Selasa, Juli 5, 2022
BerandaBerita TerbaruRekayasa Genetika Tanaman Menuai Pro dan Kontra

Rekayasa Genetika Tanaman Menuai Pro dan Kontra

Rekayasa genetika tanaman merupakan penemuan bidang sains yang sering menimbulkan polemik di kalangan masyarakat.

Sejak zaman sejarah hingga modern, penemuan bidang sains dan teknologi sering memancing perdebatan yang sengit. Banyak pro kontra yang meluas, terutama di negara yang merupakan tempat penelitian ilmiah tersebut dijalankan.

Pro Kontra Rekayasa Genetika Tanaman

Rekayasa genetika pada tanaman mendatangkan perdebatan di masyarakat selama bertahun-tahun. Kelompok yang kontra berpendapat jika tanaman yang direkayasa secara genetik akan menimbulkan masalah kesehatan.

Selain itu juga dapat merusak keseimbangan alam. Kelompok kontra juga berpendapat jika perusahaan biotek yang melakukan eksperimen rekayasa genetika hanya bertujuan mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya.

Sementara pada kelompok yang pro, rekayasa genetika tanaman ini dilakukan agar hasil panen para petani optimal.

Karena saat ini kondisi alam semakin tidak menentu. Misalnya saja, cuaca ekstrem, gulma dan serangan hama.

Kelompok pro juga menjadikan rekayasa genetika sebagai solusi menangani krisis pangan global.

Lantas, tanaman apa sajakah yang merupakan hasil rekayasa genetika? Berikut ini merupakan beberapa tanaman hasil rekayasa genetika berdasarkan hasil kutipan dari Seeker dan Huffpost.

1. Rekayasa Genetika Tanaman Biji Kapas

Gossypol yang secara alami terkandung di dalam biji kapas, menjadikan biji kapas tidak dapat dikonsumsi. Gossypol merupakan komponen yang mempunyai fungsi agar serangga menjauhi tanaman ini.

Pada tahun 2006, kolaborasi antara Texas A&M University dan Cotton Inc melakukan riset untuk menghasilkan benih rekayasa genetika dari biji kapas yang dapat dimakan.

Pada waktu itu, para peneliti mempunyai tujuan agar biji kapas dapat dibuat gandum sehingga bisa dimakan.

Namun, dalam penelitian menemui banyak hambatan. Terutama dalam biokrasi sebelum dapat dibudidayakan.

2. Golden Rice

Pada tahun 1990an, para peneliti di Swiss Federal Institute of Technology dan Syngenta Company melakukan kolaborasi untuk menemukan gen kunci dari tanaman yang berbunga pada padi.

Rekayasa genetika tanaman dilakukan untuk meningkatkan kadar beta karoten, yakni molekul yang bisa dikonversi menjadi vitamin A.

Hal ini dilakukan mengingat lebih dari 120 juta anak yang ada di dunia kekurangan vitamin A. Jika asupan vitamin A kurang, maka bisa meningkatkan resiko kebutaan.

Permasalahan yang terjadi pada penelitian adalah mengenai hak kekayaan intelektual antara penemu dengan perusahaan agrichemical Syngenta. Namun, golden rice dapat diuji coba di Louisiana pada tahun 2008.

3. Jagung

Rekayasa genetika juga dilakukan pada sekitar 85% tanaman jagung yang ada di Amerika Serikat, menurut National Center for Food and Agricultural Policy.

Produsen merekayasa genetika jagung dan kedelai supaya tanaman tahan terhadap herbisida glifosat, yakni zat yang dipakai untuk membasmi gulma.

4. Biji Jarak

Biji jarak merupakan tanaman yang mempunyai segudang manfaat. Minyaknya dapat digunakan untuk banyak kebutuhan.

Minyak biji jarak dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pembuatan pelumas dan shampo. Namun, dalam biji jarak terdapat racun yang sangat mematikan.

Racun tersebut disebut risin dan tidak mempunyai penawar. Hal inilah yang menyebabkan tanaman jarak tidak banyak ditanam.

Rekayasa genetika tanaman jarak pertama kali dilakukan oleh dua peneliti di U.S. Department of Agriculture.

Tujuan dilakukan penelitian ini adalah agar produksi risin dan alergen intens yang dihasilkan tanaman jarak dapat terhalangi.

Selain itu, para peneliti di U.S. Department of Agriculture merekayasa genetika dari tanaman jarak ini agar menghasilkan epoksi minyak sebagai pengganti pelarut beracun yang terdapat dalam cat.

5. Singkong BioCassava Plus

Jutaan orang di seluruh dunia ini sangat membutuhkan bahan pangan dari umbi-umbian. Terutama pada negara berkembang seperti Indonesia, Afrika dan Amerika Latin. Akan tetapi, ternyata makanan utama ini mempunyai nilai gizi yang cukup rendah.

Beberapa ilmuwan yang dipimpin oleh Profesor Richard Sayre dari Ohio State University dan dibiayai oleh Bill and Melinda Gates Foundation, melakukan penelitian terhadap BioCassava Plus.

Upaya yang dilakukan para peneliti adalah mengembangkan jenis singkong yang lebih banyak mengandung vitamin, mineral, protein dan tahan terhadap virus.

Kenya merupakan negara tempat penelitian jenis singkong ini diuji. Hasilnya, BioCassava Plus dapat menangani masalah defisiensi vitamin A pada anak-anak di negara tersebut.

Pada dasarnya, rekayasa genetika tanaman akan merubah bahkan menghilangkan sifat alami dari tanaman tersebut. (R10/HR-Online)