Rahasia Dibalik Terapi Puasa untuk Penyembuhan Penyakit

terapi puasa untuk penyembuhan penyakit
Ilustrasi puasa. Foto: Ist/Net

Terapi puasa untuk penyembuhan penyakit merupakan hal yang lumrah dilakukan sejumlah kalangan. Bahkan kalangan medis juga menerapkan terapi puasa ini untuk membantu proses penyembuhan pasien.

Puasa memang merupakan perintah agama yang diajarkan untuk umatnya. Hampir semua agama ada ajaran tentang puasa yang mesti dijalankan umatnya. Baik Islam, Kristen, Hindu, hingga penganut aliran kepercayaan pun menjalankannya.

Dalam Islam sendiri puasa yang paling populer dan wajib dijalankan umatnya adalah puasa saat bulan Ramadhan. Selama sebulan penuh kaum muslim menjalankan puasa dengan sahur sebelum Subuh dan berbuka setelah Magrib.

Selain sebagai bentuk amalan ibadah yang berpahala, puasa ternyata juga banyak manfaatnya untuk tubuh. Bahkan menurut medis, puasa merupakan proses detoksifikasi yang paling efektif untuk membersihkan tubuh dari berbagai timbunan racun.

Terapi puasa untuk penyembuhan penyakit juga dijalankan banyak negara barat sebagai bagian dari perawatan medis. Puasa sebagai terapi juga semakin diminati dan makin populer di Eropa dan Amerika Serikat.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa klinik di Jerman mengaku mampu menyembuhkan tak sedikit pasien dengan bantuan terapi puasa ini yang sangat mendukung penanganan medis yang diberikan.

Klinik Health Spa di AS maupun dokter dari Moscow Institute of Psychiatry membuktikan langkah medis untuk proses penyembuhan akan makin cepat dan hasilnya akan lebih baik jika dibarengi dengan terapi puasa.

Sejumlah pasien yang sembuh dengan terapi puasa untuk penyembuhan penyakit ini pun akan menjadi lebih segar dan lebih bergairah hidupnya. Baik secara fisik maupun mental.

Efektivitas Terapi Puasa untuk Penyembuhan Penyakit

Untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya, manusia tentu saja membutuhkan makan. Namun kebanyakan orang kurang memahami kebutuhan tubuhnya sehingga lebih sering memasukkan makanan yang tidak dibutuhkan, termasuk junk food dan lainnya.

Organ dalam tubuh akan mendapat asupan dari nutrisi makanan yang dikonsumsinya. Namun tak sedikit pula zat racun dari bahan makanan yang masuk dan tertimbun dalam tubuh.

Melalui proses melabolisme tubuh akan membuang zat-zat sampah maupun yang beracun. Meskipun tubuh memiliki mekanisme imunitas namun jika zat sampah masuk dalam waktu lama tentunya akan tertimbun dan berdampak terhadap kesehatan.

Melalui puasa, tubuh memiliki mekanisme detoksifikasi untuk membuang semua zat sampah dan beracun dari dalam tubuh.

Dalam mekanisme terapi puasa untuk penyembuhan penyakit, bukan hanya zat sampah yang akan terbuang. Proses penyerapan nutrisi dari makanan juga akan lebih efektif.

Begitupun jika penderita sedang dalam pengobatan medis, obat akan bekerja dengan lebih efektif. Hal ini karena fungsi organ tubuh akan lebih optimal dengan menjalani puasa.

Sejumlah riset juga menemukan keutamaan puasa bukan hanya baik pengaruhnya untuk kesehatan fisik namun juga mampu meningkatkan kemampuan dalam mengontrol emosinya.

Saat berpuasa, otot-otot peristaltik, organ pencemaan, hingga jaringan hati beristirahat. Hal ini ternyata mampu melancarkan aliran darah ke otak dengan lebih lancar dan lebih banyak. Sehingga otak menjadi lebih jernih dan lebih optimal fungsinya.

Penyakit Kronis yang Bisa Disembuhkan dengan Terapi Puasa

Manfaat terapi puasa untuk penyembuhan penyakit sangat besar. Bahkan tak sedikit penyakit kronis yang berbahaya bisa disembuhkan dengan terapi ini. Apa saja jenis penyakit itu.

Penelitian dari University Southern California menyimpulkan puasa selain mampu melindungi kerusakan sistem imunitas tubuh juga bisa menginduksi regenerasi kekebalan tubuh secara lebih optimal.

Kemampuan ini juga akan memulihkan tubuh yang terserang infeksi virus atau bakteri penyebab kanker. Begitu pun penyakit diabetes melitus, kadar gula darah bisa lebih dikendalikan dengan puasa agar tidak semakin parah.

Banyak penyakit berbahaya lainnya yang bisa diatasi dengan terapi puasa untuk penyembuhan penyakit. Diantaranya hipertensi, gangguan batu empedu, sakit maag, kolesterol tinggi, penyakit jantung, rematik, insomnia, depresi, ginjal, obesitas, hingga penyakit kulit. (R9/HR-Online)

Loading...