Badai Geomagnetik di Bumi Akibat Letusan Matahari

Badai Geomagnetik di Bumi
Ilustrasi Badai Geomagnetik. Foto: Istimewa

Fenomena badai geomagnetik di Bumi terjadi akibat angin matahari. Dampak lain yang ditimbulkan adalah gangguan pada satelit.

Hal tersebut merupakan temuan terbaru yang dirilis Parker Solar Probe milik NASA awal Desember ini. Angin matahari yang berupa aliran partikel bermuatan dari matahari akan berpengaruh pada astronot.

Badai Geomagnetik di Bumi Dipicu oleh Letusan Matahari

Badai geomagnetik merupakan gangguan di magnetosfer Bumi. Penyebabnya adalah interaksi antara angin matahari dengan aliran partikel berenergi yang mengalir keluar dari matahari melewati tata surya. Kemudian berinteraksi juga dengan medan magnet bumi.

Badai ini dihasilkan oleh semburan angin matahari yang keluar secara intens dan berkepanjangan. Sementara untuk badai yang besar berasal dari semburan massal koronal.

Semburan tersebut merupakan pelepasan plasma surya. Berasal dari zona surya beserta medan magnet yang sangat kuat.

Semburan massal koronal memerlukan waktu berhari-hari untuk mencapai bumi. Badai paling dasar akan datang hanya dalam waktu 18 jam.

Badai geomagnetik di Bumi minggu ini dihasilkan oleh 3 semburan massal koronal. Semburan tersebut berasal dari bintik matahari.

Bintik matahari merupakan kawasan dari matahari yang suhu permukaannya turun. Hal ini diakibatkan dari konsentrasi magnetik yang tinggi.

Semburan partikel dari matahari akan bergerak melewati luar angkasa. Semua yang dilewatinya akan dihantam.

Saat semburan massal koronal menghantam Bumi, matahari berinteraksi dengan bermacam-macam atom dan molekul di atmosfer kita.

Guncangan ini akan menciptakan Cahaya Utara dan Cahaya Selatan yang terjadi di daerah Antartika.

Dampak Badai Geomagnetik di Bumi

Badai geomagnetik yang kuat akan berdampak buruk di Bumi. Badai ini akan mengganggu jaringan listrik, komunikasi, serta sistem navigasi berbasis satelit.

Beberapa ilmuwan memprediksi bahwa badai geomagnetik di Bumi akan mengganggu jam biologis manusia. Selain itu juga dapat menyebabkan variasi tekanan darah dan detak jantung.

Serguei Bogachov, seorang ahli astrofisika yang berasal dari Rusia mengatakan bahwa badai terbaru yang terjadi merupakan badai yang terkuat dalam 18 bulan terakhir. Akan tetapi masih dikategorikan sebagai level tiga dalam skala satu sampai lima.

Para ahli dari Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional juga mengamati bahwa bintik matahari di belakang semburan massal koronal kemungkinan akan hancur.

Tidak mungkin akan menghasilkan semburan yang lebih besar lagi. Sehingga tidak akan menjadi ancaman yang lebih buruk lagi bagi planet Bumi.

Jadi, apabila dibandingkan dengan badai matahari besar tahun 1859, ini tidak ada apa-apanya. Pada saat itu tercatat sebagai badai matahari paling ekstrem yang pernah terjadi.

Kejadian tersebut mengakibatkan sistem telegraf menyala. Kemudian Cahaya Utara terlihat hingga ke bagian selatan Bahama.

Prediksi Badai Geomagnetik

Sebuah laporan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Amerika memprediksi bahwa badai geomagnetik di Bumi yang parah dapat menyebabkan kerugian.

Kerugian tersebut mencapai US$ 1 triliun hingga US$ 2 triliun dalam tempo satu tahun pertama saja. Dunia juga memerlukan pemulihan selama empat hingga sebelas tahun.

Peningkatan aktivitas geomagnetik hanya terjadi di wilayah lintang tinggi. Wilayah tersebut yakni di belahan Utara dan Selatan Bumi.

Dampak yang paling besar adalah adanya gangguan jaringan listrik, komunikasi, sinyal televisi, satelit dan gangguan GPS. Bahkan jika badai geomagnetik di Bumi ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama bisa merusak trafo.

Namun, di sisi lain akan muncul Aurora indah yang terlihat di belahan bumi Utara dan Selatan. Berdasarkan BMKG, untuk Indonesia sendiri tidak ada pengaruh sama sekali dan aman.

Fenomena yang terjadi kali ini adalah badai geomagnetik atau  badai matahari.  Badai matahari besar akan dapat merusak peralatan manusia yang berada di orbit, misalnya saja satelit.

Jika ledakan tinggi terlepas dan terjadi di Bumi, maka satelit yang melintas di sekitar kutub akan mengalami gangguan. Bahkan bisa padam untuk sementara waktu.

Saat badai matahari menghantam atmosfer, maka medan magnet Bumi di sekitar kutub tidak stabil. Lonjakan tegangan listrik tidak terkendali.

Fenomena badai geomagnetik di Bumi merupakan kejadian yang biasa terjadi dalam siklus luar angkasa. Badai matahari merupakan wujud siklus dari matahari yang selalu aktif.

Saat siklus sedang klimaks, angin matahari akan kencang dan partikel bergerak lebih lincah. Bumi pun akan terpapar partikel bermuatan tinggi dan radiasi elektromagnetik tinggi. (R10/HR-Online)

Loading...