Profil Singkat Kuwu Bintang di Ciamis Zaman Belanda

Profil Singkat Kuwu Bintang di Ciamis Zaman Belanda

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Tim penggiat sejarah Kecamatan Sukadana yang dimotori Iwang Rusniawan Aditya dan Ahmad R Fauzi, berhasil mengungkap profil singkat Kuwu Bintang di zaman kolonial Belanda.

Kepada HR Online, Minggu (10/11/2019), Iwang menuturkan, nama asli Kuwu Bintang adalah Gali Mintaredja. Gali Mintaredja menjadi Kuwu atau Kepala Desa di Salakaria sejak tahun 1921.

Menurut Iwang, pada tahun tersebut, terjadi penyatuan dua desa, yaitu Salakaria Kulon (sekarang Salakaria) dan Salakaria Wetan (sekarang Sukadana) menjadi satu desa yaitu Desa Salakaria.

Setelah penggabungan dua desa tersebut, kemudian diadakan pemilihan kuwu. Pada masa itu proses pemilihan kepala desa sudah dilakukan secara demokratis seperti halnya sekarang, yaitu  kuwu atau kepala desa dipilih oleh masyatakat.

Tetapi bedanya adalah, pada masa itu yang memilih hanya masyarakat yang memiliki tanah dan pajak saja. Tempat pemilihannya saat itu di Bale Desa (Kantor Desa Salakaria sekarang).

Terpilih Padahal Tidak Diunggulkan

“Tanpa diduga oleh masyarakat, Gali Mintaredja yang tidak diunggulkan ternyata terpilih menjadi Kuwu, bahkan sebelumnya beliau duduk paling belakang,” katanya.

Setelah terpilih menjadi kepala desa, lanjut Iwang, beberapa keberhasilan pada masa pemerintahan Gali Mintaredja, diantaranya mengagas dan membangun jalan pemghubung dari pabrik ke arah Desa Margajaya. Sekarang, jalan tersebut diberi nama jalan Kuwu Bintang.

Kemudian selain itu, memindahkan Balai Desa bekas Salakaria Wetan dari Cigaruguy Desa Kolot ke pinggir jalan Utama (sekitar Kantor BP3K sekarang). Menata aliran Sungai Cisadap yang tadinya berkelok-kelok menjadi lebih lurus.

Hal ini bertujuan agar lahan pertanian lebih luas dan tidak terganggu oleh berlikunya aliran sungai.

“Dan salah satu prestasi lainnya adalah kesuksesan dalam pemungutan pajak. Atas prestasi-prestasi tersebut pada sekitar tahun 1930-an beliau dianugerahi Bintang penghargaan dari pemerintah kolonial Hindia Belanda,” ungkapnya.

Tiga Kuwu Bintang di Ciamis

Pada saat itu, secara bersamaan, Iwang menambahkan, ada 3 kuwu di Ciamis yang mendapatkan Bintang penghargaan. Diantarnya yaitu Gali Mintaredja, Kuwu Salakaria (Sukadana-Salakaria), Parmadisastra, Kuwu Parigi (Ciparigi), dan Tirtapraja, Kuwu Rantjakoret (Sekarang Desa Kertaharja Cijeungjing).

Dan yang menarik adalah, ketiga kuwu tersebut di daerahnya masing-masing, kemudian sama-sama dikenal dengan sebutan Kuwu Bintang. Dan ketiga kuwu tersebut juga memiliki rumah dengan gaya arsitektur yang hampir serupa.

“Kabupaten Ciamis saat itu dipimpin oleh Bupati Sastrawinata,” katanya.

Selain rumah bergaya belanda, Iwang mengungkapkan, ada pula beberapa peninggalan Kuwu Bintang Gali Minteredja, berupa piring dan alat rumah tangga kuno. Juga sebuah pedang bergagang kepala singa yang biasa digunakan oleh tentara pada masa kolonial.

Pada masa pemerintahannya, Kuwu Bintang Gali Minteredja dibantu oleh beberapa staf. Diantaranya Djayapoera sebagai Lebe, dan Altawijaya serta Kartawijaya sebagai ngabihi. Gali Mintaredja meninggal pada tanggal 26 April 1941 dan dimakamkan di TPU Panghayaman Tongoh.

“Sepeninggal Kuwu Bintang Gali Mintaredja, Desa Salakaria dipimpin oleh Kepala Desa Djayapermana,” imbuhnya. (Deni/R4/HR-Online)

Loading...