Menelisik Rumah Kuwu Bintang di Ciamis, Peninggalan Zaman Belanda yang Berusia Satu Abad

Rumah Kuwu Bintang
Rumah Kuwu Bintang yang berada di Dusun Pabrik, Desa Sukadana, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Foto: Fahmi/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Meski usia bangunannya diperkirakan lebih dari satu abad, namun rumah berarsitektur Eropa kuno ini masih berdiri kokoh. Orang menyebutnya rumah Kuwu Bintang. Lokasi rumah ini berada di Dusun Pabrik, Desa Sukadana, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Sebutan rumah Kuwu Bintang tentu ada sejarahnya, meski penghuninya saat ini bukanlah seorang kuwu atau kepala desa. Penghuninya adalah Yaya Heryana (79). Yaya menempati rumah tua ini bersama isteri dan anak bungsunya.

Sejarah Penamaan Kuwu Bintang

Kuwu Bintang ternyata kakeknya Yaya. Rumah ini diwariskan hingga ke generasi ketiganya. Meski usia bangunannya sudah tua, namun tampak masih kokoh. Rumah itupun masih sangat layak untuk dihuni.

Saat ditemui di rumahnya, Sabtu (09/11/2019), Yaya mengatakan, dirinya tidak mengetahui persis tahun berapa rumah itu awal dibangunnya. Hanya saja, ketika awal kakeknya menjadi kepala desa atau sekitar tahun 1920, rumah itu sudah berdiri.

“Saya lahir tahun 1941. Saat saya lahir rumah ini sudah berdiri. Kalau tahun 1920 sudah berdiri, berarti rumah ini satu tahun lagi genap usianya satu abad atau 100 tahun. Tapi kayanya lebih dari 100 tahun,” ujarnya.

Bangunan khas arsitektur Eropa yang menggunakan jendela tinggi besar. Foto: Fahmi/HR

Menurut Yaya, dulunya di sekitar rumah kuno itu tidak ada satu pun bangunan rumah milik warga lain. Karena rumah itu berdiri di kawasan hutan yang jauh dari permukiman penduduk.

“Saat saya sudah menginjak usia remaja pun di sekeliling rumah ini masih hutan. Setelah beberapa tahun kemudian baru berdiri rumah tetangga satu persatu dan jadilah perkampungan penduduk seperti sekarang,” ujarnya.

Yaya juga mengatakan dirinya tidak mendapat kesempatan untuk bertemu dengan kakeknya. Karena ketika dia baru lahir, kakeknya sudah meninggal dunia. “Saya juga lupa lagi nama asli kakek saya. Aduh maklum saya sudah tua,” katanya sembari tertawa.

Yaya mengatakan, Kuwu Bintang adalah gelar kehormatan yang diberikan kepada seorang kepala desa pada zaman kolonial Belanda. Gelar ini diberikan kepada kepala desa yang dianggap memiliki prestasi dan disegani oleh berbagai pihak.

“Yang memberi gelarnya adalah pemerintah kolonial Belanda. Karena waktu itu sistem pemerintahan masih dikendalikan oleh Belanda,” katanya.

Berprestasi Membangun Sukadana                                                           

Menurut cerita orang tuanya, lanjut Yaya, kakeknya saat menjabat kepala desa berhasil membangun akses jalan dari daerah Sukadana menuju Desa Margajaya.

Waktu itu daerah Margajaya masih hutan belantara dan dibuka menjadi kawasan perkampungan penduduk semasa kakeknya menjabat kepala desa. Prestasi itupun hingga kini masih dikenang oleh masyarakat setempat.

“Sampai-sampai sebuah nama jalan di Desa Sukadana dinamai jalan Kuwu Bintang. Pemberian nama itu tentunya sebagai bentuk penghargaan dari masyarakat atas jasa kakek saya dalam membangun kampung ini,” ujarnya.

Selain itu, kata Yaya, banyak prestasi lainnya yang sudah ditorehkan oleh kakeknya dalam membangun Desa Sukadana. “Nama kakek saya hingga kini masih dikenang oleh warga. Ditambah rumah yang dulu ditempati kakek saya ini masih berdiri kokoh. Seolah rumah ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kampung Sukadana,” ungkapnya.

Yaya mengatakan, saking kakeknya disegani oleh berbagai pihak, saat perang agresi militer Belanda tidak ada yang berani mengusik atau merusak rumah tersebut. Begitupun pada saat zaman pemberontakan DI TII maupun pemberontakan PKI.

“Padahal peristiwa peperangan itu terjadi setelah kakek saya sudah meninggal dunia. Tapi keluarganya tetap dihormati dan disegani. Kata cerita orang, kakek saya semasa hidupnya dikenal orang baik dan selalu menjaga hubungan baik dengan siapapun. Makanya saat perang berkecamuk rumah ini tidak ada yang mengganggu,” kenangnya.

Sudah Ditawari Menjadi Cagar Budaya

Saat ini, lanjut Yaya, memang banyak orang yang datang ke rumahnya untuk melihat keadaan serta keunikan dari rumah yang ditempatinya. Tidak sedikit pula orang yang sengaja datang hanya untuk berfoto dengan mengambil latar rumah kuno tersebut.

“Orang yang datang ke sini seringnya yang mau nikahan. Mereka foto-foto (prawedding) di sekitar rumah ini. Kalau saya sih silahkan saja siapapun yang mau berfoto di rumah ini. Asal minta ijin dulu dan tidak merusak bangunan dan benda yang ada di sekitar rumah ini,” ujarnya.

Yaya Heryana (79), penghuni rumah saat ini sekaligus generasi ketiga Kuwu Bintang. Foto: Fahmi/HR

Yaya pun mengaku dirinya pernah kedatangan seorang petugas yang mengaku dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Ciamis. Petugas tersebut, kata dia, mengajukan permohonan agar rumah Kuwu Bintang yang ditempatinya dijadikan cagar budaya.

“Saat itu saya katakan boleh-boleh saja kalau pemerintah mau ikut merawat rumah ini agar tetap terpelihara dengan baik. Tapi saya tegaskan pula kalau rumah ini diambilalih oleh pemerintah saya tidak mau. Rumah ini akan saya pertahankan hingga diwariskan secara turun temurun,” tegasnya.

Menurut Yaya, rumah dengan arsitektur serupa dengan rumahnya ada di daerah Kota Cimahi. Rumah itupun masih dipelihara oleh keturunannya dan hingga saat ini masih berdiri kokoh. “Rumah ini juga sama akan kami rawat dan tidak akan dijual atau dipindahtangankan ke pihak lain,”katanya.

Kental Arsitektur Eropa

Dari pantauan di lokasi, rumah berukuran 8 x 15 meter ini masih terlihat kokoh dan terawat dengan baik. Rumah yang kental dengan gaya arsitektur Eropa ini menggunakan jendela berukuran besar untuk sirkulasi pentilasinya. Hampir di setiap ruangan dan kamar terdapat jendela besar tersebut.

Setiap pintu ruangan dan kamar pun dibuat tinggi besar. Begitu pula pada ukuran ketinggian atapnya yang didesain cukup tinggi. Sementara pada setiap lubang pentilasi terdapat hiasan yang terbuat dari besi.

Bagian dalam rumah Kuwu Bintang yang terdapat hiasan yang terbuat dari besi pada lubang pentilasinya. Foto: Fahmi/HR

Meski usianya sudah satu abad, namun rumah ini belum pernah diubah bentuknya. Pemilik rumah hanya melakukan renovasi pada atap dan dinding yang sebelumnya sempat mengalami kerusakan akibat gempa.

Rumah Kuwu Bintang inipun memiliki halaman yang cukup luas. Di sekitar halaman rumah ditanami pohon bunga kertas dan pohon pala. Udara sejuk daerah pedesaan pun menambah suasana rumah kuno ini semakin natural. (Fahmi2/R2/HR-Online)

Loading...
Loading...