Pantai Batu Hiu Pangandaran dan Cerita Goa Seni Tempat Tirakat Para Seniman

Pantai Batu Hiu Pangandaran
Area wisata Pantai Batu Hiu Pangandaran yang terletak di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Foto: Istimewa

Pantai Batu Hiu Pangandaran yang berlokasi di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, dikenal dengan keindahan alamnya. Tak sedikit wisatawan yang berkunjung ke lokasi wisata pantai tersebut. Pantai ini pun merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Pangandaran.

Namun di balik keindahan itu rupanya terdapat cerita mistis terkait sebuah goa yang terdapat di bawah batu karang yang disebut-sebut kerap digunakan sebagai tempat bertapa.

Goa ini diberi nama Goa Seni. Sesuai dengan namanya, goa seni sering digunakan sebagai tempat bertapa para seniman yang ingin meningkatkan kemahiran bermain seninya dengan cara gaib.

Goa Seni di Pantai Batu Hiu Pangandaran Lokasinya Tersembunyi

Mulai dari pemain alat musik tradisional, sinden sampai penari ronggeng, konon kerap menjadikan goa tersebut sebagai pijakan untuk mengangkat popularitasnya di panggung seni.

Dalam bahasa ritualnya, bertapa di Goa Seni disebut tirakat. Melalui tirakat inilah para seniman mencoba keberuntungan untuk meningkatkan kemahiran seninya melalui cara gaib.

Meski objek wisata Pantai Batu Hiu Pangandaran sudah familier di telinga masyarakat, namun tidak demikian dengan Goa Seni. Malah bisa jadi wisatawan tidak percaya di kawasan objek wisata ini terdapat sebuah goa. Karena apabila berada di Pantai Batu Hiu, wisatawan pasti mengaku tidak pernah melihat sebuah goa.

Ternyata, lokasi Goa Seni ini berada di bawah batu karang yang bentuknya lengkob. Selain itu mulut goa ini pun berhadapan langsung dengan laut lepas. Apabila ingin masuk ke Goa Seni harus bisa menghindari deburan ombak yang cukup kencang dan sesekali menghantam ke mulut goa.

Memang lokasinya sulit dijamah manusia. Hanya orang yang memiliki keberanian dan niat kuat yang bisa masuk ke dalam goa tersebut. Makanya goa ini tidak direkomendasikan untuk dikunjungi wisatawan karena sangat berbahaya.

Namun, bagi para seniman yang mempercayai mitos terkait Goa Seni, tidak menjadikan bahaya tersebut sebagai halangan. Selain itu, saat masuk ke goa tersebut, biasanya ditemani oleh seorang juru kunci yang sudah paham medan serta mengetahui cara aman untuk masuk ke mulut goa tersebut.

Penampakan Goa Seni yang berada di Pantai Batu Hiu Pangandaran yang konon sering digunakan tempat ritual para seniman yang ingin meningkatkan kemampuan seninya dengan cara gaib. Foto: Istimewa

Aki Ido Banyak Melahirkan Seniman Populer

Menurut Juru Kunci Goa Seni Pantai Batu Hiu Pangandaran, Abah Adnan (62), goa tersebut diberi nama Goa Seni karena memang sering digunakan tempat tirakat para seniman.

Menurutnya, awal cerita tempat ini disebut Goa Seni ketika juru kunci pertama yang bernama Aki Ido (Almarhum) dikenal sering melahirkan seniman-seniman lokal yang piawai memainkan seni tradisional.    

“Cerita ini konon terjadi sekitar tahun 1950-an. Waktu itu para seniman yang ingin mahir bermain seni serta sukses di atas panggung, selalu datang ke Aki Ido dan melakukan proses ritual tirakat di Goa Seni ini. Alhasil banyak seniman lokal yang menjadi terkenal di masanya,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Setelah banyak seniman yang melakukan tirakat di goa tersebut kemudian disebutlah tempat itu dengan nama Goa Seni. Menurutnya, goa itu memang jarang dijamah manusia karena lokasinya berada di bawah batu karang dan mulut goanya berhadapan langsung dengan laut lepas.

“Harus dipandu oleh orang yang sudah tahu medan,” imbuhnya.

Cerita Kasid Tirakat di Goa Seni Pantai Batu Hiu Pangandaran

Abah Adnan bercerita sekitar tahun 1950-an dikenal seorang juru kendang ronggeng gunung di wilayah Pangandaran yang bernama Kasid. Dia piawai memainkan kendang hingga ketukannya sulit ditiru oleh pemain kendang lainnya. Dengan kepiawaiannya memainkan kendang membuat nama Kasid populer di masyarakat Pangandaran.

“Apabila Kasid sedang manggung, tepukan kendangnya sangat enak didengar. Saking enak didengar, sampai-sampai masuk ke hati para penonton. Kasid pada waktu itu benar-benar menjadi seorang maestro seni di Pangandaran,” ujarnya.

Menurut cerita, kata Abah Adnan, Kasid bisa piawai memainkan kendang setelah melakukan tirakat di Goa Seni Pantai Batu Hiu Pangandaran yang dipandu oleh Aki Ido. Padahal sebelumnya Kasid sama sekali tidak bisa memainkan kendang. Dia pun tidak memiliki rekam jejak sebagai seorang seniman.

“Kasid sebelumnya hanya seorang buruh serabutan dan sesekali menjadi tukang ojeg. Namun dia menikahi seorang penari ronggeng. Dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya, Kasid mengandalkan penghasilan dari istrinya sebagai penari ronggeng,” ujarnya.

Tirakat Tiga Hari Tiga Malam

Karena memiliki seorang istri seorang penari ronggeng yang membuat Kasid memiliki ambisi untuk bisa memainkan alat musik kendang. Dia ingin satu pekerjaan dengan istrinya dan tidak hanya sekedar menjadi tukang antar jemput istrinya ketika manggung ke lokasi pertunjukan.

Namun belajar hingga mahir memainkan alat musik kendang bukan perkara mudah. Kasid pun paham mengenai kesulitan itu. Tanpa pikir panjang, Kasid memilih jalan pintas dengan menemui Aki Ido di Pantai Batu Hiu Pangandaran.

“Saat bertemu dengan Aki Ido, Kasid disuruh melakukan tirakat selama tiga hari tiga malam di dalam goa. Kasid pun dibimbing dan diberi bacaan doa agar diamalkan selama proses tirakat berlangsung,” ujarnya.

Namun, kata Abah Adnan, waktu itu Aki Ido berpesan kepada Kasid jangan tertawa apabila melihat sesuatu kejadian yang lucu selama proses tirakat.

“Saat proses tirakat dilakukan, benar saja dari bebatuan stalagnit goa muncul cahaya dan bayang-bayang berbentuk sebuah kendang. Kasid pun kaget dan semakin serius melakukan tirakatnya,” ujarnya.

Kisah Kodok di Goa Seni Pantai Batu Hiu Pangandaran

Tak lama berselang, muncul seekor kodok di dekat bayangan kendang yang terlihat di batu stalagnit tersebut. Kodok itu rupanya memainkan cara menepuk kendang di balik cahaya tersebut.

Dari pengakuan Kasid, lanjut Abah Adnan, saat kodok memainkan kendang, dia sebenarnya ingin tertawa karena terlihat sangat lucu. Namun Kasid ingat pesan Aki Ido yang melarang tertawa apabila menemukan kejadian lucu.

“Ketika kodok itu terus menerus memainkan cara menepuk kendang, dengan refleks Kasid pun terus mengikuti dan meniru. Hal itu dilakukan semalaman penuh hingga berakhir ketika ayam sudah berkokok menunjukan waktu pagi hari,” terangnya.

Setelah pagi hari Kasid pun keluar dari Goa Seni Pantai Batu Hiu Pangandaran. Kemudian dia bergegas pulang ke rumahnya. “Setelah kejadian itu Kasid menjadi mahir memainkan kendang dan bergabung dengan grup ronggeng asal Pangandaran. Dia pun menjadi maestro seni dan namanya cukup populer di masyarakat Pakidulan,” ujarnya. (Enceng/R2/HR-Online)

Loading...