terkait efek penghentian dari proyek pembangunan, hal itu ada aturan tersendiri. Ketika sudah batas waktunya tidak selesai, tentu ada dendanya dan bisa kena penalti. Pihaknya pun berharap, kasus ambruknya bangunan di kawasan Situ Leutik secepat mungkin bisa diselesaikan, karena waktu berakhirnya pekerjaan sudah dekat.

“Tadi saya tidak sempat melihat tanggal kontraknya, tetapi secara umum tanggal 25 Desember kan sudah harus tutup pembukuan. Jadi, otomatis semua proyek sebelum tanggal 25 ya harus selesai,” tandas Mujamil. (Muhlisin/HR-Online)

Loading...