Selama Kemarau, Peternak Ayam di Panawangan Ciamis Berhenti Beternak

Peternak Ayam ilustrasi
Ilustrasi peternak ayam. Foto: Net/Ist

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Peternak ayam pedaging di Dusun Pahing, Desa Sagalaherang, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, berhenti beternak. Hal itu menyusul musim kemarau berkepanjangan yang terjadi selama tahun 2019. Pasalnya, peternak kesulitan air untuk pemenuhan kebutuhan air yang berpengaruh terhadap biaya produksi.

Dian Rusdiana, peternak, Senin (04/11/2019), mengatakan, selama musim kemarau para peternak ayam pedaging (ayam sayur) lebih memilih untuk tidak beternak. Sebab, pada musim kemarau kesulitan air.

Kalaupun dipaksakan, kata Dian, harus mengambil dari tempat yang jauh, sehingga akan menambah biaya produksi. Konsumsi air minum dan ransum saat suhu tinggi napsu minum meningkat drastis.

“Bahkan jika suhu mencapai 32 derajat celcius, konsumsi kebutuhan air minum bisa mencapai 50 persen. Otomatis akan menguras tenaga dan biaya,” katanya.

Tata, peternak lainnya, mengatakan, pada musim kemarau penyakit yang menyerang terhadap ayam terbilang jarang. Namun, sulitnya untuk mendapatkan air untuk pemenuhan kebutuhan minum berdampak pada meningkatnya biaya produksi.

Di saat musim kemarau, lanjut Tata, kejadian yang sering menimpa ayam adalah Heat Stres, karena secara alami tubuh ayam akan menghasilkan panas (panas metabolisme) . ditambah lagi dengan suhu lingkungan yang semakain panas.

“Kalau suhu tidak bisa distabilkan, dampak akhir yang terjadi yaitu kematian,” katanya.

Tata menjelaskan, Heat Stres merupakan suatu cekaman yang disebabkan suhu udara dalam kandang melebihi zona nyaman lebih dari 28 derajat celcius. Stres bisa muncul ketika ayam tidak bisa membuang panas dari dalam tubuh akibat tingginya cekaman suhu tersebut.

“Kondisi suhu yang tinggi mempengaruhi kestabilan kandungan nutrisi dalam ransumnya, terutama vitamin,” tandasnya.

Senada dengan itu, Alin peternak lain, mengungkapkan, resiko kematian dalam beternak ayam pedaging pada musim kemarau memang sangat kecil. Namun, sulitnya untuk mendapatkan air itulah yang menjadikan para peternak menahan diri untuk tidak beternak.

“Baik musim kemarau ataupun di musim penghujan yang namanya usaha ternak memang menanggung resiko,” katanya.

Hanya saja, Alin menuturkan, di saat musim kemarau apa yang dirasakan para peternak, tidak serumit seperti di musim penghujan. Ketimbang akan menguras tenaga dan biaya, maka para peternak istirahat sejenak, sembari bekerja serabutan. (Dji/Koran HR) 

Loading...