Pengidap HIV/AIDS di Ciamis Didominasi Ibu Rumah Tangga

Pengidap HIV/AIDS
Ilustrasi pengidap HIV/AIDS. Foto: Ist/Net

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Pengidap HIV/AIDS di Ciamis ternyata didominasi oleh ibu rumah tangga. Pengelola Program HIV/AIDS dan PIMS Dinas Kesehatan Ciamis Nova Dahliana membenarkan hal tersebut.

Selama ini, kata dia, kebanyakan orang berpikir kasus HIV/AIDS paling banyak didominasi oleh wanita pekerja seks. Namun, berdasarkan data dan fakta di lapangan, ternyata ibu rumah tangga lebih mendominasi. 

Berita Terkait : Komunitas Pemusik Jalanan Ciamis Gelar Sosialisasi HIV/AIDS di Terminal

“Ternyata penularan HIV/AIDS tidak hanya terjadi di lokalisasi, tapi juga di lingkungan rumah tangga. Kemungkinan itu terjadi karena tertular dari suaminya yang kerap ‘jajan’ di luar,” jelasnya.

Dia menyebut, melihat data dari tahun 2012-2019, pengidap HIV dari wanita penjaja seks (WPS) di Ciamis hanya 30 orang. Sedangkan dari kalangan ibu rumah tangga mencapai 54 orang.

“Maka dari itu, kami dari Dinas Kesehatan akan berupaya melakukan pencegahan penularan HIV/AIDS. Tak hanya di populasi kunci, tapi ke masyarakat umum yang cakupannya lebih luas,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, tahun 2019 ini, 12 orang di Ciamis dikabarkan meninggal dunia akibat terjangkit HIV/AIDS. Hal tersebut diakui Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Ciamis dr Bayu Yudiawan didampingi Pengelola Program HIV/AIDS dan PIMS Nova Dahliana Kamis (5/12/2019).

Berita Terkait : Di Ciamis, 12 Orang Meninggal Akibat Terjangkit HIV/AIDS

Menurut Nova, kasus orang terjangkit HIV/AIDS di Ciamis dari tahun ke tahun semakin meningkat. Sejak tahun 2001 sampai tahun 2019, jumlah pengidap HIV/AIDS di Ciamis mencapai 493 orang.

Dikatakan, angka kematian akibat kasus HIV/AIDS di Ciamis memang cukup tinggi. Hal tersebut karena penemuan kasus tersebut terlambat.

Menurutnya, keterlambatan penemuan kasus tersebut lantaran orang yang bersangkutan tak segera memeriksakan diri. Selama ini, pengidap HIV/AIDS ditemukan sesudah di puskesmas atau rumah sakit.

“Di kita, kesadaran untuk melakukan pemeriksaan HIV/AIDS masih rendah. Jika saja kasus itu ditemukan lebih cepat, maka bisa dilakukan penanganan cepat dan diobati guna mencegah kematian,” ucapnya. (Jujang/R5/HR-Online)