Populasi Penguin Antartika Menurun Drastis, Apa Penyebabnya?

Populasi Penguin Antartika Menurun
Ilustrasi Penguin. Foto: Istimewa

Populasi penguin Antartika menurun hingga 88%. Hal ini merupakan hasil penelitian yang telah diterbitkan oleh Antarctic Science bulan Agustus.

Para peneliti telah melakukan estimasi sejak tahun 80an. Penguin yang paling banyak menurun populasinya adalah penguin Kaisar.

Penguin Kaisar memiliki berat kurang lebih 13 kilogram dan dapat tumbuh hingga 1 meter. Warna yang paling khas adalah oranye pada bagian atas dada, leher, kepala serta paruh.

Penyebab Populasi Penguin Antartika Menurun

Penguin merupakan hewan akuatik jenis burung namun tidak bisa terbang dan kebanyakan tinggal di Antartika.

Penguin dapat melakukan perjalanan hingga 400 km. Hal ini dilakukan untuk menyelam dan mendapatkan makanan.

Meskipun mereka menempuh jarak yang lumayan jauh untuk mencari makanan, akan tetapi penguin tidak melakukan imigrasi. Khususnya penguin Kaisar.

Para penguin tinggal di daerah yang sama selama bertahun-tahun. Pulau Babi, Antartika merupakan daerah koloni terbesar dari penguin.

Para peneliti telah menganalisis ukuran populasi penguin secara non invasif. Riset dilakukan dengan menggunakan foto yang diambil melalui helikopter dan gambar satelit.

Populasi penguin Antartika menurun tidak ditemukan secara pasti penyebabnya. Namun, para ilmuwan telah menemukan beberapa alasan penyebab penurunan jumlah populasi.

Kurangnya Sumber Makanan

Penguin di Antartika mulai kehilangan sumber makanan. Hal ini disebabkan karena jumlah udang kecil di Antartika semakin sedikit.

Dari hasil penelitian, jumlah populasi penguin Antartika menurun karena tidak dapat beradaptasi. Karena ada penguin yang hanya mengkonsumsi udang kecil saja.

Udang kecil jumlahnya semakin sedikit dikarenakan beberapa faktor. Diantaranya adalah penangkapan komersil yang dilakukan oleh nelayan. Selain itu juga karena adanya perubahan iklim.

Sebelumnya, jumlah udang kecil melimpah saat anjing laut dan paus banyak diburu manusia. Dengan demikian, penguin akan mudah saat mencari mangsa.

Fenomena Salju Mencair

Salju yang meningkat akan menyulitkan penguin dewasa untuk membuat sarang. Mereka akan kesulitan menemukan tempat yang cocok untuk tempat sarang.

Hujan dan salju merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi dari penguin, khususnya anak penguin. Pertumbuhan akan terhambat karena hipotermia.

Para ahli telah mengamati tentang fenomena mencairnya salju di Antartika. Kejadian tersebut menjadi sebab kelangsungan hidup penguin yang rendah.

Populasi Penguin Antartika Menurun Karena Perubahan Kondisi Iklim

Tahun 2016, para ilmuwan juga menemukan ratusan bangkai penguin di Semenanjung Timur Antartika. Kebanyakan dari mereka masih anak-anak.

Mereka ditemukan di tempat koloni yang ditinggalkan. Umur mumi tersebut sekitar 750 dan 200 tahun.

Kepadatannya mencapai 10 hingga 15 bangkai per meter persegi. Berada di tempat koloni yang ditinggalkan.

Bangkai tersebut berupa mumi terdehidrasi yang telah diawetkan. Tubuh mereka sebagian besar masih lengkap dengan rangka, kulit dan bulu.

Penyebab kematian anak-anak penguin tersebut kemungkinan karena terjadi hujan lebat. Selain itu juga adanya perubahan kondisi iklim. Sehingga para penguin terpaksa meninggalkan koloni.

Para ahli zoologi menemukan sisa bangkai burung penguin di lokasi koloni yang ditinggalkan. Sebagian besar analisis yang dilakukan untuk memverifikasi penyebab kepunahan.

Para ilmuwan tersebut melakukan studi mengenai radiokarbon pada sisa bangkai. Alasan utama populasi penguin Antartika menurun karena adanya anomali cuaca yang ekstrim.

Hujan tidak menyebabkan kematian massal. Akan tetapi, peningkatan air di udaralah penyebabnya.

Pergeseran pola angin di Samudera Selatan meniupkan udara basah ke arah Antartika bagian timur. Hal tersebutlah yang menunjukkan penanggalan karbon tanah di sekitar lokasi penguin mati secara massal.

Udara basah tersebut menjadi penyebab curah hujan meningkat. Lingkungan tempat penguin bertelur pun terganggu bahkan sampai terjadi erosi.

Populasi anak penguin pun juga dipengaruhi oleh daratan yang semakin basah. Saat berusia muda, anak-anak penguin belum mempunyai bulu.

Dengan alasan tersebut, anak penguin akan sangat sulit bertahan hidup di lingkungan yang dingin. Anak penguin juga rentan sakit dalam kondisi yang terlalu basah.

Tingkat curah hujan yang tinggi ini diidentifikasi karena efek samping dari pemanasan global. Para ilmuwan sudah memastikan akan ada kematian massal penguin dalam waktu dekat.

Populasi penguin Antartika menurun sudah dapat dilihat dalam beberapa dekade terakhir. Menurut NASA, suhu global meningkat 1,8 derajat sejak tahun 1880. Permukaan air laut pun ikut naik per tahunnya dan jumlah es di Antartika telah menyusut. (R10/HR-Online)

Loading...