Siswa SMP di Pangandaran yang Telan Paku Sudah Ditangani RSHS Bandung

Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung
Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Foto: Ist/Net

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),– Siswa SMP N 2 Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, yang tak sengaja menelan paku sudah ditangani oleh pihak Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Deni Nugraha, siswa tersebut sudah dioperasi pada Rabu, (27/11/2019).

Asep Noordin, Ketua DPRD Pangandaran, menuturkan, sebelumnya operasi Deni sempat ditunda, namun kini sudah ditangani dan dilakukan operasi di RS Hasan Sadikin.

“Sebelumnya operasi itu sempat ditunda karena alasan hal teknis, termasuk kondisi si anak yang belum siap secara medis,” ujar Asep kepada HR Online, Kamis, (28/11/2019).

Asep menuturkan dirinya selalu melakukan komunikasi secara intens dengan Kepala Dinas Kesehatan Pangandaran. Hal itu dilakukan agar Deni segera ditangani. Apalagi mengingat Deni sebentar lagi harus mengikuti Tes Akhir Semester.

“Alhamdulilah kini anak tersebut sudah ditangani dan dilakukan operasi, saya berharap kesehatannya segera pulih dan secepatnya bisa mengikuti pelajaran di sekolahnya,” paparnya.

Berita Terkait: Siswa SMP di Pangandaran Telan Paku, Saat Dirontgen Sudah Sampai Paru-paru

Musibah yang dialami Deni Nugraha terjadi pada Rabu, 13 November 2019 lalu. Pihak sekolah langsung membawanya ke Puskesmas Selasari. Dari Puskesmas Deni kemudian dirujuk ke RSUD Bannjar.

Setelah dicek diketahui paku yang tak sengaja ditelan Deni sudah berada di sekitar paru-parunya. Karena keterbatasan alat, pihak RSUD Banjar merujuknya ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

Setelah diobservasi di RSUD Hasan Sadikin, pada Kamis, 14 November 2019 lalu, paku yang tak sengaja ditelan siswa SMP di Pangandaran itu tak ditemukan. Namun saat dirontgen ulang, posisi paku diketahui sudah ada di paru-paru.

“Setelah beberapa kali diperiksa, pihak RSUD Hasan Sadikin sempat menjadwalkan operasi untuk Deni, pada hari Jum’atnya (15 November 2019), namun anehnya diundur sampai hari Senin (18 November 2019), alasannya jadwal padat, padahal ini pasien darurat,” ucap Asep.

Asep mengaku khawatir jika Deni terlambat ditangani. Hal ini, kata Asep, bisa menggangu belajar Deni di sekolah.

“Alhamdulillah karena dukungan dan dorongan dari semua pihak, akhirnya bisa ditangani dan paku yang sudah sampai ke paru-paru itu bisa diangkat,” jelas Asep.

Asep berharap agar siapapun pasien darurat bisa segera ditangani sesuai SOP. “Perlu diingat kesehatan itu adalah hak semua warga negara Indonesia, tanpa terkecuali,” pungkasnya. (Enceng/R7/HR-Online)